Laman
Tentang Amanah, Doa, dan Keputusan yang Sunyi
Belajar Berdiri Tanpa Imam
Aku pernah berada di fase hidup
di mana aku sadar…
iman tak bisa dititipkan pada siapa pun.
Bukan karena aku ingin menjadi paling kuat.
Bukan karena aku merasa paling benar.
Tapi karena ada saatnya,
aku harus memilih:
ikut goyah atau tetap bersandar pada Allah.
Aku belajar satu hal penting:
iman adalah tanggung jawab pribadi.
Ia tak otomatis tumbuh hanya karena status “istri”.
Ia harus dijaga, disiram, dan diperjuangkan—
bahkan ketika aku berjalan sendirian.
Aku pernah berharap,
akan selalu ada seseorang di depan
yang menuntunku dalam ibadah.
Tapi hidup mengajarkanku pelan-pelan:
tidak semua perempuan diberi jalan yang sama.
Maka aku berhenti bertanya,
“Kenapa aku harus melalui ini?”
Dan mulai bertanya,
“Apa yang Allah ingin aku pelajari dari sini?”
Aku belajar tidak tinggal shalat bukan karena diajak,
tapi karena aku takut kehilangan cahaya di dadaku.
Aku belajar berdoa bukan karena dituntun,
tapi karena aku tahu:
Allah tidak pernah meninggalkanku.
Aku tidak membuka aib siapa pun.
Karena menjaga kehormatan orang lain
adalah bagian dari menjaga imanku sendiri.
Cukup Allah yang tahu cerita utuhnya.
Hari ini,
aku tidak berdiri sebagai perempuan yang marah.
Aku berdiri sebagai hamba yang berusaha bertahan.
Jika aku harus menjadi imam bagi diriku sendiri,
maka aku akan memulainya dengan niat yang lurus:
agar imanku tidak runtuh,
agar anak-anakku kelak melihat
bahwa ibunya pernah lelah,
tapi tidak menyerah pada Allah.
Aku percaya,
Allah Maha Adil dalam membagi ujian.
Dan setiap langkah sunyi yang kutempuh
tidak pernah sia-sia di hadapan-Nya.
Aku tidak sendirian.
Aku bersama Allah.
Dan itu, sudah lebih dari cukup.
Catatan untuk Diriku yang Sedang Belajar Bernapas
Ada fase dalam hidup ketika seseorang tidak sedang ingin menang, ia hanya ingin bernapas lebih lega.
Aku sudah lama berada di tempat yang sama secara fisik maupun batin. Bertahun-tahun belajar kuat, belajar menyesuaikan, belajar diam ketika rindu pada rumah yang dulu terasa hangat.
Aku tidak sedang menolak siapa pun.
Aku hanya sedang mencoba jujur pada diriku sendiri.
Ternyata, bertahan terlalu lama tanpa didengar bisa melelahkan. Bukan karena kurang cinta, tapi karena jiwa juga punya batas.
Aku belajar bahwa kesabaran bukan berarti menghapus diri sendiri. Dan pengorbanan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kewarasan.
Ada waktu ketika aku merasa bersalah hanya karena ingin pulang. Seolah-olah kelelahan adalah tanda kurangnya iman.
Padahal tidak semua air mata adalah bentuk kelemahan. Sebagian adalah bahasa jiwa yang minta diperhatikan.
Aku mulai memahami satu hal pelan-pelan: menjaga diri juga bagian dari tanggung jawab. Bukan melawan, bukan membangkang hanya ingin tetap utuh.
Aku masih belajar membedakan antara sabar dan takut, antara taat dan memaksa diri. Dan hari ini, aku memilih untuk tidak menghakimi diriku sendiri.
Aku percaya, jalan yang baik tidak selalu yang paling sunyi. Dan keputusan yang jujur, meski berat, tetap layak dihormati.
Untuk diriku di masa depan, jika suatu hari kamu membaca ini, ingatlah:
kamu pernah bertahan sejauh ini bukan karena lemah, tapi karena terlalu kuat terlalu lama.
Dan jika kamu akhirnya memilih pulang itu bukan kegagalan, itu adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.
~ Aku ingin pulang ~
Tentang Perhatian, Batas Diri, dan Pelan-Pelan Belajar Seimbang
Hari ini aku belajar sesuatu tentang diriku sendiri:
bahwa menjadi perhatian itu penting, tapi menjaga batas diri juga sama pentingnya.
Beberapa waktu lalu, aku sempat merasa bersalah karena hanya bisa memberi perhatian secukupnya ketika pasangan sedang sakit menyiapkan obat, membuatkan makanan, dan memastikan anak-anak tidak mengganggu waktu istirahatnya.
Aku pikir, “Apa aku kurang peduli? Harusnya aku berbuat lebih banyak?”
Tapi setelah kupikir ulang…
Sebenarnya itu sudah bentuk perhatian yang tulus.
Bukan besar atau kecilnya, tapi kesungguhan di baliknya.
Lucunya, rasa bersalah itu muncul justru karena selama ini aku disalahkan tidak bisa memberi lebih.
Namun ketika aku sakit, aku kadang tidak mendapat perlindungan yang sama. Padahal yang aku minta sesimpel apa yang aku berikan. Obat tersedia yang paling penting jaga anak agar tidak menggangu istirahatku. Tapi seolah sulit memastikan anak2 tidak menggangguku hanya untuk ingin istirahat lebih tenang.
Dan tanpa sadar, tubuhku mulai menyesuaikan: memberikan secukupnya, seperlunya, seikhlasnya… tidak lagi memaksa diri melampaui batas.
Bukan balas dendam.
Bukan marah.
Hanya sebuah mekanisme hati untuk menjaga diri agar tidak terus-terusan kosong.
Aku belajar bahwa perhatian tidak harus selalu dalam bentuk pengorbanan besar.
Kadang perhatian adalah:
berdiri secukupnya, hadir secukupnya, dan tetap sayang tanpa kehilangan diri sendiri.
Perjalanan ini mengajariku bahwa cinta yang sehat bukan tentang siapa yang paling capek, tapi tentang bagaimana dua orang sama-sama bertumbuh dalam keseimbangan.
Hari ini aku menulis untuk mengingatkan diriku sendiri:
“Aku tetap perhatian. Tapi aku tidak lagi memaksakan diri lebih dari yang aku terima. Dan itu tidak menjadikanku kurang baik.”
Semoga esok-esok aku bisa lebih lembut pada diriku sendiri, lebih berani menghargai batas, dan lebih tenang menerima bahwa perhatian versi secukupnya pun tetap bernilai.