~ Chapter 2 ~
Aku tidak langsung tahu bahwa aku sedang lelah. Tidak ada tanda besar. Tidak ada ledakan emosi. Hanya perasaan samar yang pelan-pelan mengendap.
Aku masih bangun pagi.
Masih mengurus anak-anak.
Masih tertawa di waktu yang seharusnya tertawa.
Tapi di dalam, ada sesuatu yang berubah.
Aku mulai sering merasa kosong setelah hari berakhir. Bukan sedih yang membuat menangis. Lebih seperti kehabisan energi untuk merasa apa pun. Hal-hal yang dulu kuanggap biasa, mulai terasa berat. Bukan karena tugasnya bertambah, melainkan karena hatiku tidak lagi punya ruang bernapas.
Aku menyadari satu hal yang membuatku terdiam lama: aku mulai tidak ingin bicara.
Bukan karena tidak punya cerita, tapi karena lelah menjelaskan perasaanku sendiri.
Lelah berharap dipahami.
Lelah membenarkan apa yang aku rasakan.
Aku belajar menahan banyak hal dalam kepala. Kupikir, selama aku tidak mengucapkannya, maka semuanya akan baik-baik saja.
Nyatanya, tidak.
Yang tidak diucapkan, tidak hilang. Ia hanya berpindah tempat menjadi sesak di dada, menjadi pikiran yang berisik saat malam, menjadi air mata yang jatuh tanpa suara.
Aku mulai sering bertanya pada diri sendiri:
“Kenapa aku begini?”
“Kenapa aku tidak sekuat dulu?”
Pertanyaan itu justru membuatku semakin merasa bersalah. Seolah lelah adalah tanda kelemahan. Seolah capek berarti aku tidak cukup bersyukur. Padahal, mungkin aku hanya manusia yang terlalu lama memaksakan diri.
Ada hari-hari di mana aku duduk diam,
menatap kosong, dan merasa asing dengan diriku sendiri.
Aku masih ada di tempat yang sama,
menjalani peran yang sama, tapi rasanya seperti berjalan dengan beban yang tidak terlihat.
Di titik ini, aku belum ingin pergi. Aku belum ingin mengambil keputusan besar.
Aku hanya ingin istirahat dari perasaan harus kuat setiap saat.
Dan untuk pertama kalinya, aku berani mengakui sesuatu yang dulu selalu kutolak:
Aku lelah.
Dan lelah itu nyata.
Bukan karena aku tidak berusaha.
Bukan karena aku tidak mencintai.
Tapi karena aku terlalu lama melupakan diriku sendiri.
Chapter ini tidak berakhir dengan jawaban.
Ia hanya berakhir dengan kejujuran.
Dan mungkin, itu adalah awal dari sesuatu yang baru.
0 komentar:
Post a Comment