Laman

Tempat Aku Bersembunyi

My Journey Stories 
~ Chapter 3 ~ 

Ada satu hal yang lama tidak pernah kuceritakan pada siapa pun. Bukan karena terlalu memalukan, tapi karena aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa.

Saat dunia terasa terlalu berat, aku menemukan satu tempat untuk bersembunyi.
Bukan tempat nyata.
Bukan juga pelarian yang terlihat.
Ia hidup di kepalaku. Di sana, aku bisa bernapas lebih panjang. Aku bisa menjadi diriku tanpa harus menjelaskan apa pun.
Tidak ada tuntutan. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada rasa bersalah karena lelah.

Di dunia itu, aku membayangkan hidup yang tenang. Bukan hidup mewah. Hanya hidup yang tidak membuat dadaku sesak.
Aku membayangkan diriku didengar.
Dihargai.
Diperlakukan dengan lembut.

Kadang, dunia itu muncul tanpa sengaja.
Saat menonton cerita orang lain.
Saat mendengar dialog sederhana.
Saat melihat potongan kehidupan yang terasa hangat.

Aku tidak masuk ke sana untuk mengkhianati kenyataan. Aku masuk karena kenyataan sering kali tidak memberiku tempat untuk istirahat.

Di dunia khayalanku, aku tidak perlu menjelaskan lukaku.
Aku tidak perlu kuat.
Aku hanya… ada.

Namun seiring waktu, aku mulai menyadari sesuatu. Setiap kali aku kembali ke dunia nyata, hatiku terasa lebih berat. Bukan karena dunia khayalanku terlalu indah, tetapi karena dunia nyataku terasa semakin hampa.

Aku mulai bertanya pelan pada diri sendiri:
“Apa aku lari?”
“Atau aku hanya sedang bertahan dengan caraku sendiri?”
Aku merasa bersalah karena membutuhkannya. Seolah aku tidak cukup kuat menghadapi hidup apa adanya.

Padahal, mungkin aku hanya kelelahan.
Aku tidak kehilangan akal sehat.
Aku masih tahu mana nyata dan mana tidak.
Tapi aku tahu, jika terlalu lama tinggal di sana, aku akan semakin jauh dari diriku yang sesungguhnya.

Dan di situlah aku mulai mengerti: dunia itu bukan rumah. Ia hanya tempat singgah sementara, ketika aku belum tahu ke mana harus melangkah.

Aku tidak menyalahkan diriku karena pernah bersembunyi. Aku tahu, saat itu aku hanya ingin bertahan hidup. Tapi pelan-pelan, aku ingin belajar hal baru:
bukan lagi bersembunyi dari kenyataan,
melainkan menciptakan kenyataan yang lebih aman untuk diriku sendiri.

Chapter ini tidak menghakimi.
Ia hanya mengakui.
Bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk bertahan. Dan caraku, saat itu, adalah bersembunyi sejenak di dunia yang kuciptakan sendiri.

0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...