Laman

Malaikat kecilku, Awal mula belajar jadi IBU


Setelah menikah, Allah memberikan hadiah terindah hanya dalam waktu 3 bulan. Alhamdulillah, aku langsung dipercaya untuk mengandung. Rasanya campur aduk—antara bahagia, kaget, dan takut. Tapi lebih dari itu, aku merasa... dipercaya. Allah percaya aku mampu menjadi ibu.

Anak pertamaku datang seperti kilat dalam hidupku, dan sejak itu segalanya berubah. Belajar jadi ibu bukan hal mudah, apalagi saat anakku ternyata super aktif. Aku harus banyak menyesuaikan diri: dari perempuan biasa menjadi ibu yang harus sigap, sabar, dan kuat setiap hari.

Tapi di balik lelah yang tak terlihat itu, aku menemukan banyak cinta yang tak pernah kupikir bisa kurasakan. Anak ini mengajarkanku sabar, mengajarkanku kuat, bahkan saat aku merasa tak punya sisa tenaga untuk melangkah.

Aku masih belajar. Masih sering merasa kurang. Tapi setiap kali kutatap matanya, aku tahu... aku sedang berada di jalan yang tepat. Jalan menjadi ibu.

Lingkungan tak mendukung

Entah ada apa dengan hidupku? Tidak... Aku tak ingin menyalahkan siapapun. Aku tak ingin menjadikan lingkungan sebagai alasan. Tapi setelah dipikir-pikir memang bentrok sekali. Kenapa selalu bentrok dengan keinginanku? Seolah tak ada orang yang mensupport aku? Toh aku hanya ingin belajar! Belajar menjadi lebih baik! Karna aku tau diriku ini bodoh! Karna aku tau aku tak bisa apa-apa. 

Tapi kenapa selalu saja tak ada dukungan yang ril? Seolah aku susah bernafas. Aku tak ingin hanya diam saja. Aku ingin bergerak! Dan akhirnya aku yang memfasilitasi diriku sendiri. Dari semenjak sekolah, aku punya cita-cita tinggi. Tapi aku bingung bagaimana mewujudkannya? Tak ada yang mau memfasilitasi diriku. Apapun aku harus cari sendiri. Tapi apalah diriku? Tanpa dukungan aku tak bisa. 

Saat ini aku nyesal dengan diriku sendiri aku iri dengan teman-teman yang bisa mewujudkan mimpi mereka karna bantuan dan dukungan orang tua dan lingkungan. Sedangkan aku? Orang tua saja tak punya, siapa yang ingin mendengarkan aku? Tak ada. Aku harus cari sendiri!

Aku tak ingin hal ini terjadi pada anakku kelak. Aku ingin dia lebih baik dariku. Siapa sih yang tak ingin anaknya lebih baik dari pada orang tuanya? Pasti semua orang tua menginginkannya kan? Dan saat ini masalah itu pun datang lagi kepadaku. Dulu, tak ada orang tua, keluarga yang tak mendukung, dan saat ini suami yang tak sependapat denganku. Lengkap sudah rasanya...

Aku mengenal cita-cita dari buku. Aku mempunyai mimpi dari buku. Aku bisa berimajinasi dari buku. Dulu aku suka sekali baca buku semenjak SMP buku-buku motivasi yang menghantarkan aku pada cita-cita. Mulai saat itu aku suka membaca buku-buku motivasi dan buku biografi orang2 hebat yang aku kagumi. Memang setelah kuliah aku malas membaca buku. Aku lebih suka bermain gadget dan medsos. Hanya sesekali aku membaca buku2 yang sudah kubeli saat aku gila buku. *saat gila buku hampir seminggu sekali aku beli 1 buku. Dizaman SMA berbagai buku aku koleksi terutama buku motivasi.

Dan saat ini aku ingin melakukan hal yang sama pada anakku. Katanya jika anak dari kecil diperkenalkan dengan buku, maka sampai besar dia akan suka buku. Itu yang akan aku ajarkan pada anakku sembari akupun belajar. Aku hanya ingin anakku lebih baik dari diriku. Tapi ha ini bentrok dengan suamiku. Entahlah metode apa yang akan ia lakukan untuk anaknya. Semoga itu lebih baik...!! Aminn

GOD Bless me... Semoga ada keajaiban!



Kembali menulis

Entah kapan itu aku berhenti menulis. Padahal isi kepalaku banyak yang ingin aku ceritakan. Rasanya ingin sekali aku berbagi agar dapat meringankan kepala ini. Tapi entah mengapa sulit sekali tangan ini untuk mengetik kata-kata yang terangkai dalam benakku.

 Hmm... Rasanya sejak aku menikah, tangan sudah pakum dengan tulisan. Kalau dibilang sibuk sih tidak mungkin, nyatanya saat ini saja aku banyak santai dirumah. Kesibukanku saat ini monoton sekali, hanya mengurusi rumah mungil kami dan setia menunggu suami pulang kerja. Apalagi saat anak pertamaku lahir nanti. Mungkin alibi sibuk itu pasti ada. Padahal hanya IRT, tidak seperti wanita-wanita karir disana hihi... 

Aku ingin sekali kembali menulis. Setidaknya hanya sepatah dua patah kata perhari. Atau hanya 5 judul tulisan saja perbulan. Karna ketika aku menulis, seolah-olah semua bebanku hilang. Aku tumpahkan semua ke dalam tulisan. Resanyaaa legaaa sekaliii... 

Semoga mulai hari ini, saat ini, dan seterusnya aku akan harus menulis. Walaupun tak ada yang membaca, setidaknya blog ini setia mendengar semua curcolanku hihi....

Okey... Bismillahhh... Happy writing...!!!



Untuk Dia

Laki-laki yg aku kangenin, laki-laki yg slalu aku tunggu kehadirannya tiap malam dalam deringan telpon. Ternyata kata2 itu slalu jdi bumerang untuk diriku sndiri. Entah bagaimana mengungkap kan rasa kangen ini. 

Memang aku tau dri awal kita sudah beda. Tpi aku akan terus mencobanya sampai saat ini. Walau sering sekali rasa sayang ini berubah menjadi air mata. 

Bahkan ketika ego itu sudah menguasai hati ini. Ingin sekali aku menyerah... Ingin sekali aku mengakhirinya... Tapi entah dari mana datangnya keyakinan itu hingga sulit sekali mulut ini berkata Putus... Biarlah ALLAH yg menentukan. Biarlah waktu yg akan menjawab. Semoga apapun yg terbaik buat kita. ❤️

Dia bukan seseorang dambaanku, bukan juga apa yg aku inginkan. Mungkin sebaliknya juga begitu, aku bukan perempuan yang ia inginkan. Tapi mengapa kita bisa bertemu tanpa sebab? Mengapa pertemuan itu berlanjut sampai saat ini? 

Dan bisakah kita melanjutkan niat kita untuk mempersatukan hubungan ini menjadi halal? Bisakah????

H-30
Entah ini cobaan atau ujian?

Menghapus keraguan

Alhamdulillah... Waktu tak terasa begitu cepat berlalu. Entah kenapa hari H mendekati acara yg insya allah hanya sekali dalam hidupku mengapa amat terasa meragukan. Banyak sekali riwet ruwet dipikiran. Entah itu masalah keluarga, masalah persiapan, masalah tempat tinggal, bahkan masalah kehidupan setelahnya. Mengapa baru skarang kepikiran? Kenapa dulu aku ingin sekali menikah, mengapa dulu aku mudah skali bilang IYA, mengapa dulu senang sekali jika memikirkan pernikahan? Apakah itu karna nafsu? Astagfirullah....

Jika keluarga bilang ini terburu-buru, padahal aku sudah sampaikan dari awal tahun ini bahwa aku ingin mengakhiri masa "pacaran" (bukankan tidak baik jika berlama2 ?). Akupun tak mau seperti orang kebanyakan. Sudah bertahun2 pacaran tpi ternyata jodohnya bkn dgn orng yg sama. Jujur, baru kali ini aku tau namanya "pacaran" ini hal yg pertama buatku dan insya allah yg terakhir (itu cita2ku). Wah klo diceritain panjang nih! Yg kepo, buka ini aja deh One Forever.

Jika keluarga bilang aku masih kecil, padahal tahun depan umurku sudah menginjak 25th. (Bukankah itu sdh besar?) dan akupun tak ingin menikah lebih dri umur 25 itu. 

Jika keluarga bilang masa mau ngelangkahin kk? Memang ada kakak sebelum aku yg belum nikah. Saat ini usianya 26th tdk jauh beda dgn umurku. Dikeluarga memang tinggal kami berdua yg belum menikah. Awalnya akupun takut dibilang egois, tapi (bukankah nikah itu ibadah? Bahkan bukankah lebih baik disegerakan? Takut zina katanya). Tapi alhamdulillah kk ku pun mengikhlaskan ko, dia mau dilangkahi. Semoga kk dimudahkan jodohnya amin... 

Tapi saat ini keraguan yang tersirat dalam pikiranku adalah: 
1. Tempat tinggal. Yups abis nikah pastinya aku seutuhnya tanggung jawab suami dan dia berhak bawa aku kmna aja. Well, aku akan tinggal ditempat asalnya. Semoga aku bisa berbaur dengan kesehariannya, dengan keluarganya, dengan lingkungannya aminn....

2. Peranku sebagai istri. Hmm... Suami itu wajib menafkahi istri dan anaknya. Tapi aku tak boleh lupa dengan perannya sebagai tulang punggung keluarga. Yupz ini agak berat untukku, Dan mungkin ini juga ujian untuk calon suamiku untuk berlaku adil terhadapku dan ibunya serta keluarganya. Yah semoga kita bisa mengatasi ini semua amin...

3. Sikap dia. Dia ya dia calon suamiku. banyak yang bilang (hati2 "pacaran" dan nikah itu pasti beda sikapnya. Soalnya setelah nikahkan tinggal bersama, disitu pasti keliatan sikap aslinya). Wew! Serem juga... Apalagi selama ini kan kita LDRan jarang ketemu, memang banyak sih aku pun belajar mengimbangi, memahami, dan menuruti sikapnya saat ini. Yah entah deh... Aku ga tau harus ngomong apa lgi. Wkkwkk. Semoga kami terhindar dari keburukan aminnn...

4. Kerjaan. Sudah beberapa bulan ini aku ga kerja. Setelah keluar dari kantor sebelumnya beberapa minggu panggilan sana sini ada sih yang nempel kurang lebih 4 perusahaan. Hmm lumayan banyak ya. Tapi karna saat itu sudah di khitbah/lamar didpn keluarga (blom resmi sih). Jadi doi melarang kerja, karna memang nanti setelah nikah akupun tak boleh kerja dan dibawa langsung ketmpat tinggalnya. Ya sudah pasrah nurutin aja (padahal pendapat keluarga berbeda). Ya saat ini dia memang belum resmi jdi imamku ngapain ngatur? Tapi dipikir2 ga ada yg salah juga sih sama pendapatnya. Yasudah jalani saja selagi itu tdk merugikan Hehe. Kenpa sekarang malah pingin banget kerja??? Ngeliat tmn2 kerja disana sini, hura2 dgn hasil sendiri enak rasanya. Hmmm OMG! Ga kebayang nanti bakal jdi "IRT" huhu :'( Yasudahlah.... Semoga pahalanya mengurus anak dgn baik. Wkwkk

Kebanyakan itu sih yang ada dipikiranku. Yang laen masih aman terkendali wkwkk. Yah mungkin ini cobaan aja kali ya dibuat dilema. Toh niat kami menikah hanya ingin ibadah dan menjauhi zina insya allah. Aku percaya dia bisa jdi imam yang baik. May Allah Bless us!!!



Semoga Sakinah Mawaddah wa Rahmah itu tercipta dalam rumah tangga kami kelak. Aminnn allahumma aminnn... Minta doanya kawan2 semua. Semoga lancar terkendali. 

Makasih ^__^







Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...