Ada fase dalam hidup ketika seseorang tidak sedang ingin menang, ia hanya ingin bernapas lebih lega.
Aku sudah lama berada di tempat yang sama secara fisik maupun batin. Bertahun-tahun belajar kuat, belajar menyesuaikan, belajar diam ketika rindu pada rumah yang dulu terasa hangat.
Aku tidak sedang menolak siapa pun.
Aku hanya sedang mencoba jujur pada diriku sendiri.
Ternyata, bertahan terlalu lama tanpa didengar bisa melelahkan. Bukan karena kurang cinta, tapi karena jiwa juga punya batas.
Aku belajar bahwa kesabaran bukan berarti menghapus diri sendiri. Dan pengorbanan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kewarasan.
Ada waktu ketika aku merasa bersalah hanya karena ingin pulang. Seolah-olah kelelahan adalah tanda kurangnya iman.
Padahal tidak semua air mata adalah bentuk kelemahan. Sebagian adalah bahasa jiwa yang minta diperhatikan.
Aku mulai memahami satu hal pelan-pelan: menjaga diri juga bagian dari tanggung jawab. Bukan melawan, bukan membangkang hanya ingin tetap utuh.
Aku masih belajar membedakan antara sabar dan takut, antara taat dan memaksa diri. Dan hari ini, aku memilih untuk tidak menghakimi diriku sendiri.
Aku percaya, jalan yang baik tidak selalu yang paling sunyi. Dan keputusan yang jujur, meski berat, tetap layak dihormati.
Untuk diriku di masa depan, jika suatu hari kamu membaca ini, ingatlah:
kamu pernah bertahan sejauh ini bukan karena lemah, tapi karena terlalu kuat terlalu lama.
Dan jika kamu akhirnya memilih pulang itu bukan kegagalan, itu adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.
~ Aku ingin pulang ~
0 komentar:
Post a Comment