Aku pernah berada di fase hidup
di mana aku sadar…
iman tak bisa dititipkan pada siapa pun.
Bukan karena aku ingin menjadi paling kuat.
Bukan karena aku merasa paling benar.
Tapi karena ada saatnya,
aku harus memilih:
ikut goyah atau tetap bersandar pada Allah.
Aku belajar satu hal penting:
iman adalah tanggung jawab pribadi.
Ia tak otomatis tumbuh hanya karena status “istri”.
Ia harus dijaga, disiram, dan diperjuangkan—
bahkan ketika aku berjalan sendirian.
Aku pernah berharap,
akan selalu ada seseorang di depan
yang menuntunku dalam ibadah.
Tapi hidup mengajarkanku pelan-pelan:
tidak semua perempuan diberi jalan yang sama.
Maka aku berhenti bertanya,
“Kenapa aku harus melalui ini?”
Dan mulai bertanya,
“Apa yang Allah ingin aku pelajari dari sini?”
Aku belajar tidak tinggal shalat bukan karena diajak,
tapi karena aku takut kehilangan cahaya di dadaku.
Aku belajar berdoa bukan karena dituntun,
tapi karena aku tahu:
Allah tidak pernah meninggalkanku.
Aku tidak membuka aib siapa pun.
Karena menjaga kehormatan orang lain
adalah bagian dari menjaga imanku sendiri.
Cukup Allah yang tahu cerita utuhnya.
Hari ini,
aku tidak berdiri sebagai perempuan yang marah.
Aku berdiri sebagai hamba yang berusaha bertahan.
Jika aku harus menjadi imam bagi diriku sendiri,
maka aku akan memulainya dengan niat yang lurus:
agar imanku tidak runtuh,
agar anak-anakku kelak melihat
bahwa ibunya pernah lelah,
tapi tidak menyerah pada Allah.
Aku percaya,
Allah Maha Adil dalam membagi ujian.
Dan setiap langkah sunyi yang kutempuh
tidak pernah sia-sia di hadapan-Nya.
Aku tidak sendirian.
Aku bersama Allah.
Dan itu, sudah lebih dari cukup.
0 komentar:
Post a Comment