Laman

Luka yang Tidak Pernah Diceritakan

My Journey Stories 
~ Chapter 5 ~ 

Ada luka yang tidak berdarah, tapi membuat seseorang pincang bertahun-tahun. Luka itu tidak selalu datang dari satu kejadian besar. Ia terbentuk dari hal-hal kecil yang berulang.
Diabaikan. Disepelekan. Disuruh kuat saat sebenarnya rapuh.

Aku jarang menceritakannya. Bukan karena tidak ingin didengar, tetapi karena aku takut dianggap berlebihan.
Aku belajar sejak lama untuk menahan air mata, menyimpan kecewa, dan menormalisasi rasa sakit.

Aku bilang pada diriku sendiri:
“Tidak apa-apa.”
“Nanti juga biasa.”
“Semua orang juga begitu.”
Padahal tubuhku menyimpan semuanya.
Di bahu yang sering tegang.
Di kepala yang tak pernah benar-benar sunyi.
Di hati yang lama-lama mati rasa.
Luka ini tidak selalu membuatku menangis. Kadang justru membuatku kosong. Seolah hidup berjalan, tapi aku tidak benar-benar di dalamnya.

Aku sadar, luka yang tidak pernah diceritakan tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya bersembunyi, menunggu waktu untuk muncul lagi dalam bentuk lelah, marah, atau keinginan pergi jauh.

Menuliskannya sekarang bukan untuk menyalahkan siapa pun. Aku hanya ingin mengakui:
aku pernah terluka, dan itu nyata.
Dan pengakuan itu adalah langkah pertamaku untuk berhenti berpura-pura baik-baik saja.

0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...