*Merupakan slide catatan langsung dari Dosen digunakan sebagai catatan dan pembelajaran mata Kuliah Azaz-Azaz Manajemen. Semoga Bermanfaat :)
Laman
PENGERTIAN MANAJEMEN
*Merupakan slide catatan langsung dari Dosen digunakan sebagai catatan dan pembelajaran mata Kuliah Azaz-Azaz Manajemen. Semoga Bermanfaat :)
PENDEKATAN NEOKLASIK
1.
MUNCULNYA
ALIRAN NEOKLASIK
Aliran Neoklasik secara sederhana dibedakan atas dua
generasi, yaitu generasi pertama dan generasi kedua. Pakar-pakar ekonomi
Neoklasik generasi pertama banyak memperbaiki teori-teori ekonomi klasik,
tetapi umumnya mereka masih percaya bahwa dipasar berlaku prinsip pasar
persaingan sempurna dan bahwa perekonomian selalu menuju pada keseimbangan.
Sedangkan kelompok generasi kedua, memiliki pandangan tersendiri tentang pasar.
Mereka umumnya menolak pandangan prinsip pasar persaingan sempurna yang
dikembangkan oleh Adam Smith, sebab dalam kehidupan nyata mereka menyaksikan
banyak asumsi-asumsi kaum klasik yang terlanggar karena banyak factor yang
menyebabkan pasar tidak beroperasi sempurna.
a. Neoklasik
Generasi Pertama
Kelompok ekonomi
Neoklasik generasi pertama bisa dibedakan lagi
atas dua kelompok, yaitu:
1)
Kelompok
ekonomi Austria (The Classical Liberal
Perspectives)
2)
Kelompok
ekonomi Cambridge ( The Modern Liberal
Perspective)
Kelompok pertama
disebut kelompok Ekonomi Austria
karena hampir semua pendukungnya seperti Carl Manger, Friedlich von Wieser, dan
Eugen von Bohm Bawer berasal dari Austria. Pakar-pakar Neoklasik yang tergabung
dalam kelompok ekonomi Austria ini sangat berjasa mengembangkan teknik-teknik
matematika, terutama kalkulus. Dari tangan merekalah lahir konsep-konsep
marginal utility, marginal revenue, the
law of diminishing return, dan sebagainya yang sarat dengan
hitungan-hitungan matematis. Sejak munculnya teori “marginal revolution” yang dikembangkan oleh pakar-pakar Neoklasik
dari mazhab Austria tersebut, pembahasan ekonomi lebih bersifat mikro. Karena
ilmu ekonomi ditangan pakar-pakar Neoklasik mengalami perkembangan yang pesat
melebihi perkembangan legislasi, hal ini memeksa diceraikannya politik dari
ilmu yang semula disebut ekonomi politik. Lebih tepat, oleh pakar-pakar ekonomi
Neoklasik istilah “political”
dihilangkan dari “political economy”,
dan yang tinggal hanya “ilmu ekonomi” (
“economics”) sebagai suatu disiplin ilmu yang mandiri.
Ilmu ekonomi
mengalami perkembangan yang sangat pesat ditangan pakar-pakar Neoklasik
generasi pertama dari Austria ini, dan dari segi analisis juga terdapat
perbedaan yang sangat tajam antara aliran ekonimi Liberal Klasik dengan aliran
Neoklasik. Kalau ekonomi Liberal Klasik banyak menggunakan istilah-istilah
normatif seperti nilai, kesejahteraan dan utilitas berdasarkan asumsi
berlakunya hukum alami, pakar-pakar ekonomi Neoklasik menjadikan ekonomi
sebagai “ilmu murni” yang sarat dengan perhitugan-perhitungan matematika dan
“ilmu positif”, yang menghindari value
judgements, public advocacy, dan faktor-faktor nonekonomi lainnya dalam
analisis.
Adapun kelompok
kedua digolongkan didalam Ekonomi
Cambridge karena para pendirinya seperti Alfred Marshall dan kebanyakan
pendukungnya kebanyakan berasal dari university of Cambridge.
Walaupun Marshall
memiliki peran besar dalam perkembangan ilmu ekonomi, pendekatan yang digunakan
Marshall sedikit berbeda dari pendekatan pakar-pakar ekonomi lain. Perbedaan
yang mencolok antara Marshall dengan ekonomi-ekonomi lain dari mazhab Austria
yang pada umumnya “tegar” ialah Marshall lebih memperhatikan nasib kaum papa.
Bagi Marshall, ilmu ekonomi politik adalah sarana untuk memperbaiki
kesejahteraan masyarakat dan bahkan juga sebagai motor untuk mengungkap
kebenaran (an engine for the discovery of
truth) dengan mengatasi kemiskinan dan kemelaratan.
b. Neoklasik
Generasi Kedua
Pada tahun 30-an,
muncul pakar-pakar ekonomi Neoklasik generasi kedua, di antaranya Piero Srafa,
Joan Violet Robinson, dan Edward Chamberlin. Kalau pakar-pakar ekonomi Klasik
mengansumsikan pasar persaingan sempurna, pakar-pakar ekonomi Neoklasik
generasi kedua justru mengansumsikan pasar persaingan tidak sempurna, bisa
berbentuk kompetisi monopoli, oligopoly, atau monopoli. Ketidaksempunaan pasar
timbul karena asumsi-asumsi pasar persaingan sempurna seperti banyak pembeli
dan penjual, produk homogen, perusahaan bebas keluar masuk pasar, informasi
sempurna, dan sebagainya terlanggar. Kalau ada asumsi-asumsi pasar persaingan
sempurna yang terlanggar, berarti pasar tidak lagi beroperasi dalam pasar
persaingan sempurna, melainkan dalam pasar persaingan tidak sempurna.
Perbedaan dalam
cara pandang tentang pasar inilah yang membedakan ekonomi Neoklasik dengan
ekonomi Klasik. Dalam model pasar persaingan sempurna, jumlah pembeli dan
penjual banyak, dan masing-masing pelaku ekonomi, baik konsumen maupun produsen
atau perusahaan tidak mempunyai daya untuk mempengaruhi harga-harga yang
terbentuk dipasar. Namun, dalam pasar persaingan tidak sempurna jumlah penjual
terbesr. Apalagi dalam pasar monopoli, hanya terdapat satu perusahaan yang
menguasai seluruk permintaan konsumen. Makin sedikit jumlah perusahaan, makin
tinggi kapasitas untuk memeperoleh keuntungan ekonomi dengan mempengaruhi
harga-harga dan output dipasar.
Apa implikasi dari
kenyataan bahwa pasar tidak berperilaku sesuai asumsi pasar persaingan sempurna
tersebut ? Bagi pemikir-pemikir Neoklasik, hal ini membuka peluang bagi
tindakan politik, dimana pemerinta perlu ikut campur “mengoreksi”
ketidaksempurnaan yang terjadi dipasar. Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa
walaupun pakar-pakar ekonomi Neokalasik menganggap perlunya campur tangan
pemerintah, pada awalnya mereka tidak membahas tentang peran redistribusi,
kemiskinan, kesenjangan sosial, pendidikan, kesehatan, atau isu-isu tentang
lingkungan, melainkan hanya berupaya untuk membawa perekonomian kearah ideal
seperti yang mungkin dicapai dalam kondisi pasar yang berfungsi sempurna.
Tegasnya campur tangan pemerintah hanya dalam proses dan keputusan politik
untuk memperbaiki pasar.
Jadi, walau banyak
faktor yang menyebabkan pasar tidak bsa menjalankan fungsinya dengan sempurna,
para pemikir Neoklasik lebih banyak membahas persoalan eksternalitas, barang
public, dan pasar persaingan tidak sempurna secara umum. Soal perlunya campur
tangan untuk mengatasi masalah-masalah sosial lain seperti pemberantasan
kemiskinan, redistribusi pendapatan, mengatasi kesenjangan sosial, memajukan
pendidikan, serta memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat dan sejenisnya sama
sekali tidak dibahas.
Untuk menghadapi
masalah eksternalitas, proses politik dapat digunakan dalam mengoreksi
defisiensi pasar dengan mengupayakan agar biaya-biaya dan penerimaan privat (privat cost and revenues) mendekati
biaya-biaya dan penerimaan sosial (social
cost and revenues). Cara yang dapat ditempuh oleh pemerintah, antara lain
melarang aktivitas yang menimbulkan eksternalitas itu sendiri, atau menetapkan
pajak (untuk aktivitas yang menimbulkan eksternalitas negatif).
Begitu juga untuk
menghadapi masalah barang publik, yaitu barang yang sekali diproduksi tidak
bisa dibatasi pengonsumsiannya pada seseorang atas sekelompok orang tertentu
(seperti jalan, mercusuar), pemerintah terpaksa mengambil alih pengadaannya
sebab pihak swasta tidak tertarik untuk memproduksinya karena orang cenderung
bertindak sebagain “pembonceng” (free-rider).
Tujuan utama
perusahaan adalah laba maksimum. Makin besar keuntungan perusahaan untuk
mempengaruhi harga-harga dan output, makin tinggi laba ekonomi yang dicapai.
Perusahaan akan menggunakan berbagai macam cara untuk memperoleh laba,
seperti berupaya memonopoli sumber bahan
mentah strategis ; menguasai teknologi (produksi, desain, pemasaran), atau
menguasai sumber modal dan financial untuk kelompok sendiri.
c. Focus perhatian
Focus perhatian
perspektif ekonomi politik Neoklasik lebih ditekankan pada perilaku para
penyelenggara negara (state actors) dan
aktor dari kalangan masyarakat (society
actors) baik dalam proses pengambilan keputusan kebijaksanaan public,
maupun implementasi kebijaksanaan itu sendiri. Menurut Grindle (1989),
teori-teori ekonomi politik Neoklasik dapat dibedakan menjadi dua kelompok:
1. Pendekatan
Terpusat ke Masyarakat
Model analisis ini terpusat ke
masyarakat yang lebih focus pada penggunaan pasar-pasar politik oleh agen-agen
ekonomi.salah satu diantaranya yang paling popular adalah model masyarakat
pemburu rente (rent seeking society model).
Yang menjadi basis ataupun objek utama analisis adalah individu pribadi.
Individu diasumsikan sebagai makhluk rasional yang berusaha memaksimumkan
berbagai sumber daya guna menghimpun kekayaan.
Konsekuensi dari model ini
ialah bahwa sulit membatasi individu memanfaatkan interaksi ekonomi untuk
mencapai kepentingan pribadi, bahkan sulit juga membatasi individu memanfaatkan
pemerintah guna meningkatkan atau melindungi kepentingan pribadi mereka.
Dalam model ini, politik
dilihat sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan pribadi. Bisa dilakukan
melalui pemberian suara pada pemilu maupun berbagai lobi untuk mencapai
tujuannya tersebut. Tetapi, konsep lobi oleh kelompok kepentingan tidak mungkin
diperoleh melalui mekanisme pasar. Konsekuensinya, makin banyak lobi dilakukan,
makin tinggi campur tangan pemerintah dalam pembangunan ekonomi.
Melalui model ini,
sumber-sumber ekonomi hanya dimiliki dan dinikmati oleh pelaku-pelaku ekonomi
yang dekat dengan kekuasaan. Karena, kepentingan ekonomi dan kepentingan
politik telah menyatu dalam format kolusi ekonomi, di mana kekuasaan menjadi
medium yang subur sebagai alat “bagi-bagi rejeki” oleh segelintir orang.
Dari uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa dalam model masyarakat pemburu rente karakteristik utama
kehidupan politik adalah persaingan antar kelompok kepentingan untuk
mendapatkan akses terhadap perolehan keuntungan dan sumber daya yang dikuasai
dan dialokasikan oleh pemerintah.
- Pendekatan
Terpusat ke Negara
Pendekatan terpusat ke negara
dilandaskan pada asumsi bahwa negara punya agenda sendiri dalam hubungannya
dengan masyarakat.dalam analisi ekonomi politik Neoklasik, ekonomi tidak
beroperasi secara bebas dalam ruang hampa, tetapi ada keseimbangan antara pasar
dan negara, dimana negara ikut menetukan bagaimana ekonomi beroperasi. Artinya,
dalam perspektif ini, negara berperan lebih aktif.
Negara
punya kemampuan untuk mengejar dan menentukan agenda yang tidak ditentukan oleh
kepentingan privat. Ini yang disebut otonomi negara, yaitu adanya kemampuan
negara untuk bertindak bebas dan tidak ditentukan atau dipengaruhi oleh
kekuatan-kekuatan sosial lainnya.
Konsep
otonomi negara berarti bahwa negara bisa bertindak independent dengan tidak
ditentukan atau dipengaruhi unsur lain. Sehubung dengan otonomi negara ini,
terdapat tiga pandangan yaitu:
a.
Bahwa
negara berhasil menghadapi tekanan dari masyarakat dan mentranslasikan
keinginan sendiri ke dalam kebijakan public.
- Bahwa tindalan negara tidak
didikte atau dikontrol oleh kelompok manapun.
- Bahwa negara memiliki kapasitas
untuk menolak tekanan dari pihak luar.
Dalam pendekatan ini, focus perhatian dititikberatkan
pada mekanisme penyelenggaraan negara. Adapun yang menjadi objek analisis
adalah para politikus, birokrat, dan negara itu sendiri. Sesuai objek tersebut
maka ada tiga jenis model analisis, yaitu:
a.
Power
Seeking Politicians
Perlu dijelaskan
bahwa semua konsep tentang kekuasaan ada hubungannya dengan tujuan dan
kepentingan.Jika kepentingan bisa dilihat secara jelas oleh agen (artinya si
agen atau politikus tadi secara sadar menegejar kepentingannya),maka ia disebut
keinginan (wants),kesukaan atau preferensi (preference) atau tujuan (interest).
Selain dalam
neara,kekuasaan juga bisa muncul dalam perusahaan,di antara perusahaan,dalam
rumah tangga,di sekolah atau dalam kelompok-kelompok keagamaan.Bedanya,penggunaan
kekuasaan oleh selain Negara adalah untuk mengejar kepentingan privat,sedangkan
penggunaan kekuasaan oleh Negara adalah untuk kepentingan public.Penggunaan
kekuasaan oleh selain Negara tidak mesti (secara langsung) melibatkan perjuangan
politik atas instrument-instrumen dalam institusi-institusi kekuasaan
(pemerintah).
Penggunaan
kekuasaan untuk mencapai yang diinginkan,mungkin ada resistensi atau
perlawanan,baik dari alam,orang-orang atau dai institusi-institusi
social.Bahkan secara psikologis mungkin juga ada resistensi dari diri
sendiri.Elemen resistensi ini sangat penting dalam mendefinisikan
kekuasaan.Dalam economy dan society (1978),Max Weber mendefinisikan kekuasaan
sebagai: “The Probability that an actor in a social relationship will be in a
position to carry out his own will despite resistance,regardless of the basis
on which this probability rests”.Bagaimanapun,seorang politikus bisa saja
memanipulasi kekuasaan untuk menyingkirkan resistensi atau perlawanan dari
pihak lain.
Kekuasaan bisa
diinterprestasikan sebagai kemampuan untuk memperoleh keinginan.Untuk
memperoleh keinginan,harus dilakukan sesuatu untuk mempengaruhi,dan dengan
demikian juga,mengubah keadaan.Rayuan (persuation) dan bujukan (inducement)
juga dapat dikualifikasikan sebagai kekuasaan.
Menurut Caporaso
dan Levine (1993),ada tiga jenis kekuasaan,yaitu kekuasaan untuk menjamin
pencapaian hasil atas alam melalui pengembangan energy fisik atau teknologi
canggih agar lebih cepat/efisien dalam mencapai tujuan;kekuasaan atas orang
lain,yang bisa dilakukan dengan menaikan insentif (membujuk) atau dengan
mengancam;kekuasaan bersama-sama dengan orang lain.
Orang sering tidak
berhasil mencapai keinginannya jika ia bekerja secara sendiri-sendiri.Untuk itu
ia mungkin perlu melakukan kerja sama atau kolaborasi dengan pihak
lain.Kolaborasi mungkin sifatnya sementara atau bisa dilembagakan.Tanpa
kehadiran institusi bisa menyebabkan terhalangnya pencapaian tujuan.Dalam hal
ini kemampuan untuk membentuk institusi yang lebih berdaya untuk mencapai apa
yang diinginkan inilah yang tergolong ke dalam komponen kekuasaan dengan orang
yang lainnya.
Dalam model
analisis Power Seeking Politicians,diasumsikan bahwa para politikus adalah
makhluk rasional yang memperhitungkan laba rugi dalam setiap keputusan atau
kebijakan yang diambilnya.Kepentingan utama para politikus pada umumnya adalah
untuk mempertahankan,dan kalau dapat meningkatkan kekuasaan yang ada di
tangannya.Untuk memperoleh kekuasaan,biasanya para politikus menggunakan sumber
daya milik pemerintah yang ada dalam kekuasaannya untuk “dihadiahkan” kepada
para pendukungnya,dan menghukum mereka yang mengganggu dan menginginkan ia
turun dari kursi kekuasaannya.
Maka politikus
pada umumnya kurang reaktif terhadap tekanan kelompok kepentingan dan
sebaliknya lebih aktif berusaha memaksimumkan kesempatannya untuk tetap
memegang kekuasaan dengan menggabung koalisi-koalisi pendukung dan menggunakan
sumber daya milik public untuk “membeli” dukungan.
b.
Rent
Seeking Bureaucrats
Model terpusat ke Negara
berikutnya adalah model birokrat pemburu rente (Rent Seeking Bureucrates),yang
focus perhatiannya adalah perilaku para birokrat dalam kapasitasnya sebagai
perangkat pelaksana administrasi Negara.Seperti yang sudah disinggung waktu
menjelaskan teori perilaku birokrat,para birokrat adalah manusia biasa yang
memiliki emosi dan tata nilai serta mempunyai seperangkat tujuan pribadi yang
tidak selamanya sesuai dengan tujuan birokrasi (organisasi).Ini berarti bahwa
campur tangan pemerintah tidak selamanya didorong untuk melayani kepentingan
public,tetapi di sana sini bisa saja diarahkan untuk kepentingan
individu,perusahaan atau golongan tertentu.
Menurut Bates
(1994),jika institusi politik relative otonom dari ekonomi,mereka cenderung
akan menciptakan insentif bagi diri mereka sendiri.Ini menjelaskan mengapa
politikus yang rasional lebih menyukai kebijakan-kebijakan yang mendistorsi
pasar.Jika pemerintah mampu menggeser harga-harga menjauh dari posisi harga
keseimbangan,maka aka nada kesenjangan antara permintaan dengan penawaran,dan
dalam situasi seperti ini pejabat yang mempunyai wewenang mengontrol pasar bisa
“bermain” untuk memperoleh kepentingannya sendiri.
Selain untuk
mengejar kepentingan pribadi,campur tangan pemerintah di pasar juga dapat
digunakan untuk menciptakan kemampuan untuk membentuk jaringan patron-klien
atau menciptakan apa yang disebut “political machine”.Lewat control
pasar,pejabat pemerintah dapat mengorganisir kelompok-kelompok pendukung
fanatic yang memiliki komoditas-komoditas berharga yang sekarang menjadi langka
karena kebijakan pemerintah.Inilah sebabnya mengapa politikus lebih memilih
strategi intervensi pasar ketimbang memilih strategi pasar bebas.Walau
masyarakat lebih sejahtera dalam pasar bebas,tetapi potensi ini terhalang karena
tidak banyak tuntutan politik agar pemerintah enyah dari pasar.
Dalam ekonomi
politik neoklasik,individu-individu termasuk politikus diasumsikan
rasional.Melalui asumsi ini,kita juga bisa menjelaskan mengapa politikus tidak
mendukung strategi ekonomi pasar bebas.Permasalahanya,kebanyakan politikus yang
rasional cenderung enggan menghadapi resiko.Apalagi karena gaji mereka pada
umumnya rendah maka mereka lebih menyukai adanya “penghasilan sampingan” yang
lebih pasti dari pasar yang diregulasi dibandingkan penghasilan yang mungkin
lebih besar namun kurang pasti jika pasar dideregulasi.Jadi,walaupun para
pejabat itu menyadari bahwa kondisi mereka akan lebih baik di bawah sistem
pasar bebas,tetapi rasionalitas jangka pendek mereka akan mendorong untuk tidak
memaksa pemerintah keluar dari pasar.Karena pasar bebas adalah semacam
barang-barang public,tiap politikus yang rasional lebih memilih sebagai
pembonceng gratis dan membiarkan orang lain yang menanggung biaya-biaya
tindakan politisi,sementara ia sendiri tetap bisa menikmati keuntungan ekonomi
jangka pendek untuk diri sendiri (Bates,1994).
Secara umum,bentuk
kepentingan pribadi birokrat adalah akumulasi keuntungan ekonomi jangka
pendek,walau dalam banyak kasus birokrat juga berkepentingan mempertahankan dan
meningkatkan jabatan,atau tujuan-tujuan lainnya.Birokrat akan memanfaatkan
sumber daya (berupa kebijaksanaan) untuk memkasimumkan kepentingan pribadi baik
dengan “menjual” kebijaksanaan tersebut pada penawar dengan harga
tertinggi,atau menagalokasikan sumber daya tersebut pada pihak-pihak yang
disukainya.Jadi,apa yang kita kenal dengan istilah KKN (Korupsi kolusi dan
Nepotisme) dapat dipahami sebagai hasil dari pasar nonekonomi yang berfungsi
lewat alokasi sumber daya birokratis.
Model birokrat
pemburu rente ini sudah biasa diterapkan oleh para birokrat dalam berbagai
kebijakan public di tanah air.Di tingkat pusat,penggunaan model birokrat
pemburu rente ini sangat menonjol digunakan pada tahun-tahun terakhir
pemerintahan soeharto.Orang banyak yang bingung apakah berbagai kebijakan yang
dilakukannya bersifat politis atau dilatabelakangi oleh motif untuk mengeruk
keuntungan pribadi,anak dan keluarganya.
c.
Predatory
State
Varian ketiga dari
pendekatan terpusat ke Negara adalah model analisis Negara pemangsa (predatory
state).Yang menjadi focus perhatian dalam analisis pendekatan Negara pemangsa
ini adalah Negara itu sendiri.Jelasnya,dalam model analisis ini Negara dianggap
sebagai actor rasional yang berusaha memaksimumkan penerimaan jangka pendek.
Dalam upaya memaksimumkan
penerimaan Negara jangka pendek,Negara akan mencari bentuk-bentuk kebijaksanaan
perpajakan yang akan meningkatkan penerimaan Negara.Selain itu,Negara juga
dapat mengenakan bea ekspor-impor,mendevaluasi nilai tukar uang dalam
negeri,bahkan juga mempertahankan birokrasi yang tidak efisien.Pendeknya,segala
macam cara akan dilakukan untuk meningkatkan penerimaan Negara dalam jangka
pendek,walau hal ini dapat merugikan pembangunan ekonomi secara keseluruhan
dalam jangka panjang.Seperti yang diungkapkan oleh Killick (1988),Negara
predator yang bertindak rasional untuk mempertahankan kekuasaannya mau
menjalankan strategi-strategi pembangunan yang secara ekonomi sebetulnya adalah
tidak rasional.
- RUJUKNYA KEMBALI
EKONOMI DENGAN POLITIK
Di dalam
pendekatan neoklasik, pakar- pakar ekonomi politik menganggap bahwa ekonomi
sebagai suatu sistem yang terpisah dari politik. Meskipun begitu mereka percaya
pada realitas dan fenomena kolektif. Perspektif ekonomi politik neoklasik
justru lebih menekankan pada peran pemerintah untuk mengoreksi berbagai
kegagalan pasar. Sedangkan, peran politik negara dalam ekonomi politik
Neoklasik justru diperlukan untuk mengantisipasi penggunaan kekuasaan yang
terlalu besar di tangan perusahaan terutama dalam pasar monopoli, maupun
penggunaan kekuasaan oleh aparat dan birokrat dalam menjalankan pemerintahan.
Campur tangan
pemerintah diharapkan dapat menyelesaikan beberapa masalah yang tidak bisa
diatasi oleh pasar. Akan tetapi, kenyataannya campur tangan pemerintah ini
justru menimbulkan persoalan baru sebab, dalam melakukan aktivitasnya, para
penyelenggara negara ternyata punya kepentingan masing – masing. Hal ini
terlihat bahwa dalam menjalankan tugasnya, para penyelenggara negara melakukan
hitung – hitungan untung rugi. Jika sebelumnya pakar ekonomi Neoklasik generasi
pertama berhasil mengembangkan kalkulus
untuk memaksimumkan kesejahteraan pelaku ekonomi, maka pakar ekonomi politik
Neoklasik justru menyaksikan penerapan “kalkulus” dalam politik.
Ternyata, cerai dan
rujuknya ilmu ekonomi dengan ilmu politik ada kaitannya dengan kalkulus. Dalam
literatur perkembangan pemikiran – pemikiran ekonomi, kemajuan ilmu ekonomi
tersebut, justru berkat bantuan kalkulus yang telah membuat ilmu ekonomi dan
politik bercerai, dan memunculkan ilmu ekonomi sebagai disiplin ilmu yang
mandiri. Sebaliknya, dalam literatur ekonomi politik , “penerapan” kalkulus
dalam politik justru membuktikan bahwa ilmu ekonomi dan ilmu politik kembali
bersatu.
*Digunakan sebagai catatan mata Kuliah Ekonomi Politik
PEMIKIRAN KARL MARX - TEORI PERJUANGAN KELAS
Karl Marx
merupakan salah satu tokoh filsafat barat modern yang berpengaruh. Pemikiran
filosofinya digunakan sebagai ideologi di beberapa negara Eropa,
Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Karl Marx, pelopor utama gagasan
sosialisme ilmiah ini dilahirkan tahun 1818 di kota Trier Jerman, ayahnya
seorang ahl hukum. Karl Marx menempuh kuliahnya di
Universitas Bonn
dengan mengikuti jejak ayahnya yakni untuk menjadi seorang ahli dibidang hukum.
Kemudian dia pindah ke universitas Berlin dan kemudian dapat gelar Doktor dalam
ilmu filsafat dari universitas Jena.
Hasil pemikiran Karl Marx tidak terlepas dari
situasi yang terjadi abad 18 dan 19 yaitu perkembangan industri sebagai dampak dari
revolusi industri yang diawali di Inggris. Marx melihat ada kejanggalan
masyarakat yang dijumpainya karena muncul ketidakadilan dan manusia terasing
dari dirinya sendiri. Keterasingan ini sebagai dampak dari hak milik pribadi
atas alat-alat produksi. Hak milik atas alat-alat produksi telah menjadikan
perbedaan kelas antara kelas atas dan kelas bawah. Bentuk stuktur dan hubungan
yang terjadi dalam bidang ekonomi ini dicerminkan dalan struktur kekuasaan
dibidang sosial politik dan ideologi.
Munculnya kelas-kelas sosial dan hak
milik atas alat-alat produksi disebabkan karena usaha manusia untuk mengamankan
dan memperbaiki. Usaha ini dilakukan dengan pembagian kerja yang semakin
spesialis. Masyarakat terbagi menjadi 2 yakni kelas penguasa dan pekerja.
Pembagian yang semakin spesialis inilah
yang akhirnya membuat perbedaan tajam antara hidup seseorang yang berada
dikelas penguasa dan kelas bawah. Oleh karena itu Marx didalam bukunya “The
communist manifesto” berusaha mengubah paham kapitalis menjadi komunis. Namun hal itu
tidak semudah merubah keadaan yang pada awalnya menganut paham kapitalis
menjadi sebuah keadaan tanpa hak atas milik pribadi.
Karl Marx bukanlah ilmuan politik pertama yang melakukan kajian
intensif tentang konsep kelas-kelas sosial. Bertahun-tahun sebelum mereka sejarawan
borjuasi telah melakukan kajian tentang konsep itu. Mereka mempelajarinya dalam
konteks anatomi perjuangan kelas dan tahap-tahap perkembangan
kapitalisme dalam masyarakat industri di Eropa, diantara yang terkemuka adalah
Robert Owen. Owen mendalami konsep kelas-kelas sosial dan perjuangan kelas dan
menjadikannya sebagai tema sentral berbagai penelitian sosialnya. Itu diakui
oleh Marx sendiri. Marx mengatakan bahwa ia tidak memiliki kelebihan apapun
dengan keberhasilannya menemukan konsep-konsep tentang kelas sosial dan
pertarungan antarkelas dalam masyarakat modern.
Di Barat, pemikiran Marx berkembang menjadi suatu aliran baru yang dinamakan ’New Left’ (kiri baru). Para penganutnya adalah kaum intelektual yang bergerak aktif di kampus-kampus terkemuka Eropa dan Amerika. Dalam tulisan ini penulis mencoba menguraikan beberapa segi penting teori perjuangan kelas Marx seperti yang ditulis mereka dalam beberapa karyanya, di antaranya, The Manifesto of Communist Party dan The Eighteen Brumaire of Bonaparte.
MANIFESTO OF COMMUNIST PARTY
Konsep perjuangan kelas Marx dapat dengan mudah ditelusuri dalam karyanya, ditulis bersama Engels, "Manifesto Partai Komunis". Untuk waktu yang cukup lama tulisan Marx dan Engels ini memperoleh popularitas luar biasa sejak pertama kali diterbitkan. Bagi kaum Marxis fanatik, tulisan ini telah manjadi kitab suci disamping karya Marx yang lain, The Capital.
Pemikiran perjuangan kelas Marx dan Engels pada halaman pertama buku itu. Rumusannya sederhana:
”sejarah dari semua masyarakat yang ada sampai saat ini merupakan cerita dari perjuangan kelas. Kebebasan dan perbudakan, bangsawan dan kampungan, tuan dan pelayan, kepala sesrikat kerja dan para tukang, dengan kata lain, penekan dan yang ditekan, berada pada selalu posisi yang bertentangan satu asm lainnya, dan berlangsung tanpa terputus.”
Dari kalimat itu tersirat beberapa pemikiran penting Marx dan Engels. Pertama, bahwa gagasan sentral dan yang ada dibalik pernyataan itu adalah fakta bahwa sejarah umat manusia diwarnai oleh perjuangan atau pertarungan diantara kelompok-kelompok manusia. Dan dalam bentuknya yang transparan, perjuangan itu berbentuk perjuangan kelas. Menurut Marx bersifat permanen dan merupakan bagian inheren dalam kehidupan sosial.
Kedua, pernyataan ini juga mengandung preposisi bahwa dalam sejarah perkembangan masyarakat selalu terdapat polarisasi. Suatu kelas selalu berada dalam posisi bertentangan dengan kelas-kelas lainnya. Dan kelas yang saling bertentangan ialah kaum penindas dan kaum yang tertindas. Marx berpendapat bahwa dalam proses perkembangannya, masyarakat akan mengalami perpecahan dan kemudian akan terbentuk dua blok kelas yang saling bertarung, kelas borjuasi kapitalis dan kelas proletariat.
Hubungan eksploitatif antara kedua kelas itu menurut Marx akan menciptakan antagonisme kelas yang pada akhirnya akan melahirkan krisis revolusioner. Bila situasi sudah demikian, maka kelas pekerja melalui proses sosial tertentu akan menjadi kelas yang revolusioner. Mereka menjadi kelas yang menghendaki perubahan struktural, mengambil alih kekuasaan dengan paksa dan melakukan perubahan struktur sosial secara revolusioner.
Marx berharap kelas pekerja menjadi kelas penguasa bila berhasil merebut kekuasaan dari kaum borjuasi kapitalis dan memusatkan semua alat-alat produksi di tangan kelas pekerja. Akhir kaum pekerja menentang kelas kapitalis adalah terciptanya masyarakat tanpa kelas. Masyarakat tanpa kelas, menurut Marx, ditandai oleh lenyapnya perbedaan-perbedaan kelas dan produksi dikuasai oleh bangsa serta kekuasaan negara akan kehilangan karakter politiknya. Maksudnya, sistem kekuasaan itu tidak lagi bersifat opresif dan menindas masyarakat.
Di Barat, pemikiran Marx berkembang menjadi suatu aliran baru yang dinamakan ’New Left’ (kiri baru). Para penganutnya adalah kaum intelektual yang bergerak aktif di kampus-kampus terkemuka Eropa dan Amerika. Dalam tulisan ini penulis mencoba menguraikan beberapa segi penting teori perjuangan kelas Marx seperti yang ditulis mereka dalam beberapa karyanya, di antaranya, The Manifesto of Communist Party dan The Eighteen Brumaire of Bonaparte.
MANIFESTO OF COMMUNIST PARTY
Konsep perjuangan kelas Marx dapat dengan mudah ditelusuri dalam karyanya, ditulis bersama Engels, "Manifesto Partai Komunis". Untuk waktu yang cukup lama tulisan Marx dan Engels ini memperoleh popularitas luar biasa sejak pertama kali diterbitkan. Bagi kaum Marxis fanatik, tulisan ini telah manjadi kitab suci disamping karya Marx yang lain, The Capital.
Pemikiran perjuangan kelas Marx dan Engels pada halaman pertama buku itu. Rumusannya sederhana:
”sejarah dari semua masyarakat yang ada sampai saat ini merupakan cerita dari perjuangan kelas. Kebebasan dan perbudakan, bangsawan dan kampungan, tuan dan pelayan, kepala sesrikat kerja dan para tukang, dengan kata lain, penekan dan yang ditekan, berada pada selalu posisi yang bertentangan satu asm lainnya, dan berlangsung tanpa terputus.”
Dari kalimat itu tersirat beberapa pemikiran penting Marx dan Engels. Pertama, bahwa gagasan sentral dan yang ada dibalik pernyataan itu adalah fakta bahwa sejarah umat manusia diwarnai oleh perjuangan atau pertarungan diantara kelompok-kelompok manusia. Dan dalam bentuknya yang transparan, perjuangan itu berbentuk perjuangan kelas. Menurut Marx bersifat permanen dan merupakan bagian inheren dalam kehidupan sosial.
Kedua, pernyataan ini juga mengandung preposisi bahwa dalam sejarah perkembangan masyarakat selalu terdapat polarisasi. Suatu kelas selalu berada dalam posisi bertentangan dengan kelas-kelas lainnya. Dan kelas yang saling bertentangan ialah kaum penindas dan kaum yang tertindas. Marx berpendapat bahwa dalam proses perkembangannya, masyarakat akan mengalami perpecahan dan kemudian akan terbentuk dua blok kelas yang saling bertarung, kelas borjuasi kapitalis dan kelas proletariat.
Hubungan eksploitatif antara kedua kelas itu menurut Marx akan menciptakan antagonisme kelas yang pada akhirnya akan melahirkan krisis revolusioner. Bila situasi sudah demikian, maka kelas pekerja melalui proses sosial tertentu akan menjadi kelas yang revolusioner. Mereka menjadi kelas yang menghendaki perubahan struktural, mengambil alih kekuasaan dengan paksa dan melakukan perubahan struktur sosial secara revolusioner.
Marx berharap kelas pekerja menjadi kelas penguasa bila berhasil merebut kekuasaan dari kaum borjuasi kapitalis dan memusatkan semua alat-alat produksi di tangan kelas pekerja. Akhir kaum pekerja menentang kelas kapitalis adalah terciptanya masyarakat tanpa kelas. Masyarakat tanpa kelas, menurut Marx, ditandai oleh lenyapnya perbedaan-perbedaan kelas dan produksi dikuasai oleh bangsa serta kekuasaan negara akan kehilangan karakter politiknya. Maksudnya, sistem kekuasaan itu tidak lagi bersifat opresif dan menindas masyarakat.
Pemikiran Karl Marx mengenai teori perjuangan kelas dalam
buku nya Manifesto of The Communist Party menjadikan para sejarawan Marxis dan
non-Marxis mengakui beberapa pemikiran Marx di dalam buku itu. Di antaranya
yaitu:
1. Keberadaan
kelas tak terpisahkan dari fase sejarah tertentu dari perkembangan produksi kapitalis.
2. Bahwa perjuangan kelas jelas
mengarah pada diktator kaum proletariat.
3. Bahwa kediktatoran itu sendiri
hanyalah transisi menuju penghapusan seluruh kelas-kelas sosial dan pada
akhirnya menuju pada terbentuknya masyarakat tanpa kelas.
THE EIGHTEEN BRUMAIRE OF LOUIS BONAPARTE
Marx menulis The Eighteen Brumaire Of Louis Bonaparte sendiri tanpa Engels. Meskipun diakuinya secara tidak langsung sangat mempengaruhi gagasan-gagasan yang terdapat dalam buku itu. Berbeda dengan Manifesto dimana Marx tidak melakukan pengujian atas teori perjuangan kelas, dalam The Eighteen Brumaire Of Louis Bonaparte Marx justru melakukan pengujian teoritis secara sungguh-sungguh. Ia mencoba menilai sejauh mana teorinya mengenai perjuangan kelas dan revolusi proletariat cocok dengan realitas historis spesifik, yaitu kasus kudeta Napoleon III. Dari kegagalan kudeta Napoleon III itu Marx memiliki kesempatan untuk melakukan pengujian teori pejuangan kelasnya, melihat apakah teorinya tentang konflik permanen antara borjuasi dan proletariat terjadi sesuai dengan apa yang di teorikannya serta melakukan penilaian terhadap hasil penelitian ilmuan lainnya seperti Proudhon dan Victor Hugo.
THE EIGHTEEN BRUMAIRE OF LOUIS BONAPARTE
Marx menulis The Eighteen Brumaire Of Louis Bonaparte sendiri tanpa Engels. Meskipun diakuinya secara tidak langsung sangat mempengaruhi gagasan-gagasan yang terdapat dalam buku itu. Berbeda dengan Manifesto dimana Marx tidak melakukan pengujian atas teori perjuangan kelas, dalam The Eighteen Brumaire Of Louis Bonaparte Marx justru melakukan pengujian teoritis secara sungguh-sungguh. Ia mencoba menilai sejauh mana teorinya mengenai perjuangan kelas dan revolusi proletariat cocok dengan realitas historis spesifik, yaitu kasus kudeta Napoleon III. Dari kegagalan kudeta Napoleon III itu Marx memiliki kesempatan untuk melakukan pengujian teori pejuangan kelasnya, melihat apakah teorinya tentang konflik permanen antara borjuasi dan proletariat terjadi sesuai dengan apa yang di teorikannya serta melakukan penilaian terhadap hasil penelitian ilmuan lainnya seperti Proudhon dan Victor Hugo.
Engels menjelaskan motivasi yang membuat Marx tertarik
melakukan kajian itu. Menurutnya, Perancis adalah suatu negara lebih dari
negara manapun di dunia ini yang mengalami perjuangan historis yang sangat
menentukan bagi kelangsungan keberadaan kelas proletarian. Di negara inilah
perjuangan hidup dan mati kaum proletar melawan borjuasi kapitalis dalam
bentuknya yang paling akut, ironis dan tragis, suatu bentuk pertarungan sejarah
yang tidak terjadi di negara manapun. Penting diketahui bahwa kasus kegagalan
kudeta Napoleon III ini juga telah di kaji oleh Victor Hugo dan Proudhon.
Tetapi Marx tidak setuju dengan kajian mereka. Menurutnya, Hugo menyajikan
peristiwa bersejarah itu sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan individu,
jadi peristiwa itu terjadi karena peranan tunggal seorang tokoh sejarah, hal
ini mengisyaratkan bahwa sejarah di tentukan oleh orang-orang besar. Hal inilah
yang membuat Marx menolak pendekatan teoritis Hugo dan menyatakan bahwa proses
sejarah seperti perjuangan kelas, kudeta, dan revolusi sosial.
MENGAPA REVOLUSI ITU GAGAL?
Suatu revolusi sudah pasti memliki aktor-aktornya. Dalam revolusi 1848-1851 yang menjadi pelaku utama adalah kaum borjuasi. Mereka terdiri dari kaum aristrokasi pemilik modal, borjuasi industrial, kelas menengah, angkatan bersenjata, lumpen proletariat, kaum cendekiawan, kaum agama, dan penduduk pedesaan. Mereka berhadapan dengan kaum proletariat terdiri dari para petani, para pekerja kota Paris, dan sejumlah pemimpin sosialis. Inilah kelas-kelas sosial yang menurut Marx merupakan aktor utama revolusi Bonaparte.
Revolusi itu digambarkan melalui tiga fase berikut. Pertama, fase yang berlangsung dari 24 Februari-4 Mei 1848 ketika pemerintahan provinsial Louis Philip maupun monarkinya ditumbangkan melalui gerakan pemberontakan. Fase ini merupakan prolog revolusi Bonaparte III. Fase kedua, dari Mei 1848 sampai Mei 1849 ketika terjadinya pertemuan kaum konservatif, reaksioner, dan monarkis dalam suatu sidang konstituante, letupan sosial dalam bentuk pertemuan terjadi Juni 1848 ketika dewan itu bertarung melawan pemerintahan provinsial sosialis dan terjadinya pemberontakan kaum proletar dengan para anggota dewan. Fase ketiga, dimulai ketika Lois Bonaparte terpilih sebagai penguasa Prancis Desember 1848 yang kemudian diikuti oleh berakhirnya Dewan konstituante.
Dalam revolusi berdarah itu kaum proletar dikalahkan. Pemberontakan mereka terhadap kekuasaan rezim despotik lama di bulan Juni 1848 mengakibatkan tiga ribu rakyat dibantai secara kejam dan setelah revolusi tidak kurang dari lima belas ribu lainya dibuang tanpa melalui proses pengadilan. Menurut Marx dengan kekalahan ini suatu tahap revolusioner perjuangan proletar surut kebelakang. Kegagalan kelas proletariat menurut Marx disebabkan orang-orang Prancis tidak bisa melepaskan dirinya dari belenggu mimpi buruk yang menakutkan warisan revolusi Perancis 1789.
Kegagalan itu juga karena para pemimpin gerakan proletariat tidak mengetahui bagaimana cara mengeksploitasi situasi-situasi genting sejak Februari sampai Mei 1848 untuk kepentingan gerakan revolusioner. Mereka juga tidak paham apa sebenarnya keinginan dan aspirasi mereka sendiri, apakah yang dicita-citakan itu sebuah revolusi sosial ataukah bentuk pemerintahan yang yang konstitusional. Ketidakjelasan cita-cita dan ketidakmengertian mereka itu membuat arah perjuangan mereka tak terarah. Faktor kepemimpinan gerakan juga merupakan penyebab kegagalan lain revolusi proletar itu. Pada saat-saat genting ternyata tidak terdapat pemimpin yang memimpin gerakan melawan kaum borjuasi. Keadaaan ini diperparah oleh ketidakpahaman massa akan prinsip-prinsip dinamika revolusi dan aksi-aksi revolusioner serta terbatasnya jumlah massa rakyat yang terlibat dalam gerakan revolusi. Dengan kata lain, revolusi proletar itu bukanlah meminjam istilah revolusi massa.
MATERIALISME SEJARAH
Menurut Marx sejarah umat manusia sejak zaman primitif dibentuk oleh faktor-faktor kebendaaan. Awal sejarah manusia dimulai dengan adanya pemilikan pribadi yang kemudian menimbulkan pertarungan memperebutkan materi atau kekayaan ekonomi. Materi atau bendalah yang menjadi faktor konstitutif proses sosial politik historis kemanusiaan. Marx menyangkal argumen Hegel maupun Weber yang melihat faktor non-bendawi, roh, dan gagasan berpengaruh dan menentukan sejarah. Inilah paham materialisme sejarah Marx.
Untuk memahami materialisme sejarah, kita juga perlu memahami bagaimana paham materialisme Marx. Materialisme adalah faham serba benda. Bertitik tolak dari asumsi itu, Marx meyakini bahwa tahap-tahap perkembangan sejarah ditentukan oleh keberadaan material. Bentuk dan kekuatan produksi meterial tidak saja menentukan proses perkembangan dan hubungan-hubungan sosial manusia, serta formasi politik, tetapi juga pembagian kelas-kelas sosial. Marx berpendapat bahwa hubungan-hubungan sosial sangat erat kaitannya dengan kekuatan-kekuatan produksi baru manusia akan mengubah bentuk-bentuk atau cara produksi mereka.
Jadi, materi baik dalam bentuk modal kekuatan-kekuatan maupun alat-alat produksi merupakan basis sedangkan kehidupan sosial, politik, filsafat, agama, seni, dan negara merupakan suprastruktur.
NEGARA, ALAT PENINDASAN?
Mengapa Marx begitu skeptis terhadap negara? Ada beberapa alasan Marx menilai terjadinya eksploitasi kelas borjuis kapitalis terhadap kelas proletar antara lain karena eksistensi negara. Negara ternyata dijadikan alat penindasan itu. Bagi kelas borjuis, negara digunakan semata-mata untuk memperkuat status-quo dan hegemoni ekonomi dan politik mereka. Kelas proletar, karena tidak menguasai alat dan mode produksi, yang merupakan sumber kekuasaan itu, tidak memiliki akses sedikit pun terhadap negara. Mereka tidak merasa memiliki negara dan terealisasi dari lembaga politik itu. Negara, dengan demikian, bagi Marx ibarat ’monster’ menakutkan.
AGAMA: CANDU RAKYAT DAN ALAT PENINDASAN?
’Agama adalah candu untuk rakyat’ ini merupakan kata-kata Marx ketika ia mengemukakan pandanganya tentang agama. Kata-kata itu merupakan kritiknya terhadap agama. Istilah ’candu’ menunjukan sinisme dan antipati Marx yang akut terhadap agama. Candu mengalihkan perhatian rakyat dari kenyataan sejarah dan melarikan diri dari padanya. Tuhan yang diajarkan agama menjadi tempat pelarian manusia, padahal semua persoalan kehidupan manusia harus bertitik tolak dari manusia dan kembali kepada manusia sendiri. Jadi, Tuhan bukan manusia yang menjadi pusat kehidupan. Menurut Marx agama tidak menjadikan manusia menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadi sesuatu yang berada di luar dirinya. Inilah yang menyebabkan manusia dengan agama itu menjadi mahluk yang terasing dari dirinya sendiri. Agama adalah sumber keterasingan manusia.
KESIMPULAN
Karl Marx merupakan salah satu tokoh tentang teori
perjuangan kelas atas kaum borjuis dengan kaum proletariat. Hal ini disebabkan
karena adanya penindasan yang cukup lama dalam segi ekonomi oleh kaum borjuis
yang kapitalis sehingga menguasi alat-alat produksi dan menjadikan kaum
proletariat hanya sebagai buruh atau kaum yang di tindas sebagai pekeja untuk
keberhasilan kaum borjuis. Teori perjuangan kelasnya di tuangkan dalam beberapa
buku di antaranya manifesto of the communist party yang menjelaskan tentang
bagaimana teori perjuangan kelas antara kaum proletariat terhadap kaum borjuis.
Dan buku yang kedua yaitu The Eighteen Brumaire Of Louis Bonaparte yang di dalam
nya berisika tentang pengujian teori perjuangan kelas.
Dalam teori perjuangan kelas nya konsep-konsep yang
mendukung antara lain materialisme sejarah, negara, dan agama yang
masing-masing konsep tersebut di jadikan sebagai alasan dan bukti teori
perjuangan kelas.
Daftar Pustaka
Suhelmi, Ahmad. 2001. Pemikiran Politik Barat. Jakarta.
Gramedia.
I own the night
Susana hening tercipta dalam gelapnya malam. Hanya beberapa bintang dan bulan yang benari memunculkan cahayanya. Yah malam ini tidak terlalu buruk untukku. Masih indah bercahaya dan anggun dengan sinar yang menghiasinya. Sangat indah malam ini. Dihiasi angin yang bertiup sepoi2 menggoyangkan pepohonan ridang yang elok bernari kesana kemari. Suasana yang semula hening, sedikit terpecah dengan lalu lalang orang silih berganti. Sedikit demi sedikit mulai menyibukkan jalan raya. Malam ini adalah malam minggu. Dimana semua orang sangat menanti kehadirannya. Semua orang gembira dimalam ini. Orang2 biasanya berpergian memadati jalan raya. Atau me.... Alasannya karena hari esok merupakan hari libur. Yeah... Orang gemar menghabiskan hari dengan istirahat, berlibur, atau berkumpul dengan sanak keluarga.
Aku pun sangat menikmati malam ini. Duduk diteras depan rumah. Seraya menuliskan keindahannya ditemani dengan laptop kesayanganku. Yah walau aku sendiri, namun aku sangat menikmatinya. Meliat orang yang berlalu lalang kesana kemari seraya tersenyum, bercanda dan tertawa. Aku pun ikut bahagia melihatnya. Bahagia melihat pepohonan yang menari dengan nyanyian angin yang membawa kesejukan tersendiri. Sudah lama rasanya tidak berada ditempat ini. Tepatnya setelah kepergian ibu. Dulu waktu ibu masih ada malam2ku selalu denganya. Diteras depan rumah inilah tempat favoritnya. Aku menikmatinya bersama ibu. Bercanda, bercerita, curhat, bahkan jajan bareng. Hihi. Ibu pun begitu, senang memperhatian orang yang lewat. Melihat mereka tersenyum, gembira riang. Menjadi kebahagian tersendiri untuknya. Yah begitulah... Dan malam ini malam pertama kalinya aku duduk disini lagi setelah kepergiannya.
Hal ini sangat mengingatkanku kepadanya. Kenangan2 itu terekam kembali dalam ingatanku. Sedikit mengikis hati. Menjadi memori yang tersimpan setelah setahun kepergiannya. Tempat ini menjadi saksi kegembiraannya. Suasana tak ada yang berubah. Hanya canda dan tawaku bersamanya yang berubah. kini tak ada lagi. Terngiang kembali dalam kesedihanku. Semua itu telah usang dan tak mungkin lagi kembali. Dan sekarang aku sendiri... Disini.... Ditempat yang menjadi favorit kami. Hanya laptop bisu yang dapat mendenvarkan ceritaku. Lewat tulisan ini. Kini aku sendiri....
Diary 25 mei 2013 at 20:00 WIB
KONFLIK SENGKETA PULAU FALKLAND ANTARA ARGENTINA DAN INGGRIS
Ima Sarah Nabila
113112350750087
KRONOLOGI
Pada tahun 1592 ditemukan oleh Jhon Davis yang merupakan
pelaut Inggris, dinamai Falkland Island. Pulau ini terbagi dua Falkland Barat
dan Timur. Tahun 1764 orang-orang Perancis mendirikan pemukiman di Falkland
timur. Setahun setelah Perancis bermukim di Kepulauan Falkland timur, Inggris yang
merupakan negara pertama yang menemukan Kepulauan Falkland mendirikan benteng
di Port Egmont, Pulau Saunders, Falkland barat tanpa menyadari bahwa orang-orang
prancis berada diFalkland Timur. Jika Inggris menamai pulau ini Falkland, berbeda
dengan Prancis. Pulau ini lebih dikenal sebagai pulauIles Malouines (Kepulauan
Malouine). Nama tersebut berasal dari nama St. Malo, kota tempat orang-orang
Perancis perintis pemukiman memulai pelayarannya. Baik Inggris maupun Perancis sama-sama
tidak menyadari keberadaan pemukiman Kepulauan Falkland karena lokasi
masing-masing pemukiman yang saling berjauhan.
Tahun 1766 Prancis menjual pulau (Falkland Timur) kepada negara
Spanyol. Pada saat itu Spanyol merubah namanya menjadi Pulau Malvinas. Tahun
1766 Spanyol menyadari adanya Inggris di Barat akhirnya mengusir paksa
orang-orang Inggris yang bermukim di Falkland Barat. Karena merasa sudah
membeli pulau itu dari Prancis dan merasa memiliki sepenuhnya pulau tersebut. Inggris
marah dan menyatakan perang pada Spanyol. 1771 Raja spanyol memerintahkan pasukannya
untuk meninggalkan Falkland Barat dan membiarkan Inggris menguasainya. 1776 Inggris
terjadi krisis keuangan karena perang Amerika Serikat. Akhirnya orang Inggris
meninggalkan pulau itu tanpa menyatakan pulau itu bukan milik mereka. Ternyata
Spanyol memanfaatkan keadaan itu dengan menduduki Falkland Barat dan
menghancurkan pemukiman Inggris tahun 1780. Namun Inggris tetap menganggap
pulau itu miliknya, tanpa merespon tindakan Spanyol tersebut.
1816 Argentina merdeka dan meminta daerah jajahan Spanyol di
Amerika Selatan. Dan menyatakan seluruh wilayah Rio de la plata sebagai wilayah
Argentina termasuk Flankland. 1829 Argentina menyerahkan pulau itu kepada
pebisnis Luis Vernet sebagai penguasa Kepulauan Falkland yang mewakili
Argentina. Inggris memprotes tindakan tersebut, namun protes tersebut tidak
mengubah pendirian pihak Argentina. 1832 Argentina mengirimkan rombongan
tentaranya ke Kepulauan Falkland & mendirikan kompleks penjara terpencil.
1833 akhirnya Inggris mulai tegas dengan mengirimkan kapal perang HMS Clio ke
Kepulauan Falkland & mengusir otoritas Argentina. Inggris mulai serius
memperhatikan dan mengembangkan pulau Falkland dan mengangkat Richard Moody
diangkat sebagai gubernur jenderal Kepulauan Falkland & Port Stanley
dijadikan ibukota daerah tersebut.
Sesudah berakhirnya Perang Dunia II di tahun 1945,
daerah-daerah jajahan Inggris di Asia, Afrika, & Karibia secara
beramai-ramai memerdekakan diri. Fenomena tersebut lantas berusaha dimanfaatkan
oleh Argentina untuk mendapatkan kembali Kepulauan Falkland dengan cara
mengangkat isu tersebut dalam sidang PBB. Inggris lantas menawarkan Argentina
untuk menyelesaikan masalah sengketa Kepulauan Falkland di Pengadilan Kriminal
Internasional yang bermarkas di Den Haag, Belanda, namun tawaran tersebut
ditolak oleh pihak Argentina.
Bulan Maret 1982, hal yang selama ini ditakutkan akhirnya
terjadi. Pasukan Argentina menyerbu Kepulauan Falkland sehingga pecahlah Perang
Falkland / Perang Malvinas. Ada pendapat yang menyatakan bahwa tindakan
Argentina untuk menyerang Falkland lebih dilatar belakangi oleh faktor politis
karena tingginya tekanan rakyat Argentina terhadap rezim junta militer pimpinan
Leopoldo Galtieri akibat krisis ekonomi nasional saat itu. Dengan mengangkat
kembali isu Falkland, maka rakyat Argentina akan bersatu di bawah sentimen
nasionalisme & melupakan kebencian mereka terhadap junta untuk sementara
waktu.
Kembali ke medan konflik. Pasukan Argentina hanya
membutuhkan waktu singkat untuk menguasai Kepulauan Falkland karena mereka
memang lebih unggul jumlah & kekuatan militer dibandingkan dengan pasukan
Inggris yang menjaga Kepulauan Falkland. Namun, keunggulan Argentina tidak
bertahan lama setelah pada bulan April, Inggris mengirimkan bala bantuan dari
negaranya untuk menggempur pasukan Argentina di Kepulauan Falkland. Berkat
kegemilangan pasukan Inggris yang memang lebih cerdik & lebih terampil di
medan perang, Argentina dipaksa mengibarkan bendera putih pada bulan Juni 1982
& kekuasaan Inggris atas Kepulauan Falkland pun berhasil dipertahankan.
Sesudah berakhirnya Perang Falkland, Inggris mengeluarkan
kebijakan-kebijakan baru terkait daerah kepulauan tersebut. Jumlah personil
militer Inggris yang ada di Kepulauan Falkland ditambah & pangkalan militer
Mount Pleasant dibangun. Sejak tahun 1983, setiap warga Kepulauan Falkland kini
diakui sebagai warga negara Inggris. Tahun 1985, status politik kepulauan
tersebut diubah dari yang awalnya teritori dependen menjadi teritori seberang
lautan. Dengan perubahan status politik tersebut, Kepulauan Falkland kini
memiliki parlemennya sendiri di mana keanggotaan parlemen setempat ditentukan
lewat pemilu daerah.
Tahun 1990, hubungan diplomatik antara Inggris &
Argentina akhirnya terjalin kembali setelah sebelumnya sempat terputus akibat
Perang Falkland. Kendati demikian, masalah sengketa kedua negara seputar
Kepulauan Falkland masih belum tuntas karena Argentina masih enggan mengakui
daerah kepulauan tersebut sebagai wilayah Inggris. Memasuki bulan Maret 2013,
Inggris memutuskan untuk menggelar referendum di Kepulauan Falkland dengan
hasil lebih dari 99% penduduk Kepulauan Falkland memilih untuk tetap menjadi
bagian dari Inggris. Hasil referendum itu sendiri tidak diakui oleh pihak
Argentina sehingga nampaknya masalah sengketa Kepulauan Falkland tetap tidak
akan selesai dalam waktu dekat.
TEORI
Teori yang digunakan disini adalah MEDIASI dimana maksud
dari mediasi tersebut:
"Mediasi adalah cara non-permusuhan menyelesaikan
situasi sulit. Hal ini digunakan sebagai alternatif, atau tambahan, untuk
proses formal atau hukum.
Mediator tidak memihak. Mereka memfasilitasi dialog terbuka
dan jujur dengan
tujuan untuk mengidentifikasi hasil yang dapat diterima bersama. Kemenangan /
win. Mediasi berbeda karena ini adalah tentang kolaborasi daripada menyalahkan.
Setiap kesepakatan dalam mediasi berasal dari mereka
dipengaruhi oleh situasi, bukan dari mediator. Mediator tidak ada untuk
menilai, untuk mengatakan satu orang yang benar dan yang lain salah, atau
mengatakan mereka yang terlibat apa yang harus mereka lakukan. Mediasi bersifat
sukarela dan rahasia "Liddle, David 2013
ANALISIS CARA PENYELESAIAN KONFLIK
1. Penyelidikan.
Dalam hal ini harus ada penyelidik independen untuk mencari fakta-fakta dalam
sengketa yang pada akhirnya akan menjadi pertimbangan untuk keputusan dalam
penyelesaian sengketa. Ketentuan perbatasan suatu pulau ditentukan dalam UNCLOS.
Perbatasan internasional merupakan faktor penting dalam upaya identifikasi dan
pelestarian kedaulatan nasional. Bahkan negara-negara bertetangga yang
menikmati hubungan yang paling bersahabat pun perlu mengetahui secara persis
lokasi perbatasan mereka guna menegakkan hukum dan peraturan masing-masing
negara. Oleh karena itu, penetapan perbatasan antarnegara secara jelas tidak
hanya dapat mengurangi resiko timbulnya konflik perbatasan di kemudian hari.
2. Negosiasi antara
Inggris dan Argentina secara baik baik. Menurut survey masyarakat kedua belah
negara menginginkan adanya kompromi mengenai masalah Malvinas. Momen ini dapat
dimanfaatkan sehingga terjadi kesepakatan mengenai pulau tersebut. Inggris dan
Argentina saling mengklaim kepulauan yang mengandung cadangan minyak tersebut.
Bagi Argentina, kepulauan yang disebutnya Malvinas itu merupakan bagian tak
terpisahkan dari wilayah kedaulatannya. Sebaliknya Inggris mengklaim bahwa ia
telah menguasainya sejak 1833. Walaupun kedua belah pihak saling bersikukuh
atas sikpanya. Negosiasi ini di harapkan dapat memperkecil permasalahan yang
terjadi dan menentukan siapa yang menjadi pemilik pulau falkland tersebut.
3. Mediasi. Langkah mediasi
menurut saya sangat tepat untuk tahapan penyelesaian sengketa sebelum dibawa ke
Mahkamah Internasional jika gagal, terlebih ada banyak pihak (negara) yang
mendorong dan siap memfasilitasi upaya mediasi kedua negara, antara lain
Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Hillary Clinton menyatakan Amerika Serikat
siap membantu Argentina dan Inggris untuk menyelesaikan sengketa Kepulauan
Falkland. Walaupun ada sisi lain dari alasan Amerika untuk memperoleh sumber
daya dari pulau itu. Yang mempunyai cadangan minyak tersebut. Seorang mediator
harus dipilih yang berada ditengah. Dalam artian tidak memihak posisi manapun,
argentina maupun inggris. Dan tidak mempunyai kepentingan apapun dalam konflik
tersebut. Dengan motivasi hanya ingin
berakhirnya konflik sengketa yang berujung pada perang tersebut. Sehingga akan
terciptanya keadilan bagi kedua belah pihak.
Apabila ketiga tahap
tersebut telah dilaksanakan namun tetap gagal, maka menurut penulis sebaiknya
negara yang bersangkutan mengajukan gugatan ke mahkamah internasional. Untuk
menyelesaikan sengketa kepulauan Malvinas harus berakhir atau final di Mahkamah
Internasional agar tak berselisih dan menjadi dualisme persepsi mengenai
kepemilikan wilayah Falkland.
KESIMPULAN
Argentina mempertahankan pulau yang di anggap bagian dari
wilayahnya dari Inggris. Argentina menyerbu pulau Malvinas dengan alasan bahwa
pulau itu sebagai miliknya. Karena wilayahnya mendekati Maitland, dan Argentina
merasa bahwa pulau itu sebagai warisan dari jajahan Spanyol yang telah gagal
pada tahun 1810 dan menyebabkan pulau Malvinas di kuasai Inggris. Diperkeruh
dengan ikut campurnya Amerika karena pulau Malvinas juga kaya akan sumber daya
alam. Selain untuk melemahkan Argentina, Amerika beraliansi dengan Inggris
untuk mendapatkan eksploitasi sumber daya alam di Argentina. Argentina
mengklaim bahwa AS mengisyaratkan pihaknya tidak akan ikut campur kalau
Argentina mengkalim Kepulauan Malvinas. Oleh sebab itu, adanya bantuan AS ke
Inggris dalam bentuk intelijen dan material dipandang sebagai wujud
pengkhianatan terhadap Argentina.
Sebaiknya kepulauan yang
falkland di bagi dua menjadi Barat dan Timur, karena kedua negara tersebut
sama-sama mengakui kepulauan tersebut milik kedua negara dengan mengatakan
bahwa kepulauan itu sudah lama di kuasai oleh inggris dan argentina mengatakan
bahwa kepulauan itu bagian dari wilayah mereka. Maka seharusnya sesuai awal
pemukiman masing-masing dimana Inggris menempati Falkland Brat dan Argentina
Falkland Timur atau yang disebut pulau Malvinas. Dengan cara ini masing-masing
negara sama-sama mempunyai pulau dikepulauan tersebut, dan dapat saling bermukim.
Hal ini yang menurut saya akan adil bagi kedua belah pihak. Dimana sesuai
dengan penemuan awal dan penempatan awal bagi masing-masing negara.
SUMBER
Internet.... Lupa Linknya. Maaf :D
*Tulisan Ini digunakan sebgai Tugas Kuliah dalam mata Kuliah "Manajemen dan Resolusi Konflik Internasional".


