Laman

Aku yang Selalu Bertahan


My journey stories 
~ Chapter 1 ~

Aku tidak pernah merasa diriku kuat.
Yang aku tahu, sejak dulu aku selalu bertahan.
Bertahan dalam diam.
Bertahan dengan senyum.
Bertahan dengan keyakinan bahwa hidup harus dijalani, meski rasanya sering tidak adil.

Aku tumbuh dengan satu pola yang terus berulang: jangan banyak memilih, nanti salah. Jangan banyak menuntut, nanti ditinggal. Yang penting aman, meski sakit.

Aku belajar sejak lama bahwa mengalah adalah cara tercepat untuk meredam konflik. Bahwa diam sering kali dianggap dewasa. Bahwa bertahan dipuji, sementara pergi dianggap gagal. Dan aku mempercayainya.

Aku menjalani hari-hari seperti air yang mengalir. Tidak selalu bahagia, tapi juga tidak berani mengaku sedih. Tidak benar-benar hidup, tapi juga tidak mati rasa setidaknya di awal.

Aku sering berkata pada diriku sendiri:
“Tidak apa-apa.”
“Masih bisa ditahan.”
“Yang penting anak-anak baik-baik saja.”
Kalimat itu menjadi doa sekaligus tameng. Melindungiku dari keputusan-keputusan besar yang sebenarnya ingin kuambil, tapi selalu kutunda.

Aku jarang bertanya pada diriku sendiri:
“Aku mau apa?”
“Aku sanggup sampai kapan?”
Bukan karena aku tidak peduli pada diriku. Tapi karena aku terbiasa menempatkan diriku di urutan paling belakang.
Aku pikir, begitulah cinta bekerja. Memberi tanpa menghitung. Bertahan tanpa syarat. Menahan luka demi orang lain tetap utuh.
Sampai suatu hari, aku mulai lelah tanpa tahu kenapa.

Bukan karena satu kejadian besar. Tapi karena terlalu lama mengabaikan suara kecil di dalam hati yang terus berbisik:
“Aku capek.”
Namun saat itu, aku belum berani mendengarnya.
Aku masih bertahan.
Karena aku belum tahu bahwa bertahan tanpa batas bisa menjadi cara paling sunyi untuk kehilangan diri sendiri.

Dan inilah aku, di awal cerita ini.
Bukan sebagai korban.
Bukan sebagai orang yang disalahkan.
Hanya seorang perempuan yang sedang mulai berani jujur: bahwa bertahan tidak selalu berarti kuat.

Dan mungkin, mencintai diri sendiri adalah perjalanan yang belum pernah benar-benar kumulai.

0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...