Hari ini aku belajar sesuatu tentang diriku sendiri:
bahwa menjadi perhatian itu penting, tapi menjaga batas diri juga sama pentingnya.
Beberapa waktu lalu, aku sempat merasa bersalah karena hanya bisa memberi perhatian secukupnya ketika pasangan sedang sakit menyiapkan obat, membuatkan makanan, dan memastikan anak-anak tidak mengganggu waktu istirahatnya.
Aku pikir, “Apa aku kurang peduli? Harusnya aku berbuat lebih banyak?”
Tapi setelah kupikir ulang…
Sebenarnya itu sudah bentuk perhatian yang tulus.
Bukan besar atau kecilnya, tapi kesungguhan di baliknya.
Lucunya, rasa bersalah itu muncul justru karena selama ini aku disalahkan tidak bisa memberi lebih.
Namun ketika aku sakit, aku kadang tidak mendapat perlindungan yang sama. Padahal yang aku minta sesimpel apa yang aku berikan. Obat tersedia yang paling penting jaga anak agar tidak menggangu istirahatku. Tapi seolah sulit memastikan anak2 tidak menggangguku hanya untuk ingin istirahat lebih tenang.
Dan tanpa sadar, tubuhku mulai menyesuaikan: memberikan secukupnya, seperlunya, seikhlasnya… tidak lagi memaksa diri melampaui batas.
Bukan balas dendam.
Bukan marah.
Hanya sebuah mekanisme hati untuk menjaga diri agar tidak terus-terusan kosong.
Aku belajar bahwa perhatian tidak harus selalu dalam bentuk pengorbanan besar.
Kadang perhatian adalah:
berdiri secukupnya, hadir secukupnya, dan tetap sayang tanpa kehilangan diri sendiri.
Perjalanan ini mengajariku bahwa cinta yang sehat bukan tentang siapa yang paling capek, tapi tentang bagaimana dua orang sama-sama bertumbuh dalam keseimbangan.
Hari ini aku menulis untuk mengingatkan diriku sendiri:
“Aku tetap perhatian. Tapi aku tidak lagi memaksakan diri lebih dari yang aku terima. Dan itu tidak menjadikanku kurang baik.”
Semoga esok-esok aku bisa lebih lembut pada diriku sendiri, lebih berani menghargai batas, dan lebih tenang menerima bahwa perhatian versi secukupnya pun tetap bernilai.
0 komentar:
Post a Comment