Laman

SEJARAH PERKEMBANGAN STUDI LINGKUNGAN HINGGA MENJADI KAJIAN DALAM DISIPLIN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

PENDAHULUAN

Pertambahan penduduk dan kemajuan teknologi, dulu, kini, dan hari esok telah menuntut ditingkatkannya persediaan bahan pangan dan bahan baku energy. Kenyataannya sekarang daya dukung sumber daya alam semakin labil akibat pemanfaatan yang semakin seenaknya.

Isu lingkungan hidup menjadi sebuah topik dikarenakan adanya kesadaran bahwa jumlah masyarakat yang terus meningkat mengakibatkan aktivitas sosial ekonomi manusia yang mengancam lingkungan. Faktor terpenting dalam permasalahan lingkungan adalah besarnya populasi manusia (laju pertumbuhan penduduk). Pertumbuhan penduduk yang pesat menimbulkan tantangan yang dicoba diatasi dengan pembangunan dan industrialisasi. Namun industrialisasi disamping mempercepat persediaan segala kebutuhan hidup manusia juga memberi dampak negatif terhadap manusia akibat terjadinya pencemaran lingkungan. Sebelumnya orang menduga masalah lingkungan global lebih banyak dipengaruhi faktor alam, seperti iklim, yang mencakup temperatur, curah hujan, kelembaban, tekanan udara dll. Belakangan orang mulai menyadari bahwa aktifitas manusia pun mempengaruhi iklim dan lingkungan secara signifikan. Ambilah contoh penebangan hutan, mempengaruhi perubahan suhu dan curah hujan secara lokal. Ketika area hutan yang hilang semakin luas, maka akibat yang ditimbulkan bukan lagi lokal tapi sudah berskala regional. Menjadi masalah global yang mempengaruhi lingkungan juga misalnya pertumbuhan penduduk dunia yang amat pesat. Pertumbuhan penduduk memiliki arti pertumbuhan kawasan urban dan juga kebutuhan tambahan produksi pangan. Belum lagi ada peningkatan kebutuhan energi. Pada masing-masing kebutuhan ini ada implikasi pada lingkungan.

Dalam ilmu lingkungan manusia mempunyai hak khusus, semuanya dipandang dari kepentingan manusia, tetapi manusia juga harus mempunyai tanggung jawab yang paling besar terhadap lingkungannya dimana tanggung jawab ini tidk mungkin diserahkan kepada makhluk hidup lain. Manusia memandang alam dari sudut pandang manusia, yaitu antroposentrik. Manusia menganggap alam diciptakan untuk kepentingan dirinya. Secara implisit bahwa sudah sejak lama telah dibutuhkan bangun alam agar tercipta lingkungan yang sesuai dengan kehidupan manusia. Ilmu dan tekhnologi diciptakan untuk menguasai alam. Dengan pandangan antroposentrik yang disertai dengan keinginan taraf hidup yang makin tinggi dan perkembangan ilmu dan teknologi yang amat pesat, eksploitasi lingkungan semakin meningkat. Kecenderungan peningkatan itu ditambah pula oleh anggapan adanya sumber daya umum yang dimiliki bersama atau boleh dikatakan tidak ada yang memiliki. Oleh karena itu perlunya mempelajari ilmu lingkungan hidup agar dapat menempatkan diri sesuai dengan porsinya di dalam lingkungan yang harus kita jaga.

SEJARAH PERKEMBANGAN STUDI LINGKUNGAN HIDUP GLOBAL

Isu lingkungan hidup pertama kali diangkat sebagai sebagai salah satu agenda dalam pertemuan negara-negara dalam ranah hubungan internasional pada tahun 1970-an, hal ini ditandai dengan diselenggarakannya Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang lingkungan hidup pada tahun 1972 di Stockholm, Swedia yang lebih dikenal dengan Stockholm Conference. Sejak tahun ini isu lingkungan hidup dan pembangunan menjadi agenda penting di forum regional dan multirateral hal ini dikukuhkan dengan diadakannya beberapa pelaksanaan konverensi internasional antara lain: pertama, Mengenai "HUMAN INVIRONMENT" di Stocholen Swedia. Konverensi kedua dalam sidqng majelis umum PBB ke-27 membentuk "Governing Council United Nations Environmen Program (GC-UNEP) yang memberi mandat antara lain: 1. Mendorong kerjasama internasional  di lingkungan hidup. 2. Menerbitkan laporan mengenai kondisi lingkungan global termasuk mengkaji dampak penerapan dampak kebijakan dalam lingkungan bagi kegiatan-kegiatan pembangunan di negara berkembang. Setelah itu tahun 1982 disahkan "World Chapter for nature" dan "Deklarasi Nairobi" yang isinya menekankan kembali keprihatinan masyarakat dunia terhadap semakin meningkatnya kerusakan lingkungan dan urgensinya penanganan masalah ini melalui kerjasama global. Kemudian Konverensi Tingkat Tinggi (KTT) bumi di rio de jenairo brazil tahun 1992. Yang menegaskan penilaian masyarakat internasional perlindungan masalah lingkungan hidup menjadi masalah bersama dan pembangunan lingkungan hidup tidak lepas dari pembangunan sosial dan ekonomi.

Konferensi yang diadakan oleh PBB yang diadakan di Stockholm Swedia dengan alasan semakin menurunnya kualitas lingkungan dan semakin meningkatnya konsen masyarakat dunia pada saat itu, dalam hal ini juga didasarkan atas kekhawatiran banyak kalangan pemerhati lingkungan di Eropa. Selain itu pada saat itu juga terbit buku riset kajian Club of Rome, yang berjudul The Limits to Growth, Club of Rome merupakan kelompok think thank berpengaruh di Eropa, dalam buku tersebut memaparkan bahwa seiring kemajuan pesat indutri dan pertumbuhan penduduk dunia sumber daya alam di bumi semakin menipis, dimana kemudian hal ini menjadi penyebab negatif yang merusak tata lingkungan global yang jika keadaan seperti ini terus dibiarkan akan berefek buruk dan menciptakan krisis pangan dan krisis sumber daya secara global.

Konferensi lingkungan hidup PBB yang berlangsung di Stockholm tersebut kemudian menghasilkan sebuah resolusi mengenai pembentukan United Nations Environmental Program (UNEP), dapat dikatakan bahwa UNEP merupakan awal pelaksana komitmen mengenai lingkungan hidup dalam hubungan kerjasama antar negara, yang kemudian melahirkan gagasan dari pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) dengan pertemuan-pertemuan serta pembahasan yang berkesinambungan, dan diangkat secara global dalam forum dan konferensi internasional. Dalam perkembangannya konferensi-konferensi internasional yang membahas mengenai masalah lingkungan dari tahun ketahun seperti yang tertera diatas, terus diadakan dalam mencari solusi dalam penanggulangan masalah yang dianggap sulit dalam tata lingkungan hidup global saat ini, pertemuan antar negara-negara dalam membahas masalah lingkungan hidup terangkum dalam UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change), dimana hasil dari salah satu pertemuan UNFCCC yang diadakan yaitu mengenai kesepakatan negara-negara pada tahun 1997 untuk membuat konsensus penanganan lingkungan yang dirangkum dalam suatu protokol yang disebut Protocol Kyoto, hingga dalam perkembangan berikutnya pertemuan lingkungan yang melibatkan negara-negara masih terus dilakukan dalam lingkup UNFCCC.


SEJARAH PERKEMBANGAN STUDI LINGKUNGAN HINGGA MENJADI DISIPLIN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


Di era modern saat ini, HI muncul sebagai studi yang mempelajari isu-isu dalam lingkup internasional yang menjadikan studi ini sebagai ilmu yang sangat dinamis keberadaanya. HI mengkaji permasalahan yang berbau politik seperti perang, isu perdamaian, ataupun kedaulatan negara yang diagung-agungkan eksistensinya. Padahal dalam era yang mengglobal ini, isu kesadaran lingkungan, kemiskinan dunia, ekonomi, atau terorisme merupakan masalah yang masuk dalam cakupan kajian Hubungan Internasional. karena keberadaannya dapat menjadi dampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi.

Caroline Thomas (dalam Faripasha 2009: 28) menyebutkan respon masyarakat internasional terhadap perubahan iklim global dibagi dalam tiga fase.
1. Fase pertama yakni fase meningkatnya kerja sama para ilmuwan dalam mengembangkan wawasan dan pengetahuan tentang permasalahan perubahan iklim. Fase ini terjadi pada tahun 1972 hingga 1988.
2. Fase kedua yakni pada periode tahun 1988 hingga 1990. Pada fase ini pemanasan global telah masuk dalam wacana politik serta negara – negara mulai mengadakan berbagai pertemuan untuk mendiskusikan mengenai respon terhadap pemanasan global serta melahirkan gagasan untuk membentuk panel ilmuwan.
3. Fase ketiga, yakni pada periode setelah tahun 1990. Dalam fase ini, negarawan mulai menegosiasikan konvensi internasional pemanasan global melalui komite negosiasi antar pemerintah (International Negotiating Committee/ INC) dalam rangka pembentukan kerangka konvensi. Negosiasi mengenai perubahan iklim ini terus menerus diselenggarakan oleh INC hingga KTT Bumi UNCED tahun 1992 di Rio de Janeiro (Faripasha 2009: 29).

Isu lingkungan hidup dipandang secara berbeda oleh perspektif – perspektif yang ada dalam hubungan internasional. Isu lingkungan hidup menjadi perdebatan utama antara kaum modernis dan ekoradikal (Jackson & Sorensen 1999, 326). Kaum modernis berpendapat bahwa lingkungan hidup bukan masalah yang serius. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akan memungkinkan kita melindungi lingkungan hidup yang ada. Berbeda dengan pandangan kaum modernis, kaum ekoradikal memiliki pendapat yang jauh berbeda. Menurut mereka (kaum ekoradikal) lingkungan hidup merupakan masalah yang serius. Perubahan drastis dalam gaya hidup masyarakat ditambah pengendalian populasi untuk memajukan pembangunan berkelanjutan adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Selain itu juga terdapat pemikiran bahwa masalah kerusakan lingkungan, seperti global warming merupakan hasil konstruksi dari negara – negara maju.

Menurut Greene, ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa isu lingkungan ni nmnenjadi salah satu fokus penting dalam Hubungan Internasional. Yang pertama, beberapa masalah lingkungan hidup sudah menjadi permasalahan global. Seperti emisi gas yang menyebabkan perubahan iklim di seluruh dunia. Yang kedua, beberapa masalah lingkungan berhubungan dengan eksploitasi sumber daya yang dimiliki bersama. Misal jika pembuangan limbah dilakukan di laut perbatasan dua negara tentu dampaknya juga akan mengenai kedua negara tersebut. Yang ketiga, banyak masalah lingkungan yang sifatnya transnasional dan tak terikat oleh batas wilayah. Yang keempat, meskipun permasalahnnya hanya tingkat lokal, namun dialami lintas negara. Yang kelima, permasalah lingkungan berkaitan juga dengan ekonomi-sosial maupun politik.

Permasalahan lingkungan hidup menjadi sangat kompleks karena menyankut eksploitasi terhadap sumber daya global seperti lautan, suhu bumi dan atmosfir sehingga kerusakan di suatu negara akan berdampak dan mengancam pada negara lain pula, selain itu pada masa ini masalah lingkungan hidup bukan lagi menjadi suatu kajian masalah yang hanya melibatkan negara saja sebagai aktor dalam penanganannya. Seiring dengan perkembangannya isu-isu dan masalah lingkungan hidup masuk dalam ranah hubungan internasional organisasi-organisasi seperti NGO (Non Governmental Organization) dan bahkan individu-individu turut dalam penanganan masalah lingkungan hidup.

Saat ini dunia internasional telah menyentuh ranah lingkungan. Karana masalahnya yang semakin kompleks. Hal ini didasari oleh semakin memprihatinkannya kondisi lingkungan yang terus menerus tercemar dari waktu kewaktu. Hubungan Internasional telah berkembang pada isu – isu lingkungan global yang dilatar belakangi oleh :
1. pertama, masalah lingkungan yang saat ini tengah dihadapi manusia mempengaruhi kehidupan setiap manusia dan solusi yang tepat adalah pengelolaan secara efektif dengan melakukan kerja sama dengan sebagaian bahkan semua negara di dunia.
2. Kedua, permasalahan lingkungan telah menunjukkan peningkatan baik dalam skala regional maupunn lokal. Contohnya, degradasi urban, penggundulan hutan, dan kelangkaan air.
3. Ketiga, terdapat hubungan yang kompleks antara permasalahan lingkungan dan perekonomian yang mengglobal.
Tiga hal itu yang pada umumnya menjadikan lingkungan hidup global masuk dalam disiplin Hubungan Internasional.

Dalam isu lingkungan hidup terdapat beberapa fokus masalah, salah satunya adalah masalah pemanasan global (Global Warming) yang secara mencakup terhadap masalah kelestarian hutan, perubahan iklim, dan fenomena alam dalam hal ini bukan hanya mencangkup urusan suatu negara saja melainkan menjadi urusan internasional yang dampaknya pun akan dirasakan oleh seluruh manusia dinunia. Oleh karenanya, isu-isu dan masalah lingkungan hidup menjadi urusan internasional yang mencangkup negara seluruh dunia.


REFERENSI
Faripasha, Erik. (2009). Dinamika Kemunculan Rezim Lingkungan Global dan Politik Lingkungan Hidup Global. dari: http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/131877-T%2026745-Kebijakan%20luar-Tinjauan%20literatur.pdf

Jackson, R, & Georg Sorensen. 1999. Pengantar Studi Hubungan Internasional (terj. Dadan Suryadipura,Introduction to International Relations). Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Dari: http://alberta-nilasari-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82231-Teori%20Hubungan%20Internasional-Week%2010.html

Karns, Margaret P. & Mingst, Karen A. (2004). International Organizations: The Politic and Processof Global. Dari: http://sausan-n-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-46604-Umum-IsuIsu%20Lingkungan%20Hidup%20dalam%20Hubungan%20Internasional.html

Akses Dari: http://www.slideshare.net/iwanpalembang/bab-v-masalah-lingkungan-b

Akses internet Dari: http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=8697&type=10#.Un-T3X0xW2c

*digunakan sebagai tugas studi lingkungan global

Bisnis Internasional 2

PERENCANAAN STRATEGIS GLOBAL

Perencanaan strategis merupakan proses organisasi untuk menentukan arah, tujuan, strategi, yang mengimplementasikan rencana aksi serta membuat keputusan guna mealokasikan sumber daya dengan tujuan melaksanakan strategi serta mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Komponen-komponen dalam perencanaan strategis ini mencangkup visi, misi, nilai-nilai, dan strategi organisasi. Visi merupakan pandangan jangka panjang yang akan terealisasi dimasa depan yangnmengacu kepada sebuah tujuan organisasi tersebut. Misi merupakan tindakan-tindakan nyata dan strategi yang digunakan unyukmencapai visi tersebut. Sedangkan nilai merupakan sebuah kepercayaan dan kesepakatan para pemegang kepentingan dalam organisasi tersebut. Strategi dapat dinamakan faktor-faktor penunjang serta cara-cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Empat kecenderungan dalam konteks NMC yang dapat mempengaruhi proses perencanaan strategis.
1. Entrosentris. Adalah Rencana yang disusun tergantung pada nilai dan kepentingan perusahaan induk.
2. Polisentris adalah rencana yang disusun atas dasar memperlihatkan kebutuhan kultur atau budaya setempat.
3. Regiosentris adalah rencana keuntungan dan penerimaan yang dipakai untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan regional.
4. Geosentris merupakan perencanaan dengan pandangan global membuat produk global dengan variasi lokal.

Proses perencanaan strategis

Tahap pertama adalah Formulasi Strategis yang dilakukan bedasarkan hasil evaluasi lingkungan eksternal maupun internal dan identifikasi tujuan jangka panjang dan pendek. Dalam lingkup eksternal mencangkup pengumpulan dan penilaian informasi. Prosesnya mempertimbangkan 5 penentu daya saing yaitu: para pembeli, pemasok, pendatang baru dalam industri, ketersediaan barang dan jasa pengganti, serta kompetisi diantara para pesaing. Dalam lingkungan internal dipertimbangkan mengenai: sumber daya fisik perusahaan, kompetisi personil, cara-cara untuk memberdayakan sumberdaya tersebut secara strategis dan menguntungkan bagi bisnis NMC itu.

Tahap kedua, Implementasi Strategi merupakan proses pelaksanaa yang dibuat guna mencapai tujuan organisasi tersebut. Aspek yang dipertimbangkan adalah lokasi, keputusan kepemilikan, dan implementasi bidang fungsional. Termasuk pemasaran, yang mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan rencana untuk memproduksi barang/jasa yang diinginkan konsumen. Manufakturing terkait dengan rencana pemasaran yang memastikan produk yang dibuat, dijual pada waktunya, serta berkoordinasi dengan SDM akan teknologi dan pembelian. Keuangan, Pembelian, dan terakhir Teknologi dan SDM.

Tahap ketiga adalah Pengawasan dan evaluasi proses dimana evaluasi ini melibatkan bagaimana cara kerja bisnis NMC dalam pelaksanaan untuk mencapai tujuannya. Serta melakukan pengawasan terkait kegiatan bisnis dalam mencapai tujuan yang telah dilakukan. Diukur dengan Return on investment, pertumbuhan penjualan, pangsa pasar, biaya pengembangan produk baru, hubungan dengan negara tuan rumah, dan kinerja manajemen secara keseluruhan.

*sebagai resume mata kuliah bisnis internasional.

BISNIS INTERNASIONAL 1

KULTUR INTERNASIONAL

Kultur adalah pengetahuan perolehan yang dipergunakan orang untuk menginterpretasikan pengalaman dan membangkitkan prilaku sosial (Hodgetts dan Luthans, 1991, 35). Kultur membentuk nilai-nilai dan sikap-sikap serta perilaku perorangan dan kelompok. Suatu tantangan dalam bisnis internasional guna memperluas perspektif untuk menghindari pembuatan keputusan-keputusan bisnis atas dasar konsepsi-konsepsi yang salah. Sebab konsepsi yang salah adalah etnosentrisme, merupakan keyakinan bahwa cara seseorang melakukan sesuatu adalah lebih unggul dari yang lain. Prilaku etnosentrisme adalah patronisasi, tidak menghormati, atmosfir superioritas, dan prilaku yang tidak kenyal. Contoh dalam dunia bisnis adalah: 1). Tidak menyesuaikan produk dengan kebutuhan khusus pasar tertentu. 2). Membawa peluang keuntungan tanpa re-investasi dalam pasar luar negri. 3). Mengisi posisi kunci pada unit-unit usaha diluar negri dengan para manajer nasionalnya sendiri yang telah melakukan tugas secara baik dalam negri tetapi tanpa pengalaman internasional.
Unsur-unsur kultur
1. Bahasa
Bahasa adalah kritikal bagi kultur oleh karna bahasa merupakan sarana yang dipakai untuk menyampaikan informasi dan ide-ide. Bahasa dapat (a) memberi peluang bagi pemahaman lebih jelas bagi situasi. (b) memberikan akses langsung kepada orang-orang setempat. (c) memberikan peluang bagi yang bersangkutan untuk mampu memetik nuansa-nuansa, arti-arti yang berimplikasi dan informasi-informasi lain yang tidak dinyatakan langsung dan terbuka. Sehingga bahasa membantu seseorang dalam memahami kultur.
2. Agama
Agama merupakan keyakinan seseorang. Terdapat beberapa agama didunia antara lain: Islam, Yahudi, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konfusius. Agama dapat mempengaruhi gaya hidup, keyakinan, nilai, dan sikap dan dapat pula mengandung akibat dramatis terhadap cara orang dalam bertindak, satu dengan yang lain serta terhadap mereka dalam masyarakat yang lain.
3. Nilai-nilai dan sikap-sikap
Nilai-nilai merupakan keyakna dasar yang dimiii seseorang tentang apa yang salah dan yang benar, baik dan tidak baik, penting dan tidak penting. Sikap adalah perilaku seseorang dalam bertindak. Sikap-sikap yang bersumber dari niai-nilai langsung mempegaruhi bisinis internasional. Dengan menyadari bahwa nilai-nilai dan sikap-sikap dari orang-orang dalam kultur, perusahaan bisnis dapat secara efektif memposisikan produknya. Dalam hal-hal tertentu terdapat pula sikap-sikap negatif terhadap barang-barang buatan asing, menyebabkan perusahaan-perusahaan tertetu tidak menekankan asal mereka.
4. Adat istiadat dan budi pekerti
Adat istiadat adalah praktek-praktek yang umum dan baku. Budi pekerti adalah
prilaku-prilaku yang dianggap sesuai atau pantas dalam suatu masyarakat. Adat istiadat menentukan bagaimana sesuatu hal dilakukan, sedang budi pekerti dipergunaan dalam melaksanakannya. Adat istiadat kemasyarakatan dan budi pekerti yang dianut dan dipraktekkan berbeda dalam negara-negara diseluruh dunia. Dan adat istiadat juga menentukan cara sebuah perusahaan mengiklankan dan memasarkan produk-produk mereka.
KULTUR MATERIL
Kultur materil terdiri dari objek-objek yang dibuat. Yang menjadi fokus adalah bagaimana orang membuat benda-benda (termasuk teknologi-teknologi yang dilibatkan) dan siapa yang membuatnya serta bagaimana hal tersebut dilakukan (ekonomi dan situasi). Dalam hal ini yang dibahas adalah infrastruktur ekonomi dasar seperti transportasi, komunikasi, dan energi. Infrastruktur sosial terdiri dari: sistem-sistem kesehatan, perumahan dan pendidikan negeri. Infrastrutur finansial menyediakan jasa-jasa perbankan, asuransi dan keuangan.
Estetika
Estetika terkait erat dengan selera-selera artistik dari suatu kultur. Yang mempelajari bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut mempengaruhi perilaku-perilaku.
Pendidikan
Pendidikan mempengaruhi banyak aspek dari kultur. Memberikan pemahaman tentang apa yang terjadi didunia. Dan membuat produktivitas ekonomi dan kemajuan teknologi lebih mudah dicapai.
Dimensi-dimensi kultur dan sikap
Bahasa, agama, niai-nilai serta sikap-sikap budi pekerti dan adat istiadat, barang-barang kebendaan, estetika dan pendidikan adalah unsur-unsur dari kultur yang menerangkan perbedaan-perbedaan prilaku dikalangan orang-orang dalam masyarakat, lokal, regional, kawasan dan global.
Dimensi-dimensi kultur
Geert Hofstede menemukan empat dimensi-dimensi kultur yaitu: 1. Jarak kekuasaan adalah kadar terhadap anggota-anggota yang kurang berkuasa dari organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga menerima kenyataan bahwa kekuasaan tidak didistribusikan secara merata. 2. Penghindaran ketidak pastian adalah sejauh mana orang-orang merasa terancam oleh situasi-situasi yang tidak menentu dan yang telah menciptakan lembaga-lembaga dan keyakinan-keyakinan untuk meminimumkan atau menghindari ketidakpastian-ketidakpastiaan. 3. Individualisme adalah kecenderungan dari orang-orang untuk mengurus diri mereka sendiri dan hanya keluaga dekat mereka. Hal ini berlawanan dengan kolektivisme merupakan kecenderungan orang-orang untuk menjadi bagian dari atau bergabung dengan kelompok-kelompok yang mengurus sesama dalam pertukaran untuk loyalitas. 4. Maskulinitas adalah ukuran yang diberikan kepada nilai-nilai dominan dari masyarakat dalam bentuk sukses, uang, dan benda. Hal ini merupakan lawan dari feminitas dimana ukuran nilai-nilai dominan dari masyarkat yang terkait dengan kepedulian bagi orang lain dan mutu hidup. Keempat dimensi tersebut mempengaruhi kultur suatu masyarakat secara menyeluruh yang bermuara pada suatu lingkungan yang unik.
Dimensi-dimensi sikap
Ronen dan Shenkar menemukan empat bidang kultur utama yaitu: 1. Pentingnya tujuan-tujuan kerja. 2. Definisi kebutuhan pemenuhan keinginan dan kepuasan dalam pekerjaan. 3. Variabel-variabel manajerial dan organisasi. 4. Peran kerja dan orientasi-orientasi antar perorangan. Sebuah perusahaan multinasional harus mengerti sifat dari kultur dimana perusahaan tersebut akan melakukan bisnisnya.
Kultur dan manajemen strategis
Yang diperhatikan adalah tiga aspek penting yaitu: 1. Sikap-sikap kerja adalah penting bagi perusahaan multinasional terhadap sikap-sikap tersebut karena dapat mempengaruhi baik kualitas maupun kuantitas output dari pekerja. Sikap kerja merupakan sebuah komitmen organisasi. 2. Motivasi keberhasilan. Kebutuhan akan keberhasilan merupakan suatu kebutuhan yang dipelajari, sebagian besar ditentukan oleh kultut yang berlaku. 3. Waktu dan masa depan adalah pandangan masyarakat mengenai waktu dan bagaimana seharusnya waktu tersebut dipergunakan.
Pelatihan kultur silang
Program-program orientasi kultur digerakan kearah pembiasaan personil dengan lembaga-lembaga kultur dan sistem-sistem nilai dari negeri tuan rumah. Asimilator kultur adalah pendekatan-pendekatan belajar terprogram yang khusus dipersiapkan khusus untuk memperkenalkan para individu dengan beberapa konsep-konsep dasar, sikap-sikap, adat istiadat, nilai-nilai dan persepsi-persepsi peran dari kultur lain.


*Resume materi kuliah Bisnis Internasional

Teriakkanku part1

Sampai hari ini jujur aku lelah. Memang harusnya tak ada yang dipermasalahkan. Toh hidupku baik2 saja. Seharusnya tak ada yang harus dikeluhkan. Toh semuanya berjalan biasa saja. Tapi batinku... Masih saja merengek, kakiku masih saja tak dapat berdiri sendiri, bahkan sifatku yang manja tak kunjung selesai. Entah kapan datang kemandirian itu.

Aku masih saja mengeluhkan hidupku yang besar tanpa seorang ayah sejak 14thn lalu. Dan aku masih saja merenungi bagaimana hidupku dapat berlanjut tanpa satu pun orang tua disisiku sejak ibuku tiada pertengahan 2012 lalu.

Yah memang, aku lahir dari 9 bersaudara. Dan aku yang kesembilan itu, artinya aku terakhir. Seharusnya tak ada yang aku pikirkan, toh kakak ku banyak. Tapi justru entah mengapa aku selalu merasa sendiri. Karna disisi lain ada masalah internal keluarga yang sangat berbelit. Masalah yang mungkin nanti akan kuceritakan disini. Itu salah satu alasan mengapa aku merasa sendiri.

Bersambung...

Tangerang,
13 Febuari 2013

Dampak Positif dan Negatif Globalisasi

DAMPAK POSITIF

- Komunikasi Semakin Mudah dan Cepat
Semakin mudahnya komunikasi saat ini baik melalui internet, media televisi, maupun media cetak. Dulu membutuhkan waktu lama (berhari-hari) untuk berkomunikasi melalui media komunikasi konvensional surat menyurat. Tetapi saat ini masyarakat lebih menyukai menggunakan media komunikasi yang mudah dan cepat yaitu dengan telepon, internet dan sosial media. Kemajuan di bidang teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi yang memudahkan kehidupan manusia.

- Berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang pesat Memudahkan memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan. Sehingga mudahnya akses menuntut ilmu diluar negeri. Mempunyai mobilitas yang tinggi. Dapat mengundang turisme untuk meningkatkan pariwisata dan membantu pembangunan negara.

- Laju perekonomian berkembang pesat menarik para insvestor
Globalisasi membuat laju perekonomian dinegeri ini semakin menggeliat. Indonesia juga selalu dilirik oleh dunia internasional sebagai tempat terbaik untuk berinvestasi terutama untuk sektor pertambangan, pertanian dan industri tekstil. Sehingga dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik. Hal ini bisa mengatasi kelangkaan modal di Indonesia. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri. Dengan masuknya nilai-nilai barat untuk Meningkatkan etos kerja yang tinggi, suka bekerja keras, disiplin, mempunyai jiwa kemandirian, rasional, sportif, dan lain sebagainya.

- Meningkatnya Taraf Hidup Masyarakat
Dunia yang tanpa batas saat ini memungkinkan seseorang untuk berusaha meningkatkan taraf hidupnya dan juga keluarganya. Tidak sedikit warga negara kita yang bekerja diluar negeri untuk membiayai kebutuhan keluarganya didalam negeri. Hal ini ditandai dengan Semakin mudah mengakses modal investasi dari luar negeri. Semakin mudah memperoleh barang-barang yang dibutuhkan masyarakat dan belum bisa diproduksi di Indonesia.Semakin meningkatnya kegiatan pariwisata, sehingga membuka lapangan kerja di bidang pariwisata sekaligus menjadi ajang promosi produk Indonesia. Meskipun demikian, sudah seharusnya era globalisasi ini diimbangi dengan manusia yang berpendidikan dan berkarakter.

DAMPAK NEGATIF

- Westernisasi (kebarat-baratan)
Dampak negatif globalisasi yang juga dirasakan oleh bangsa Indonesia saat ini adalah menjamurnya budaya barat. Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, dan lain-lain. Informasi yang tidak tersaring sehingga menimbulkan pengaruh seperti pornografi dan aksi, kekerasan, dan pergaulan bebas. Kenyataannya saat ini banyak sekali budaya barat di Indonesia tetapi sebaliknya jarang sekali orang-orang yang mau melestarikan budaya asli Indonesia itu sendiri.

- Sikap Individualiasme
Saat ini, kita memerlukan bantuan alat atau perangkat untuk mempermudah aktifitas kita dan kita merasa tak perlu lagi bantuan manusia. Hal ini yang menyebabkan manusia semakin individualistik, padahal hakikat manusia sebenarnya adalah mahluk sosial. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan menyebabkan orang-orang cenderung individualistis. Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.

- Kesenjangan sosial semakin besar
Sudah menjadi rahasia bersama jika antara orang miskin dan orang kaya dinegeri ini sangat besar sekali. Satu sisi globalisasi membuka peluang untuk orang-orang yang berpendidikan, sedangkan disatu sisi lagi globalisasi membuat orang-orang kecil semakin sulit bertahan hidup. Ini yang menyebabkan kesenjangan sosial di Indonesia semakin lebar setiap tahunnya. Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial.

- Pola Hidup Konsumtif

Sifat Konsumtif dibentuk oleh kita yang cenderung berbelanja produk-produk yang kita inginkan bukan yang kita perlukan. Kemudahan akses dalam berbelanja dan menbanjirnya produk-produk branded menyebabkan pola hidup konsumtif semakin merajalela. Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.

*Dicatat dan digunakan sebagai catatan matakuliah Globalisasi
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...