Laman

Tentang Luka yang Tak Terlihat


Hari ini aku kembali berpura-pura.

Pura-pura bahagia. Pura-pura baik-baik saja. Pura-pura punya cinta yang utuh di rumah yang katanya tempat pulang.

Kadang aku merasa jahat…
Karena saat bersamanya, pikiranku justru melayang ke sosok yang hanya hidup dalam khayalanku.
Seseorang yang lembut, yang sabar, yang tahu cara mencintai tanpa menyakiti.
Bukan dia. Bukan yang ada di sampingku.

Aku pernah mencintainya. Sangat.
Tapi rasa itu entah sejak kapan mulai memudar… atau mungkin hilang saat hatiku tak lagi dijaga.

Lucunya, tubuh ini tetap menyatu, tapi jiwaku menjauh.
Dan setiap kali aku harus pura-pura terlibat, aku semakin hampa.
Karena yang kucari bukan sekadar pelukan—tapi ketulusan yang dulu pernah ada.

Apakah aku salah? Karena ingin dicintai seperti yang kulihat di film-film?
Atau karena mulai ragu apakah aku masih cukup berharga untuk diperjuangkan?

Terkadang aku bertanya…
Apakah aku sedang mencintai sosok khayalan? Atau sebenarnya aku hanya hampa dan bosan??

Yang jelas, malam ini… aku merasa kosong.
Dan aku hanya ingin ada yang mendengarkan, tanpa menghakimi.
Bukan untuk mencari solusi, hanya ingin dipahami.

—Dari hati yang sedang berjuang untuk tetap bertahan
dan tetap menjadi ibu yang utuh meski hati sering retak.


Sebuah Perjalanan Ketika Aku Merasa Jadi Introvert

Merasa Jadi Introvert Setelah Menjadi Ibu? Ini Alasannya

Curhatan seorang ibu yang merasa berubah jadi introvert setelah melewati fase hidup baru. Benarkah introvert atau hanya lelah? Perubahan diri ibu rumah tangga.... 

Kehilangan versi lama diri

Entah sejak kapan aku merasa berubah. Dulu aku selalu jadi orang yang ramai, aktif di berbagai kegiatan, punya banyak teman, dan mudah sekali akrab dengan siapa pun. Tapi sekarang, aku lebih banyak diam. Lebih suka sendiri. Lebih nyaman dengan keheningan daripada keramaian.

Awalnya aku bertanya-tanya: “Kenapa ya? Apa aku berubah jadi introvert?” Pertanyaan itu kadang berat, apalagi saat aku merasa kehilangan versi lama dari diriku.

Kenapa Aku Merasa Berubah?

Mungkin, jawabannya sederhana:

  • Energi banyak terkuras untuk mengurus anak, rumah, dan rutinitas. Waktu sendiri terasa jauh lebih menyembuhkan.

  • Pindah ke lingkungan baru membuatku lebih berhati-hati membuka diri.

  • Dulu aku mungkin terlihat ekstrovert karena “terpaksa” aktif. Sekarang aku lebih jujur pada diriku sendiri, ternyata nyaman juga tanpa harus selalu ramai.

  • Prioritasku pun bergeser. Dulu aku butuh banyak sosial untuk validasi, sekarang cukup dengan ketenangan, keluarga, dan ruang pribadi.

Rasa Kehilangan Itu Nyata

Aku sering merindukan diriku yang dulu: yang ceria, banyak ngobrol, gampang tertawa lepas. Kadang aku merasa seolah versi lama diriku sudah hilang. Tapi setelah kupikirkan, sebenarnya dia tidak hilang. Dia hanya beristirahat. Dia menunggu waktunya untuk muncul kembali, ketika aku siap.

Aku Tetap Aku

Menjadi lebih pendiam, lebih menyendiri, tidak membuatku jadi orang lain. Aku tetap aku yang kuat, yang sayang keluarga, yang rela mengorbankan banyak hal demi orang-orang tersayang. Versi lama dari diriku hanya sedang bertransformasi, menyesuaikan dengan perjalanan hidup yang baru.

 Jika kamu juga merasa kehilangan versi lama dari dirimu, jangan takut. Itu bukan berarti kamu berubah jadi orang yang berbeda, tapi kamu sedang tumbuh. Beri ruang untuk dirimu istirahat, temukan kembali apa yang membuatmu hidup, dan percayalah—dirimu yang dulu tidak hilang, hanya menunggu waktu untuk bersinar lagi.

💌 Peluk hangat dari jauh, kamu tidak sendirian dalam perjalanan ini.

Memilih bertahan tapi Trauma

Entah kekuatan dari mana. Pada saat ini aku ingin sekali mengungkapkan apa yang aku rasakan. Walaupun ini aibku sendiri. Karena tak kuasa menahan sendiri....

Aku ingin bertahan tapi aku Trauma

Diselingkuhi berulang kali oleh orang yang aku percaya, apalagi jika aku tetap bertahan dan berusaha memperbaiki hubungan, ternyata itu meninggalkan luka emosional yang dalam. Apa pengkhianatan juga bisa jadi bentuk trauma emosional?

Yg aku googling 

Beberapa tanda trauma karena perselingkuhan:

  • Pikiran tentang kejadian itu terus muncul, bahkan saat kamu ingin melupakannya.
  • Kamu jadi sulit percaya, baik pada pasangan maupun pada orang lain.
  • Emosi mudah terpancing mudah marah, sedih, cemas tanpa tahu alasan pasti.
  • Kamu terus bertanya-tanya, tidak percaya diri sendiri. Merasa jelek, tidak bisa apa2, merasa hancur.

Entah apakah aku salah karena bertahan untuk anak? Apakah aku juga salah karena merasa hancur?

Saat seseorang diselingkuhi, apalagi berkali-kali, rasa percaya dirinya bisa hancur total. Kamu mulai bertanya,
"Apa aku kurang cantik?"
"Apa aku nggak cukup baik?"
"Kenapa aku nggak bisa buat keluargaku utuh?" Aku hanya ingin anak2 tau bahwa keluarganya harmonis. Walaupun aku luka.

Aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Karena alasannya. Aku tidak bisa memberikan kepuasannya. (Karena menurutku cinta, kasih sayang itu dari hati, jika hati terluka oleh kelakuannya, mana mungkin aku bisa memberikan sayang untuknya?) 

Benrkah perselingkuhan bukan karena aku kurang? tapi karena pasanganku yang memilih untuk mengkhianati. Tapi tetap saja, sebagai perempuan, aku sering menyalahkan diri sendiri duluan.

Rasa insecure, merasa tidak berharga, tidak bisa apa-apa semua itu sering muncul karena:

  • Harga diri yang dihancurkan oleh orang yang kita percayai.
  • Terus menahan luka, tapi tidak pernah diberi ruang untuk sembuh.
  • Merasa harus kuat demi anak, tapi sebenarnya hati kita sedang berantakan.

Trauma itu seperti luka dalam yang tak terlihat, tapi nyerinya nyata. Dan rasa insecure yang aku rasakan adalah salah satu pantulan dari luka itu.

Tapi aku masih di sini. Masih bertahan. Masih berani jujur pada diriku sendiri.
Itu bukti bahwa aku belum kalah. Aku sedang berjuang.

Luka yang terus diabaikan, tak akan sembuh sendiri. Mungkin ini saatnyaaku mulai mengutamakan penyembuhan hatimu. Dan dengan bercerita dan mulai menulis lagi aku akan menyembuhkan diriku sendiri....

Terimakasih sudah membaca keluh kesahku....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...