Bukan karena ingin sembunyi, tapi karena menjaga perasaan, hubungan, dan amanah.
Aku belajar bahwa menjadi ibu tidak selalu tentang suara yang lantang, kadang justru tentang keputusan yang diambil dalam diam dan doa yang dipanjatkan panjang-panjang di malam hari.
Sebagai orang tua, kami sama-sama ingin yang terbaik untuk anak. Hanya saja, cara melihat “yang terbaik” kadang datang dari sudut pandang yang berbeda.
Di titik itulah aku banyak diam. Bukan karena kalah, tapi karena aku ingin tetap utuh sebagai istri dan tetap waras sebagai ibu.
Aku belajar satu hal penting: anak bukan milikku sepenuhnya. Ia adalah amanah dari Allah yang kelak akan ditanya bagaimana ia dijaga, bukan bagaimana konflik orang tuanya diceritakan.
Maka aku memilih jalan yang sunyi. Bukan untuk melawan, bukan untuk membenarkan diri, tapi untuk menjalankan peran yang Allah titipkan padaku dengan sebaik yang aku bisa.
Aku percaya, Allah Maha Mengetahui niat yang tidak sempat dijelaskan. Maha Mendengar doa yang bahkan tidak terucap. Dan Maha Adil pada hati seorang ibu yang berusaha menjaga tanpa ingin melukai.
Tulisan ini bukan tentang benar atau salah. Bukan tentang siapa melawan siapa. Ini hanya pengingat untuk diriku sendiri:
Bahwa dalam rumah tangga, kadang kita tidak butuh menang, kita hanya perlu tetap bertumbuh.
Dan dalam menjadi ibu, selama niatku menjaga kehidupan dan aku tidak berhenti berdoa, aku yakin Allah tidak pernah jauh.
0 komentar:
Post a Comment