Laman

Pelan-Pelan Aku Bangkit

My Journey Stories 
~ Chapter 7 ~ 

Bangkitku tidak dramatis.
Tidak ada momen besar.
Tidak ada tepuk tangan.
Bangkitku sunyi.

Ia dimulai dari hal kecil: bangun pagi meski masih berat, mengurus anak meski hati belum utuh, melanjutkan hari tanpa tahu jawaban semuanya.
Aku masih takut.
Aku masih ragu.
Aku masih sering menangis diam-diam.

Tapi sekarang, aku tidak lagi menyalahkan diriku karena itu. Aku belajar bahwa bangkit bukan berarti tidak pernah jatuh lagi. Bangkit berarti aku tahu caranya berdiri setiap kali aku terjatuh.

Aku tidak tahu persis seperti apa masa depanku. Aku belum sepenuhnya sampai.
Tapi aku tahu satu hal: aku sedang bergerak.
Pelan-pelan.
Dengan caraku sendiri.
Aku tidak lagi berlari dari luka.
Aku berjalan bersamanya, sambil membangun hidup yang lebih aman.

Dan mungkin, itulah bentuk keberanian yang paling jujur: tetap melangkah meski hati masih bergetar.

Saat Aku Mulai Memilih Diriku

My Journey Stories 
~ Chapter 6 ~ 

Memilih diri sendiri terdengar sederhana.
Tapi bagiku, itu adalah keputusan paling menakutkan. 

Aku terbiasa memilih diam agar tidak ribut. Memilih mengalah agar tetap utuh. Memilih bertahan agar tidak dicap gagal.
Aku lupa rasanya bertanya:
“Apa yang aku butuhkan?”

Saat aku mulai memilih diriku, rasa bersalah datang lebih dulu.
Takut dibilang egois.
Takut dianggap tidak bersyukur.
Takut menyakiti orang lain.
Padahal, yang paling lama tersakiti adalah diriku sendiri.

Memilih diriku tidak berarti meninggalkan tanggung jawab.
Tidak berarti membenci masa lalu.
Tidak berarti membatalkan peran sebagai ibu.

Memilih diriku berarti:
aku berhenti mengorbankan kewarasanku.
Aku berhenti hidup dari sisa-sisa tenaga.
Aku mulai memberi ruang untuk bernapas.
Aku belajar berkata,
“Aku capek.”
“Aku butuh waktu.”
“Aku ingin tenang.”
Bukan dengan suara keras, tapi dengan kejujuran.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa punya izin untuk hidup sebagai manusia,
bukan hanya peran.

Luka yang Tidak Pernah Diceritakan

My Journey Stories 
~ Chapter 5 ~ 

Ada luka yang tidak berdarah, tapi membuat seseorang pincang bertahun-tahun. Luka itu tidak selalu datang dari satu kejadian besar. Ia terbentuk dari hal-hal kecil yang berulang.
Diabaikan. Disepelekan. Disuruh kuat saat sebenarnya rapuh.

Aku jarang menceritakannya. Bukan karena tidak ingin didengar, tetapi karena aku takut dianggap berlebihan.
Aku belajar sejak lama untuk menahan air mata, menyimpan kecewa, dan menormalisasi rasa sakit.

Aku bilang pada diriku sendiri:
“Tidak apa-apa.”
“Nanti juga biasa.”
“Semua orang juga begitu.”
Padahal tubuhku menyimpan semuanya.
Di bahu yang sering tegang.
Di kepala yang tak pernah benar-benar sunyi.
Di hati yang lama-lama mati rasa.
Luka ini tidak selalu membuatku menangis. Kadang justru membuatku kosong. Seolah hidup berjalan, tapi aku tidak benar-benar di dalamnya.

Aku sadar, luka yang tidak pernah diceritakan tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya bersembunyi, menunggu waktu untuk muncul lagi dalam bentuk lelah, marah, atau keinginan pergi jauh.

Menuliskannya sekarang bukan untuk menyalahkan siapa pun. Aku hanya ingin mengakui:
aku pernah terluka, dan itu nyata.
Dan pengakuan itu adalah langkah pertamaku untuk berhenti berpura-pura baik-baik saja.

Anak-Anak Adalah Alasanku Bertahan

My Journey Stories 
~ Chapter 4 ~ 

Anak-anakku tidak pernah tahu betapa sering aku hampir menyerah. Mereka hanya tahu bahwa ibunya selalu ada.
Mengantar pagi, menutup malam, memeluk saat lelah. Dan mungkin, itulah alasan terbesarku bertahan.

Aku sering bertanya dalam diam:
“Kalau bukan karena mereka, apakah aku masih sanggup sejauh ini?”
Anak-anakku adalah jangkar.
Mereka menahanku agar tidak hanyut terlalu jauh. Saat pikiranku berantakan,
saat hatiku remuk, wajah merekalah yang membuatku kembali ke tubuhku sendiri.

Aku bertahan bukan karena aku tidak sakit. Aku bertahan karena aku tidak ingin luka ini menurun pada mereka. Aku tidak ingin mereka tumbuh dengan merasa tidak aman. Tidak ingin mereka belajar bahwa cinta itu keras dan menyakitkan. Tidak ingin mereka melihat ibunya hancur tanpa sempat bangkit.

Setiap kali aku ingin pergi, aku teringat suara mereka. Tawa mereka. Cara mereka memanggilku dengan penuh percaya.
Dan itu membuatku bertanya ulang:
“Apa yang paling mereka butuhkan dariku?”
Jawabannya bukan ibu yang sempurna.
Bukan ibu yang selalu kuat. Tapi ibu yang hadir, yang waras, yang tidak kehilangan dirinya sendiri.

Aku mulai sadar, bertahan demi anak-anak
tidak selalu berarti tinggal di tempat yang sama. Kadang, bertahan berarti mencari jalan agar aku bisa bernapas supaya kelak mereka punya ibu yang benar-benar hidup.

Aku ingin mereka melihat ibunya bangkit,
meski pelan. Meski tertatih. Meski sambil menangis.
Aku ingin mereka tahu: 
bahwa mencintai diri sendiri bukan egois. 
Bahwa memilih tenang bukan lari.
Bahwa seorang ibu juga manusia yang berhak sembuh.

Anak-anakku bukan bebanku.
Mereka adalah alasan aku masih di sini.
Dan untuk pertama kalinya,
aku mulai percaya: demi mereka, aku tidak hanya harus bertahan "aku harus pulih."

Tempat Aku Bersembunyi

My Journey Stories 
~ Chapter 3 ~ 

Ada satu hal yang lama tidak pernah kuceritakan pada siapa pun. Bukan karena terlalu memalukan, tapi karena aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa.

Saat dunia terasa terlalu berat, aku menemukan satu tempat untuk bersembunyi.
Bukan tempat nyata.
Bukan juga pelarian yang terlihat.
Ia hidup di kepalaku. Di sana, aku bisa bernapas lebih panjang. Aku bisa menjadi diriku tanpa harus menjelaskan apa pun.
Tidak ada tuntutan. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada rasa bersalah karena lelah.

Di dunia itu, aku membayangkan hidup yang tenang. Bukan hidup mewah. Hanya hidup yang tidak membuat dadaku sesak.
Aku membayangkan diriku didengar.
Dihargai.
Diperlakukan dengan lembut.

Kadang, dunia itu muncul tanpa sengaja.
Saat menonton cerita orang lain.
Saat mendengar dialog sederhana.
Saat melihat potongan kehidupan yang terasa hangat.

Aku tidak masuk ke sana untuk mengkhianati kenyataan. Aku masuk karena kenyataan sering kali tidak memberiku tempat untuk istirahat.

Di dunia khayalanku, aku tidak perlu menjelaskan lukaku.
Aku tidak perlu kuat.
Aku hanya… ada.

Namun seiring waktu, aku mulai menyadari sesuatu. Setiap kali aku kembali ke dunia nyata, hatiku terasa lebih berat. Bukan karena dunia khayalanku terlalu indah, tetapi karena dunia nyataku terasa semakin hampa.

Aku mulai bertanya pelan pada diri sendiri:
“Apa aku lari?”
“Atau aku hanya sedang bertahan dengan caraku sendiri?”
Aku merasa bersalah karena membutuhkannya. Seolah aku tidak cukup kuat menghadapi hidup apa adanya.

Padahal, mungkin aku hanya kelelahan.
Aku tidak kehilangan akal sehat.
Aku masih tahu mana nyata dan mana tidak.
Tapi aku tahu, jika terlalu lama tinggal di sana, aku akan semakin jauh dari diriku yang sesungguhnya.

Dan di situlah aku mulai mengerti: dunia itu bukan rumah. Ia hanya tempat singgah sementara, ketika aku belum tahu ke mana harus melangkah.

Aku tidak menyalahkan diriku karena pernah bersembunyi. Aku tahu, saat itu aku hanya ingin bertahan hidup. Tapi pelan-pelan, aku ingin belajar hal baru:
bukan lagi bersembunyi dari kenyataan,
melainkan menciptakan kenyataan yang lebih aman untuk diriku sendiri.

Chapter ini tidak menghakimi.
Ia hanya mengakui.
Bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk bertahan. Dan caraku, saat itu, adalah bersembunyi sejenak di dunia yang kuciptakan sendiri.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...