PERENCANAAN STRATEGIS GLOBAL
Perencanaan strategis merupakan proses organisasi untuk menentukan arah, tujuan, strategi, yang mengimplementasikan rencana aksi serta membuat keputusan guna mealokasikan sumber daya dengan tujuan melaksanakan strategi serta mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Komponen-komponen dalam perencanaan strategis ini mencangkup visi, misi, nilai-nilai, dan strategi organisasi. Visi merupakan pandangan jangka panjang yang akan terealisasi dimasa depan yangnmengacu kepada sebuah tujuan organisasi tersebut. Misi merupakan tindakan-tindakan nyata dan strategi yang digunakan unyukmencapai visi tersebut. Sedangkan nilai merupakan sebuah kepercayaan dan kesepakatan para pemegang kepentingan dalam organisasi tersebut. Strategi dapat dinamakan faktor-faktor penunjang serta cara-cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Empat kecenderungan dalam konteks NMC yang dapat mempengaruhi proses perencanaan strategis.
1. Entrosentris. Adalah Rencana yang disusun tergantung pada nilai dan kepentingan perusahaan induk.
2. Polisentris adalah rencana yang disusun atas dasar memperlihatkan kebutuhan kultur atau budaya setempat.
3. Regiosentris adalah rencana keuntungan dan penerimaan yang dipakai untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan regional.
4. Geosentris merupakan perencanaan dengan pandangan global membuat produk global dengan variasi lokal.
Proses perencanaan strategis
Tahap pertama adalah Formulasi Strategis yang dilakukan bedasarkan hasil evaluasi lingkungan eksternal maupun internal dan identifikasi tujuan jangka panjang dan pendek. Dalam lingkup eksternal mencangkup pengumpulan dan penilaian informasi. Prosesnya mempertimbangkan 5 penentu daya saing yaitu: para pembeli, pemasok, pendatang baru dalam industri, ketersediaan barang dan jasa pengganti, serta kompetisi diantara para pesaing. Dalam lingkungan internal dipertimbangkan mengenai: sumber daya fisik perusahaan, kompetisi personil, cara-cara untuk memberdayakan sumberdaya tersebut secara strategis dan menguntungkan bagi bisnis NMC itu.
Tahap kedua, Implementasi Strategi merupakan proses pelaksanaa yang dibuat guna mencapai tujuan organisasi tersebut. Aspek yang dipertimbangkan adalah lokasi, keputusan kepemilikan, dan implementasi bidang fungsional. Termasuk pemasaran, yang mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan rencana untuk memproduksi barang/jasa yang diinginkan konsumen. Manufakturing terkait dengan rencana pemasaran yang memastikan produk yang dibuat, dijual pada waktunya, serta berkoordinasi dengan SDM akan teknologi dan pembelian. Keuangan, Pembelian, dan terakhir Teknologi dan SDM.
Tahap ketiga adalah Pengawasan dan evaluasi proses dimana evaluasi ini melibatkan bagaimana cara kerja bisnis NMC dalam pelaksanaan untuk mencapai tujuannya. Serta melakukan pengawasan terkait kegiatan bisnis dalam mencapai tujuan yang telah dilakukan. Diukur dengan Return on investment, pertumbuhan penjualan, pangsa pasar, biaya pengembangan produk baru, hubungan dengan negara tuan rumah, dan kinerja manajemen secara keseluruhan.
*sebagai resume mata kuliah bisnis internasional.
Laman
BISNIS INTERNASIONAL 1
KULTUR INTERNASIONAL
Kultur adalah pengetahuan perolehan yang dipergunakan orang untuk menginterpretasikan pengalaman dan membangkitkan prilaku sosial (Hodgetts dan Luthans, 1991, 35). Kultur membentuk nilai-nilai dan sikap-sikap serta perilaku perorangan dan kelompok. Suatu tantangan dalam bisnis internasional guna memperluas perspektif untuk menghindari pembuatan keputusan-keputusan bisnis atas dasar konsepsi-konsepsi yang salah. Sebab konsepsi yang salah adalah etnosentrisme, merupakan keyakinan bahwa cara seseorang melakukan sesuatu adalah lebih unggul dari yang lain. Prilaku etnosentrisme adalah patronisasi, tidak menghormati, atmosfir superioritas, dan prilaku yang tidak kenyal. Contoh dalam dunia bisnis adalah: 1). Tidak menyesuaikan produk dengan kebutuhan khusus pasar tertentu. 2). Membawa peluang keuntungan tanpa re-investasi dalam pasar luar negri. 3). Mengisi posisi kunci pada unit-unit usaha diluar negri dengan para manajer nasionalnya sendiri yang telah melakukan tugas secara baik dalam negri tetapi tanpa pengalaman internasional.
Unsur-unsur kultur
1. Bahasa
Bahasa adalah kritikal bagi kultur oleh karna bahasa merupakan sarana yang dipakai untuk menyampaikan informasi dan ide-ide. Bahasa dapat (a) memberi peluang bagi pemahaman lebih jelas bagi situasi. (b) memberikan akses langsung kepada orang-orang setempat. (c) memberikan peluang bagi yang bersangkutan untuk mampu memetik nuansa-nuansa, arti-arti yang berimplikasi dan informasi-informasi lain yang tidak dinyatakan langsung dan terbuka. Sehingga bahasa membantu seseorang dalam memahami kultur.
2. Agama
Agama merupakan keyakinan seseorang. Terdapat beberapa agama didunia antara lain: Islam, Yahudi, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konfusius. Agama dapat mempengaruhi gaya hidup, keyakinan, nilai, dan sikap dan dapat pula mengandung akibat dramatis terhadap cara orang dalam bertindak, satu dengan yang lain serta terhadap mereka dalam masyarakat yang lain.
3. Nilai-nilai dan sikap-sikap
Nilai-nilai merupakan keyakna dasar yang dimiii seseorang tentang apa yang salah dan yang benar, baik dan tidak baik, penting dan tidak penting. Sikap adalah perilaku seseorang dalam bertindak. Sikap-sikap yang bersumber dari niai-nilai langsung mempegaruhi bisinis internasional. Dengan menyadari bahwa nilai-nilai dan sikap-sikap dari orang-orang dalam kultur, perusahaan bisnis dapat secara efektif memposisikan produknya. Dalam hal-hal tertentu terdapat pula sikap-sikap negatif terhadap barang-barang buatan asing, menyebabkan perusahaan-perusahaan tertetu tidak menekankan asal mereka.
4. Adat istiadat dan budi pekerti
Adat istiadat adalah praktek-praktek yang umum dan baku. Budi pekerti adalah
prilaku-prilaku yang dianggap sesuai atau pantas dalam suatu masyarakat. Adat istiadat menentukan bagaimana sesuatu hal dilakukan, sedang budi pekerti dipergunaan dalam melaksanakannya. Adat istiadat kemasyarakatan dan budi pekerti yang dianut dan dipraktekkan berbeda dalam negara-negara diseluruh dunia. Dan adat istiadat juga menentukan cara sebuah perusahaan mengiklankan dan memasarkan produk-produk mereka.
KULTUR MATERIL
Kultur materil terdiri dari objek-objek yang dibuat. Yang menjadi fokus adalah bagaimana orang membuat benda-benda (termasuk teknologi-teknologi yang dilibatkan) dan siapa yang membuatnya serta bagaimana hal tersebut dilakukan (ekonomi dan situasi). Dalam hal ini yang dibahas adalah infrastruktur ekonomi dasar seperti transportasi, komunikasi, dan energi. Infrastruktur sosial terdiri dari: sistem-sistem kesehatan, perumahan dan pendidikan negeri. Infrastrutur finansial menyediakan jasa-jasa perbankan, asuransi dan keuangan.
Estetika
Estetika terkait erat dengan selera-selera artistik dari suatu kultur. Yang mempelajari bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut mempengaruhi perilaku-perilaku.
Pendidikan
Pendidikan mempengaruhi banyak aspek dari kultur. Memberikan pemahaman tentang apa yang terjadi didunia. Dan membuat produktivitas ekonomi dan kemajuan teknologi lebih mudah dicapai.
Dimensi-dimensi kultur dan sikap
Bahasa, agama, niai-nilai serta sikap-sikap budi pekerti dan adat istiadat, barang-barang kebendaan, estetika dan pendidikan adalah unsur-unsur dari kultur yang menerangkan perbedaan-perbedaan prilaku dikalangan orang-orang dalam masyarakat, lokal, regional, kawasan dan global.
Dimensi-dimensi kultur
Geert Hofstede menemukan empat dimensi-dimensi kultur yaitu: 1. Jarak kekuasaan adalah kadar terhadap anggota-anggota yang kurang berkuasa dari organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga menerima kenyataan bahwa kekuasaan tidak didistribusikan secara merata. 2. Penghindaran ketidak pastian adalah sejauh mana orang-orang merasa terancam oleh situasi-situasi yang tidak menentu dan yang telah menciptakan lembaga-lembaga dan keyakinan-keyakinan untuk meminimumkan atau menghindari ketidakpastian-ketidakpastiaan. 3. Individualisme adalah kecenderungan dari orang-orang untuk mengurus diri mereka sendiri dan hanya keluaga dekat mereka. Hal ini berlawanan dengan kolektivisme merupakan kecenderungan orang-orang untuk menjadi bagian dari atau bergabung dengan kelompok-kelompok yang mengurus sesama dalam pertukaran untuk loyalitas. 4. Maskulinitas adalah ukuran yang diberikan kepada nilai-nilai dominan dari masyarakat dalam bentuk sukses, uang, dan benda. Hal ini merupakan lawan dari feminitas dimana ukuran nilai-nilai dominan dari masyarkat yang terkait dengan kepedulian bagi orang lain dan mutu hidup. Keempat dimensi tersebut mempengaruhi kultur suatu masyarakat secara menyeluruh yang bermuara pada suatu lingkungan yang unik.
Dimensi-dimensi sikap
Ronen dan Shenkar menemukan empat bidang kultur utama yaitu: 1. Pentingnya tujuan-tujuan kerja. 2. Definisi kebutuhan pemenuhan keinginan dan kepuasan dalam pekerjaan. 3. Variabel-variabel manajerial dan organisasi. 4. Peran kerja dan orientasi-orientasi antar perorangan. Sebuah perusahaan multinasional harus mengerti sifat dari kultur dimana perusahaan tersebut akan melakukan bisnisnya.
Kultur dan manajemen strategis
Yang diperhatikan adalah tiga aspek penting yaitu: 1. Sikap-sikap kerja adalah penting bagi perusahaan multinasional terhadap sikap-sikap tersebut karena dapat mempengaruhi baik kualitas maupun kuantitas output dari pekerja. Sikap kerja merupakan sebuah komitmen organisasi. 2. Motivasi keberhasilan. Kebutuhan akan keberhasilan merupakan suatu kebutuhan yang dipelajari, sebagian besar ditentukan oleh kultut yang berlaku. 3. Waktu dan masa depan adalah pandangan masyarakat mengenai waktu dan bagaimana seharusnya waktu tersebut dipergunakan.
Pelatihan kultur silang
Program-program orientasi kultur digerakan kearah pembiasaan personil dengan lembaga-lembaga kultur dan sistem-sistem nilai dari negeri tuan rumah. Asimilator kultur adalah pendekatan-pendekatan belajar terprogram yang khusus dipersiapkan khusus untuk memperkenalkan para individu dengan beberapa konsep-konsep dasar, sikap-sikap, adat istiadat, nilai-nilai dan persepsi-persepsi peran dari kultur lain.
*Resume materi kuliah Bisnis Internasional
Kultur adalah pengetahuan perolehan yang dipergunakan orang untuk menginterpretasikan pengalaman dan membangkitkan prilaku sosial (Hodgetts dan Luthans, 1991, 35). Kultur membentuk nilai-nilai dan sikap-sikap serta perilaku perorangan dan kelompok. Suatu tantangan dalam bisnis internasional guna memperluas perspektif untuk menghindari pembuatan keputusan-keputusan bisnis atas dasar konsepsi-konsepsi yang salah. Sebab konsepsi yang salah adalah etnosentrisme, merupakan keyakinan bahwa cara seseorang melakukan sesuatu adalah lebih unggul dari yang lain. Prilaku etnosentrisme adalah patronisasi, tidak menghormati, atmosfir superioritas, dan prilaku yang tidak kenyal. Contoh dalam dunia bisnis adalah: 1). Tidak menyesuaikan produk dengan kebutuhan khusus pasar tertentu. 2). Membawa peluang keuntungan tanpa re-investasi dalam pasar luar negri. 3). Mengisi posisi kunci pada unit-unit usaha diluar negri dengan para manajer nasionalnya sendiri yang telah melakukan tugas secara baik dalam negri tetapi tanpa pengalaman internasional.
Unsur-unsur kultur
1. Bahasa
Bahasa adalah kritikal bagi kultur oleh karna bahasa merupakan sarana yang dipakai untuk menyampaikan informasi dan ide-ide. Bahasa dapat (a) memberi peluang bagi pemahaman lebih jelas bagi situasi. (b) memberikan akses langsung kepada orang-orang setempat. (c) memberikan peluang bagi yang bersangkutan untuk mampu memetik nuansa-nuansa, arti-arti yang berimplikasi dan informasi-informasi lain yang tidak dinyatakan langsung dan terbuka. Sehingga bahasa membantu seseorang dalam memahami kultur.
2. Agama
Agama merupakan keyakinan seseorang. Terdapat beberapa agama didunia antara lain: Islam, Yahudi, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konfusius. Agama dapat mempengaruhi gaya hidup, keyakinan, nilai, dan sikap dan dapat pula mengandung akibat dramatis terhadap cara orang dalam bertindak, satu dengan yang lain serta terhadap mereka dalam masyarakat yang lain.
3. Nilai-nilai dan sikap-sikap
Nilai-nilai merupakan keyakna dasar yang dimiii seseorang tentang apa yang salah dan yang benar, baik dan tidak baik, penting dan tidak penting. Sikap adalah perilaku seseorang dalam bertindak. Sikap-sikap yang bersumber dari niai-nilai langsung mempegaruhi bisinis internasional. Dengan menyadari bahwa nilai-nilai dan sikap-sikap dari orang-orang dalam kultur, perusahaan bisnis dapat secara efektif memposisikan produknya. Dalam hal-hal tertentu terdapat pula sikap-sikap negatif terhadap barang-barang buatan asing, menyebabkan perusahaan-perusahaan tertetu tidak menekankan asal mereka.
4. Adat istiadat dan budi pekerti
Adat istiadat adalah praktek-praktek yang umum dan baku. Budi pekerti adalah
prilaku-prilaku yang dianggap sesuai atau pantas dalam suatu masyarakat. Adat istiadat menentukan bagaimana sesuatu hal dilakukan, sedang budi pekerti dipergunaan dalam melaksanakannya. Adat istiadat kemasyarakatan dan budi pekerti yang dianut dan dipraktekkan berbeda dalam negara-negara diseluruh dunia. Dan adat istiadat juga menentukan cara sebuah perusahaan mengiklankan dan memasarkan produk-produk mereka.
KULTUR MATERIL
Kultur materil terdiri dari objek-objek yang dibuat. Yang menjadi fokus adalah bagaimana orang membuat benda-benda (termasuk teknologi-teknologi yang dilibatkan) dan siapa yang membuatnya serta bagaimana hal tersebut dilakukan (ekonomi dan situasi). Dalam hal ini yang dibahas adalah infrastruktur ekonomi dasar seperti transportasi, komunikasi, dan energi. Infrastruktur sosial terdiri dari: sistem-sistem kesehatan, perumahan dan pendidikan negeri. Infrastrutur finansial menyediakan jasa-jasa perbankan, asuransi dan keuangan.
Estetika
Estetika terkait erat dengan selera-selera artistik dari suatu kultur. Yang mempelajari bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut mempengaruhi perilaku-perilaku.
Pendidikan
Pendidikan mempengaruhi banyak aspek dari kultur. Memberikan pemahaman tentang apa yang terjadi didunia. Dan membuat produktivitas ekonomi dan kemajuan teknologi lebih mudah dicapai.
Dimensi-dimensi kultur dan sikap
Bahasa, agama, niai-nilai serta sikap-sikap budi pekerti dan adat istiadat, barang-barang kebendaan, estetika dan pendidikan adalah unsur-unsur dari kultur yang menerangkan perbedaan-perbedaan prilaku dikalangan orang-orang dalam masyarakat, lokal, regional, kawasan dan global.
Dimensi-dimensi kultur
Geert Hofstede menemukan empat dimensi-dimensi kultur yaitu: 1. Jarak kekuasaan adalah kadar terhadap anggota-anggota yang kurang berkuasa dari organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga menerima kenyataan bahwa kekuasaan tidak didistribusikan secara merata. 2. Penghindaran ketidak pastian adalah sejauh mana orang-orang merasa terancam oleh situasi-situasi yang tidak menentu dan yang telah menciptakan lembaga-lembaga dan keyakinan-keyakinan untuk meminimumkan atau menghindari ketidakpastian-ketidakpastiaan. 3. Individualisme adalah kecenderungan dari orang-orang untuk mengurus diri mereka sendiri dan hanya keluaga dekat mereka. Hal ini berlawanan dengan kolektivisme merupakan kecenderungan orang-orang untuk menjadi bagian dari atau bergabung dengan kelompok-kelompok yang mengurus sesama dalam pertukaran untuk loyalitas. 4. Maskulinitas adalah ukuran yang diberikan kepada nilai-nilai dominan dari masyarakat dalam bentuk sukses, uang, dan benda. Hal ini merupakan lawan dari feminitas dimana ukuran nilai-nilai dominan dari masyarkat yang terkait dengan kepedulian bagi orang lain dan mutu hidup. Keempat dimensi tersebut mempengaruhi kultur suatu masyarakat secara menyeluruh yang bermuara pada suatu lingkungan yang unik.
Dimensi-dimensi sikap
Ronen dan Shenkar menemukan empat bidang kultur utama yaitu: 1. Pentingnya tujuan-tujuan kerja. 2. Definisi kebutuhan pemenuhan keinginan dan kepuasan dalam pekerjaan. 3. Variabel-variabel manajerial dan organisasi. 4. Peran kerja dan orientasi-orientasi antar perorangan. Sebuah perusahaan multinasional harus mengerti sifat dari kultur dimana perusahaan tersebut akan melakukan bisnisnya.
Kultur dan manajemen strategis
Yang diperhatikan adalah tiga aspek penting yaitu: 1. Sikap-sikap kerja adalah penting bagi perusahaan multinasional terhadap sikap-sikap tersebut karena dapat mempengaruhi baik kualitas maupun kuantitas output dari pekerja. Sikap kerja merupakan sebuah komitmen organisasi. 2. Motivasi keberhasilan. Kebutuhan akan keberhasilan merupakan suatu kebutuhan yang dipelajari, sebagian besar ditentukan oleh kultut yang berlaku. 3. Waktu dan masa depan adalah pandangan masyarakat mengenai waktu dan bagaimana seharusnya waktu tersebut dipergunakan.
Pelatihan kultur silang
Program-program orientasi kultur digerakan kearah pembiasaan personil dengan lembaga-lembaga kultur dan sistem-sistem nilai dari negeri tuan rumah. Asimilator kultur adalah pendekatan-pendekatan belajar terprogram yang khusus dipersiapkan khusus untuk memperkenalkan para individu dengan beberapa konsep-konsep dasar, sikap-sikap, adat istiadat, nilai-nilai dan persepsi-persepsi peran dari kultur lain.
*Resume materi kuliah Bisnis Internasional
Teriakkanku part1
Sampai hari ini jujur aku lelah. Memang harusnya tak ada yang dipermasalahkan. Toh hidupku baik2 saja. Seharusnya tak ada yang harus dikeluhkan. Toh semuanya berjalan biasa saja. Tapi batinku... Masih saja merengek, kakiku masih saja tak dapat berdiri sendiri, bahkan sifatku yang manja tak kunjung selesai. Entah kapan datang kemandirian itu.
Aku masih saja mengeluhkan hidupku yang besar tanpa seorang ayah sejak 14thn lalu. Dan aku masih saja merenungi bagaimana hidupku dapat berlanjut tanpa satu pun orang tua disisiku sejak ibuku tiada pertengahan 2012 lalu.
Yah memang, aku lahir dari 9 bersaudara. Dan aku yang kesembilan itu, artinya aku terakhir. Seharusnya tak ada yang aku pikirkan, toh kakak ku banyak. Tapi justru entah mengapa aku selalu merasa sendiri. Karna disisi lain ada masalah internal keluarga yang sangat berbelit. Masalah yang mungkin nanti akan kuceritakan disini. Itu salah satu alasan mengapa aku merasa sendiri.
Aku masih saja mengeluhkan hidupku yang besar tanpa seorang ayah sejak 14thn lalu. Dan aku masih saja merenungi bagaimana hidupku dapat berlanjut tanpa satu pun orang tua disisiku sejak ibuku tiada pertengahan 2012 lalu.
Yah memang, aku lahir dari 9 bersaudara. Dan aku yang kesembilan itu, artinya aku terakhir. Seharusnya tak ada yang aku pikirkan, toh kakak ku banyak. Tapi justru entah mengapa aku selalu merasa sendiri. Karna disisi lain ada masalah internal keluarga yang sangat berbelit. Masalah yang mungkin nanti akan kuceritakan disini. Itu salah satu alasan mengapa aku merasa sendiri.
Bersambung...
Tangerang,
13 Febuari 2013
Tangerang,
13 Febuari 2013
Dampak Positif dan Negatif Globalisasi
DAMPAK POSITIF
- Komunikasi Semakin Mudah dan Cepat
Semakin mudahnya komunikasi saat ini baik melalui internet, media televisi, maupun media cetak. Dulu membutuhkan waktu lama (berhari-hari) untuk berkomunikasi melalui media komunikasi konvensional surat menyurat. Tetapi saat ini masyarakat lebih menyukai menggunakan media komunikasi yang mudah dan cepat yaitu dengan telepon, internet dan sosial media. Kemajuan di bidang teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi yang memudahkan kehidupan manusia.
- Berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang pesat Memudahkan memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan. Sehingga mudahnya akses menuntut ilmu diluar negeri. Mempunyai mobilitas yang tinggi. Dapat mengundang turisme untuk meningkatkan pariwisata dan membantu pembangunan negara.
- Laju perekonomian berkembang pesat menarik para insvestor
Globalisasi membuat laju perekonomian dinegeri ini semakin menggeliat. Indonesia juga selalu dilirik oleh dunia internasional sebagai tempat terbaik untuk berinvestasi terutama untuk sektor pertambangan, pertanian dan industri tekstil. Sehingga dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik. Hal ini bisa mengatasi kelangkaan modal di Indonesia. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri. Dengan masuknya nilai-nilai barat untuk Meningkatkan etos kerja yang tinggi, suka bekerja keras, disiplin, mempunyai jiwa kemandirian, rasional, sportif, dan lain sebagainya.
- Meningkatnya Taraf Hidup Masyarakat
Dunia yang tanpa batas saat ini memungkinkan seseorang untuk berusaha meningkatkan taraf hidupnya dan juga keluarganya. Tidak sedikit warga negara kita yang bekerja diluar negeri untuk membiayai kebutuhan keluarganya didalam negeri. Hal ini ditandai dengan Semakin mudah mengakses modal investasi dari luar negeri. Semakin mudah memperoleh barang-barang yang dibutuhkan masyarakat dan belum bisa diproduksi di Indonesia.Semakin meningkatnya kegiatan pariwisata, sehingga membuka lapangan kerja di bidang pariwisata sekaligus menjadi ajang promosi produk Indonesia. Meskipun demikian, sudah seharusnya era globalisasi ini diimbangi dengan manusia yang berpendidikan dan berkarakter.
DAMPAK NEGATIF
- Westernisasi (kebarat-baratan)
Dampak negatif globalisasi yang juga dirasakan oleh bangsa Indonesia saat ini adalah menjamurnya budaya barat. Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, dan lain-lain. Informasi yang tidak tersaring sehingga menimbulkan pengaruh seperti pornografi dan aksi, kekerasan, dan pergaulan bebas. Kenyataannya saat ini banyak sekali budaya barat di Indonesia tetapi sebaliknya jarang sekali orang-orang yang mau melestarikan budaya asli Indonesia itu sendiri.
- Sikap Individualiasme
Saat ini, kita memerlukan bantuan alat atau perangkat untuk mempermudah aktifitas kita dan kita merasa tak perlu lagi bantuan manusia. Hal ini yang menyebabkan manusia semakin individualistik, padahal hakikat manusia sebenarnya adalah mahluk sosial. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan menyebabkan orang-orang cenderung individualistis. Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.
- Kesenjangan sosial semakin besar
Sudah menjadi rahasia bersama jika antara orang miskin dan orang kaya dinegeri ini sangat besar sekali. Satu sisi globalisasi membuka peluang untuk orang-orang yang berpendidikan, sedangkan disatu sisi lagi globalisasi membuat orang-orang kecil semakin sulit bertahan hidup. Ini yang menyebabkan kesenjangan sosial di Indonesia semakin lebar setiap tahunnya. Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial.
- Pola Hidup Konsumtif
Sifat Konsumtif dibentuk oleh kita yang cenderung berbelanja produk-produk yang kita inginkan bukan yang kita perlukan. Kemudahan akses dalam berbelanja dan menbanjirnya produk-produk branded menyebabkan pola hidup konsumtif semakin merajalela. Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.
*Dicatat dan digunakan sebagai catatan matakuliah Globalisasi
*Dicatat dan digunakan sebagai catatan matakuliah Globalisasi
Analisis Kasus Ekonomi Politik : KEBIJAKAN PRIVATISASI
Privatisasi
adalah menjual perusahaan negara didalam periode krisis. Tujuannya adalah
melindungi perusahaan negara dari interversi kekuatan-kekuatan politik dan
melunasi pembayaran utang luar negri.
Secara teori, privatisasi membantu terbentuknya
pasar bebas, mengembangnya kompetisi kapitalis, yang oleh para pendukungnya
dianggap akan memberikan harga yang lebih kompetitif kepada publik. Sebaliknya, para sosialis menganggap
privatisasi sebagai hal yang negatif, karena memberikan layanan penting untuk
publik kepada sektor privat akan menghilangkan kontrol publik dan mengakibatkan
kualitas layanan yang buruk, akibat penghematan-penghematan yang dilakukan oleh
perusahaan dalam mendapatkan profit.
Privatisasi, dalam perspektif
nasionalisme memegang peranan penting dalam pembangunan perekonomian nasional.
Penjualan aset publik kepada pihak swasta mengurangi peran pemerintah dalam
mengalokasikan sumber daya publik kepada masyarakat. Orientasi pembangunan yang
mengacu kepada pertumbuhan ekonomi yang pesat menuntut partisipasi pihak swasta
dan asing untuk secara aktif terlibat dalam proses pembangunan nasional.
Pertimbangan dan tujuan dari
privatisasi dari setiap negara berbeda-beda, pertimbangan aspek politis yang
utama dari privatisasi mencerminkan adanya kesadaran bahwa beban pemerintah
sudah terlalu besar, sementara sektor swasta lebih dapat melakukan banyak hal
secara efisien dan efektif dibandingkan dengan lembaga pemerintah dan
kegiatan-kegiatan yang terkait bisnis. Pandangan dari sisi manajemen puncak
perusahaan, tujuan privatisasi lebih ditekankan kepada manfaat terhadap
pengelolaan perusahaan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Privatisasi sebagai salah satu
isu yang sangat penting dalam upaya mewujudkan demokratisasi ekonomi yang
melibatkan pihak swasta baik swasta nasional maupun asing, untuk secara aktif
terlibat dalam proses pembangunan.
Dalam analisis ini teori yang diambil dari teori Ekonomi Politik
adalah:
Teori Pilihan
Rasional.
Buchanan (1972) menjelaskan bahwa
Teori Pilihan Rasional adalah teori ekonomi neoklasik yang diterapkan pada
sektor publik yang mencoba menjembatai antara ekonomi mikro dan politik dengan
melihat pada tindakan warga, politisi, dan pelayan publik sebagai analogi
terhadap kepentingan pribadi dan konsumen.
Adam Smith, pengarang The
Wealth of Nation (1776), menjelaskan bahwa “orang betindak untuk
mengejar kepentingan pribadi mereka, melalui mekanisme “the invisible
hand” menghasilkan keuntungan kolektif yang memberi manfaat pada seluruh
masyarakat”.
Heckathorn, dalam (Ritzer and Smart,
2001), memandang bahwa memilih itu sebagai tindakan yang bersifat rasional
dimana pilihan tersebut sangat menekankan pada prinsip efisiensi dalam mencapai
tujuan dari sebuah tindakan.
Kaum klasik
menegaskan bahwa manusia rasional adalah yang selalu berusaha memilih
alternatif terbaik dari berbagai pilihan yang tersedia, sesuai kendala dan
keterbatasan yang dimiliki.
Bagi pakar
ekonomi politik baru, yang penting adalah bahwa pilihan rasional bisa
dilaksanakan, baik oleh pribadi-pribadi atau oleh pemerintah. Mereka tidak
menolak kerangka eksistensi politik, tetapi mereka mengasumsikan bahwa perilaku
politik dan institusi-institutsi politik bisa dianalisis seperti halnya
perilaku ekonomi dan institusi-institusi pasar[1].
Pendekatan pilihan publik
Pilihan
publik adalah suatu sikap individu dalam menentukan pilihan mereka secara
rasional. Dalam ekonomi politik,
analisisnya tertuju pada aktor. Aktor
dianggap sebagai pelaku dari kegiatan ekonomi dan politik dan berlandaskan pada
asumsi dasar individualisme metodologis, yang menempatkan sikap rasional
idividu di dalam institusi non-pasar.[2]
Privatisasi merupakan kebijakan yang diambil
pemerintah untuk mendapatkan devisa bagi negara dengan menjual sebagian saham
milik aset milik negara ke pihak lain. Kebijakan Privatisasi sendiri diatur
oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1999. Seperti fungsinya sebuah kebijakan
privatisasi merupakan kebijakan yang diambil dari usulan yang di bawa atau
diberikan oleh pemerintah sebagai upaya untuk menstabilkan kondisi keuangan dan
untuk meningkatkan devisa atau penerimaan negara, dan harus mendapat persetujuan
dari DPR RI terlebih dahulu baru kebijakan tersebut bisa diambil. Oleh karena
itu kebijakan privatisasi merupakan salah satu kebijakan ekonomi politik
Indonesia yang diharapkan dapat membawa manfaat yang besar bagi Indonesia.
Salah satu kasus privatisasi yang mendapat
persetujuan DPR RI dan yang sudah terjadi adalah penjualan sebagian saham PT
Indosat Tbk dan PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) Tbk kepada pihak luar,
dalam hal ini sebagian saham yaitu sebesar 35 persen saham Telkomsel dibeli
oleh Singapore Telecom (Singtel) dan sebagian saham Indosat yaitu sebesar 41,94
persen saham dibeli oleh Singapore Technologies Telemedia (STT).
Privatisasi
merupakan salah satu pilihan pemerintah yang diambil untuk menstabilkan kondisi
keuangan negara dan untuk menambah devisa dari hasil penjualan sebagian saham
BUMN atau aset milik negara lainnya ke investor atau pihak lain yang memiliki
kemampuan management dan financial, baik di dalam dan luar negeri.
Dengan demikian, dalam kaitannya dengan rasionalitas tindakan pembuatan
kebijakan publik, tidak semata-mata didasarkan pada efisiensi anggaran semata.
Sebagaimana dinyatakan di awal bahwa kebijakan publik haruslah sampai pada akar
permasalahan publik sehingga dapat menjadi solusi. Memaksimalkan keuntungan dan
meminimalkan biaya, ada kaitannya dengan rasionalitas pemilihan tindakan
tersebut harus memperhatikan berbagai macam aspek dan bukan hanya tergantung
pada kepentingan pribadi saja.
Good Governance adalah cara mengatur
pemerintahan yang memungkinkan layanan publiknya efisien, sistem pengadilannya
bisa diandalkan dan administrasinya bertanggung jawab pada publik (Meier,
1991:299-300). Dan dalam pemerintahan seperti ini mekanisme pasar merupakan
pertimbangan utama dalam proses pembuatan keputusan mengenai alokasi sumber
daya.
Konsep privatisasi seharusnya
diarahkan terutama untuk kepentingan perusahaan dalam rangka pengembangan
usahanya, tidak semata-mata untuk menutup APBN. Untuk pengembangan usaha,
perusahaan memerlukan tambahan modal dan salah satunya berasal dari penerbitan
saham yang dijual ke publik. Dengan tambahan modal tersebut perusahaan
mempunyai kapasitas untuk meminjam sehingga dimungkinkan untuk memperoleh dana
pinjaman dari kreditur. Kombinasi dari modal intern dan ekstern ini
memungkinkan perusahaan mengembangkan usahanya ke peningkatan volume, penciptaan
produk dan atau jenis usaha yang dinilai feasible sehingga volume pendapatannya
meningkat yang pada gilirannya dapat meningkatkan laba perusahaan.
Pengembangan usaha berarti juga
peningkatan lapangan kerja. Dengan usaha baru terdapat posisi tenaga kerja yang
harus diisi. Pengisian tenaga pada posisi baru tersebut dapat berasal dari
intern atau ekstern perusahaan. Dengan cara seperti ini akan terjadi penciptaan
lapangan kerja baru. Pola privatisasi seperti itu juga berdampak pada
pertumbuhan ekonomi. Tambahan modal yang masuk ke perusahaan dapat dipakai
untuk menciptakan value added, yang berasal dari peningkatan kegiatan usaha,
yang pada akhirnya akan menciptakan pertumbuhan ekonomi.
Privatisasi yang hanya berupa
pengalihan saham pemerintah ke pihak lain tidak berdampak langsung pada
perusahaan karena tidak mempengaruhi besarnya modal. Yang terjadi adalah
perpindahan kepemilikan dari perusahaan tersebut. Dengan pemindahan kepemilikan
saham tersebut, hak penerimaan deviden berubah dari pemerintah ke pemilik baru.
Sementara itu penerimaan hasil penjualan saham masuk ke APBN yang akan habis
dipakai untuk tahun anggaran dimaksud. Dalam jangka pendek mendatangkan cash
akan tetapi dalam jangka panjang merugikan APBN karena penerimaan deviden akan
berkurang pada tahun-tahun berikutnya.
Dengan mekanisme dan kriteria
apapun, tetap ada resiko permainan antara peserta tender dengan pemutus tender.
Sebaliknya penjualan saham kepada publik yang jumlah investornya banyak tidak
memerlukan proses tender dan hanya melaui proses penjatahan yang berlaku umum
dengan jumlah investor relatif banyak. Pola privatisasi ini juga dapat dipakai
untuk saran pemerataan kepemilikan asset nasional yang tidak selayaknya
dikuasai oleh kelompok minoritas tertentu.
Sesungguhnya kesemuanya ini telah
diamanatkan oleh rakyat melalui wakil-wakil di MPR dengan ditetapkannya
Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara
Tahun 1999 yang telah mengamanatkan agar dilakukan penyehatan BUMN terutama
yang usahanya berkaitan dengan kepentingan umum. BUMN yang usahanya tidak
berkaitan dengan kepentingan umum didorong untuk privatisasi melalui pasar
modal. Disamping itu privatisasi sebagai bagian dari kebijakan publik
diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan sector publik.
Privatisasi juga dinyatakan
sebagai salah satu kebijakan strategis yang dilakukan oleh manajemen BUMN untuk
meningkatkan efisiensi pengelolaan badan usaha milik negara. Pelaksanaan
privatisasi diharapkan dapat menciptakan good corporate governance dilingkungan
badan usaha milik negara sekaligus juga mewujudkan good public governance di
sektor publik.
KESIMPULAN
Kebijakan ekonomi politik
Indonesia dalam hubngannya dengan privatisasi Telkomsel dan Indosat masih belum
memihak kepada kepentingan dan kebutuhan publik.
Masih lemahnya hukum dan
perundangan yang berhubungan dengan kebijakan privatisasi yang dilakukan
pemerintah.
Selain mendapat persetujuan
Pemerintah dan DPR RI, Kebijakan privatisasi sebaiknya melibatkan seluruh
stackholders yang berhubungan dengan perusahaan yang akan diprivatisasi.
Kebijakan privatisasi dari
Telkomsel dan Indosat harus ditinjau kembali dan pemerintah serta DPR RI agar lebih mengetatkan regulasi dan pembuatan perundang-undangan yang dapat
memback-up kebijakan Privatisasi.
