Laman

Malam ini aku diusir lagi

Malam ini, hatiku terasa begitu berat. Ada pertengkaran kecil yang membuatku kembali merasa tidak dianggap. Aku berusaha menyampaikan pendapatku dengan tenang, tapi justru terasa seolah suaraku tidak punya arti.

Aku hanya ingin diperlakukan dengan adil. Hanya ingin suaraku didengar. Tapi sering kali, saat aku mencoba bicara, justru berakhir dengan luka. Maka malam ini aku memilih menulis, bukan untuk mengeluh, tapi agar aku punya saksi betapa aku pernah berani berkata tidak.

Yang paling menyakitkan bukan sekadar perdebatan, melainkan kalimat yang menusuk hatiku, membuatku takut kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku: anak-anakku. Bagiku, merekalah alasan terbesar aku tetap bertahan.

Sering aku bertanya, kenapa aku hanya bisa diam saat marah? Kenapa aku tak sanggup membalas dengan kata-kata kasar? Mungkin karena aku tahu, semakin panjang pertengkaran, semakin dalam luka yang akan tinggal. Tapi diamku juga bukan tanpa rasa sakit. Diamku sering kali membuat air mata jatuh tanpa suara.

Malam ini, aku menulis sambil berdoa dalam hati untuk anak-anakku:

“Nak, maafkan bunda. Sehatlah selalu. Doakan bunda kuat. Doakan bunda bisa mandiri, agar suatu hari nanti bunda mampu membiayai kalian dengan tanganku sendiri. Untuk saat ini, bunda tetap di sini… bertahan, meski penuh luka.”

Aku sadar, aku keras kepala. Aku butuh waktu untuk meredakan marah. Tapi malam ini aku belajar sesuatu: aku tidak hanya diam. Aku sedang melatih keberanian, meski sedikit demi sedikit, untuk melawan ketidakadilan yang kurasakan.

Entah sampai kapan aku bisa sekuat ini. Tapi satu hal yang pasti, aku ingin tulisan ini menjadi pengingat bahwa aku pernah melalui malam-malam penuh luka, namun tetap memilih bertahan demi anak-anakku. 🌸

0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...