Laman

Sebuah Perjalanan Ketika Aku Merasa Jadi Introvert

Merasa Jadi Introvert Setelah Menjadi Ibu? Ini Alasannya

Curhatan seorang ibu yang merasa berubah jadi introvert setelah melewati fase hidup baru. Benarkah introvert atau hanya lelah? Perubahan diri ibu rumah tangga.... 

Kehilangan versi lama diri

Entah sejak kapan aku merasa berubah. Dulu aku selalu jadi orang yang ramai, aktif di berbagai kegiatan, punya banyak teman, dan mudah sekali akrab dengan siapa pun. Tapi sekarang, aku lebih banyak diam. Lebih suka sendiri. Lebih nyaman dengan keheningan daripada keramaian.

Awalnya aku bertanya-tanya: “Kenapa ya? Apa aku berubah jadi introvert?” Pertanyaan itu kadang berat, apalagi saat aku merasa kehilangan versi lama dari diriku.

Kenapa Aku Merasa Berubah?

Mungkin, jawabannya sederhana:

  • Energi banyak terkuras untuk mengurus anak, rumah, dan rutinitas. Waktu sendiri terasa jauh lebih menyembuhkan.

  • Pindah ke lingkungan baru membuatku lebih berhati-hati membuka diri.

  • Dulu aku mungkin terlihat ekstrovert karena “terpaksa” aktif. Sekarang aku lebih jujur pada diriku sendiri, ternyata nyaman juga tanpa harus selalu ramai.

  • Prioritasku pun bergeser. Dulu aku butuh banyak sosial untuk validasi, sekarang cukup dengan ketenangan, keluarga, dan ruang pribadi.

Rasa Kehilangan Itu Nyata

Aku sering merindukan diriku yang dulu: yang ceria, banyak ngobrol, gampang tertawa lepas. Kadang aku merasa seolah versi lama diriku sudah hilang. Tapi setelah kupikirkan, sebenarnya dia tidak hilang. Dia hanya beristirahat. Dia menunggu waktunya untuk muncul kembali, ketika aku siap.

Aku Tetap Aku

Menjadi lebih pendiam, lebih menyendiri, tidak membuatku jadi orang lain. Aku tetap aku yang kuat, yang sayang keluarga, yang rela mengorbankan banyak hal demi orang-orang tersayang. Versi lama dari diriku hanya sedang bertransformasi, menyesuaikan dengan perjalanan hidup yang baru.

 Jika kamu juga merasa kehilangan versi lama dari dirimu, jangan takut. Itu bukan berarti kamu berubah jadi orang yang berbeda, tapi kamu sedang tumbuh. Beri ruang untuk dirimu istirahat, temukan kembali apa yang membuatmu hidup, dan percayalah—dirimu yang dulu tidak hilang, hanya menunggu waktu untuk bersinar lagi.

💌 Peluk hangat dari jauh, kamu tidak sendirian dalam perjalanan ini.

Memilih bertahan tapi Trauma

Entah kekuatan dari mana. Pada saat ini aku ingin sekali mengungkapkan apa yang aku rasakan. Walaupun ini aibku sendiri. Karena tak kuasa menahan sendiri....

Aku ingin bertahan tapi aku Trauma

Diselingkuhi berulang kali oleh orang yang aku percaya, apalagi jika aku tetap bertahan dan berusaha memperbaiki hubungan, ternyata itu meninggalkan luka emosional yang dalam. Apa pengkhianatan juga bisa jadi bentuk trauma emosional?

Yg aku googling 

Beberapa tanda trauma karena perselingkuhan:

  • Pikiran tentang kejadian itu terus muncul, bahkan saat kamu ingin melupakannya.
  • Kamu jadi sulit percaya, baik pada pasangan maupun pada orang lain.
  • Emosi mudah terpancing mudah marah, sedih, cemas tanpa tahu alasan pasti.
  • Kamu terus bertanya-tanya, tidak percaya diri sendiri. Merasa jelek, tidak bisa apa2, merasa hancur.

Entah apakah aku salah karena bertahan untuk anak? Apakah aku juga salah karena merasa hancur?

Saat seseorang diselingkuhi, apalagi berkali-kali, rasa percaya dirinya bisa hancur total. Kamu mulai bertanya,
"Apa aku kurang cantik?"
"Apa aku nggak cukup baik?"
"Kenapa aku nggak bisa buat keluargaku utuh?" Aku hanya ingin anak2 tau bahwa keluarganya harmonis. Walaupun aku luka.

Aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Karena alasannya. Aku tidak bisa memberikan kepuasannya. (Karena menurutku cinta, kasih sayang itu dari hati, jika hati terluka oleh kelakuannya, mana mungkin aku bisa memberikan sayang untuknya?) 

Benrkah perselingkuhan bukan karena aku kurang? tapi karena pasanganku yang memilih untuk mengkhianati. Tapi tetap saja, sebagai perempuan, aku sering menyalahkan diri sendiri duluan.

Rasa insecure, merasa tidak berharga, tidak bisa apa-apa semua itu sering muncul karena:

  • Harga diri yang dihancurkan oleh orang yang kita percayai.
  • Terus menahan luka, tapi tidak pernah diberi ruang untuk sembuh.
  • Merasa harus kuat demi anak, tapi sebenarnya hati kita sedang berantakan.

Trauma itu seperti luka dalam yang tak terlihat, tapi nyerinya nyata. Dan rasa insecure yang aku rasakan adalah salah satu pantulan dari luka itu.

Tapi aku masih di sini. Masih bertahan. Masih berani jujur pada diriku sendiri.
Itu bukti bahwa aku belum kalah. Aku sedang berjuang.

Luka yang terus diabaikan, tak akan sembuh sendiri. Mungkin ini saatnyaaku mulai mengutamakan penyembuhan hatimu. Dan dengan bercerita dan mulai menulis lagi aku akan menyembuhkan diriku sendiri....

Terimakasih sudah membaca keluh kesahku....

Disetiap kata ada Kekuatan

Entah kenapa semenjak SMP aku suka dengan kata-kata dan semenjak itu pula aku mulai mengoleksi buku-buku motivasi. Dan Berhasil! buku-buku itu menghipnotis saya menjadi seorang PEMIMPI yang mimpi yang tinggi. Bahkan saat itu aku selalu percaya diri untuk mengatakannya kepada orang lain. Padahal mimpi itu jauh sekali dengan kehidupanku, jauh sekali dengan lingkungan yang aku naungi. Entah berapa buku yang saya punya sampai saat ini, yang jelas setiap ke toko buku buku itulah yang saya lirik terlebih dahulu. Pas zaman-zamannya SMA dalam sebulan aku harus membeli buku itu, seolah jadi kebutuhan. Buku pelajaran kalah lirik, biasanya hanya dibaca pas ujian atau ada tugas saja. hehe...


Jumat, 2 Mei 2025

Hari ini aku ingin balik menulis di sini lagi. Entah ingin mengumbar aib kehidupanku atau??? Tpi apapun itu asumsi orang lain. Tapi niatku hanya satu. Aku ingin mengeluarkan unek2 yang tidak bisa aku tahan sendiri lagi. Entah siapapun diluarsana yang membaca keluh kesahku ini... Terimakasih sudah mendengarkanku... Big hug ❤️

Hari ini, aku ingin menuliskan sesuatu untuk diriku sendiri sebuah pengingat bahwa setiap kata yang keluar dari pikiranku adalah benih kekuatan. Kata-kata yang dulu mungkin hanya sekadar harapan, kini bisa jadi kenyataan jika aku terus menenunnya dengan keyakinan.

Aku berhak bermimpi.
Bukan hanya tentang anak-anakku. (Aku ibu 3 anak) Bukan hanya tentang keluarga. Tapi tentang diriku sendiri.
Aku boleh punya mimpi jadi versi terbaikku lebih sehat, lebih cantik, lebih kuat. Aku boleh bermimpi punya dunia kecil yang kujalani dengan cinta, karya, dan harga diri.

Kadang aku lelah, tapi aku tahu… lelah bukan akhir, hanya jeda.
Kadang aku ragu, tapi aku tahu… ragu bukan alasan untuk berhenti.

Hari ini aku memilih untuk percaya.
Percaya bahwa kata-kataku punya kuasa.
Percaya bahwa setiap langkah kecilku menuju impian, meski pelan, tetaplah maju.

Karena hany dengan kata-kata membuatku bisa bertahan sampai saat ini....

Untuk diriku:
Teruslah bermimpi, teruslah berkata baik pada diri sendiri.
Karena dari sanalah kekuatanmu tumbuh.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...