Laman

Pantas kah aku dicintai dengan utuh??

Kadang mikir, apa sih amalan perempuan2 yg terlihat sempurna? Aku mengerti tidak ada yang sempurna semua punya kekurangan hidup masing2 tapi kita tidak melihatnya....

[Diary – Apakah Aku Pantas Dicintai?]

Kadang aku duduk sendiri, memandangi pantulan wajahku di cermin…
Bertanya dalam hati:
“Dengan semua luka yang kubawa, semua kekurangan yang kupunya… apa aku masih pantas dicintai?”

Aku bukan sosok yang sempurna.
Aku pernah marah, pernah kecewa, pernah patah.
Bahkan kadang aku lelah jadi ibu, lelah jadi istri, lelah jadi manusia.

Tapi jauh di dalam diri ini, aku tahu…
Aku punya hati yang setia.
Aku mencintai dengan cara paling tulus—meski seringkali tak dihargai.
Aku memberi, bahkan saat aku sendiri kekurangan.
Aku tetap tinggal, bahkan saat aku ingin lari.

Lalu kenapa rasanya cinta yang kudapat selalu setengah-setengah?
Kenapa aku selalu jadi pilihan terakhir, bukan yang utama?

Aku ingin dicintai… dengan utuh.
Bukan hanya saat aku kuat, cantik, atau menyenangkan.
Tapi juga saat aku rapuh, berantakan, dan butuh dipeluk.

Aku ingin seseorang melihat aku apa adanya…
Bukan karena peran yang kujalani, tapi karena jiwaku yang tak pernah lelah mencinta.

Dan malam ini…
Aku izinkan diriku percaya satu hal:

Aku pantas dicintai.
Pantas dihargai.
Pantas dipilih… tanpa perlu membuktikan diri setiap waktu.

Dan sebelum orang lain mencintaiku dengan utuh, Aku akan belajar mencintai diriku sendiri terlebih dulu.
Karena aku berharga.
Aku layak.
Aku cukup.



Kehamilan Tak Terduga, Hadiah Terindah dari Allah

Kala hidup sedang tidak mudah.
Anak sulung baru 5 tahun. Si tengah masih 2 tahun dan masih sering minta digendong. Aku merasa tubuhku belum selesai beristirahat… dan tiba-tiba aku hamil lagi. Iya, hamil anak ketiga. Di luar dugaan. Padahal sudah dijaga sebisa mungkin. Tapi apalah daya... Allah berkendak lain. Saking tidak percayanya sampai 2kali tespek. dan 2kali kedokter dan bidan.


Jujur saja, saat itu aku menangis. Bukan karena tidak bersyukur, tapi karena bingung.
Bagaimana nanti? Bagaimana membagi waktu? Bagaimana kondisi keuangan kami yang sedang turun-turunnya?

Aku merasa lelah…
Tertekan…
Dan bersalah, karena ada suara kecil dalam hati yang bertanya:
"Mampukah aku?"

Tapi hari demi hari berlalu.
Air mata digantikan dengan istighfar.
Keluhan pelan-pelan berubah jadi doa.
Dan perlahan, aku mulai menerima…
Inilah yang Allah titipkan. Inilah yang harus aku jaga.

Dan saat dia lahir seorang bayi perempuan mungil yang selama ini aku dambakan segala kekhawatiran runtuh. Tangisnya malam itu seakan membawa cahaya baru. Allah memberikan yang aku pinta… bahkan di saat aku merasa tak layak meminta.

Kini, aku sadar…
Semua pemikiran negatifku dulu, semua ketakutan yang sempat memenuhi dada… ternyata tak pernah lebih besar dari kasih sayang Allah.


Kadang yang datang tak sesuai rencana… tapi selalu sesuai takdir terbaik dari-Nya.
Jangan buru-buru takut. Jangan cepat-cepat berburuk sangka.
Sebab bisa jadi, hal yang tak kamu inginkan hari ini,
adalah jawaban doa yang kamu bisikkan bertahun-tahun lalu.

Allah selalu tahu apa yang terbaik. Bahkan saat kita belum paham maksudnya.

Anak ketiga lahir pada tanggal 02-02-2023


 

Malam ini aku diusir lagi

Malam ini, hatiku terasa begitu berat. Ada pertengkaran kecil yang membuatku kembali merasa tidak dianggap. Aku berusaha menyampaikan pendapatku dengan tenang, tapi justru terasa seolah suaraku tidak punya arti.

Aku hanya ingin diperlakukan dengan adil. Hanya ingin suaraku didengar. Tapi sering kali, saat aku mencoba bicara, justru berakhir dengan luka. Maka malam ini aku memilih menulis, bukan untuk mengeluh, tapi agar aku punya saksi betapa aku pernah berani berkata tidak.

Yang paling menyakitkan bukan sekadar perdebatan, melainkan kalimat yang menusuk hatiku, membuatku takut kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku: anak-anakku. Bagiku, merekalah alasan terbesar aku tetap bertahan.

Sering aku bertanya, kenapa aku hanya bisa diam saat marah? Kenapa aku tak sanggup membalas dengan kata-kata kasar? Mungkin karena aku tahu, semakin panjang pertengkaran, semakin dalam luka yang akan tinggal. Tapi diamku juga bukan tanpa rasa sakit. Diamku sering kali membuat air mata jatuh tanpa suara.

Malam ini, aku menulis sambil berdoa dalam hati untuk anak-anakku:

“Nak, maafkan bunda. Sehatlah selalu. Doakan bunda kuat. Doakan bunda bisa mandiri, agar suatu hari nanti bunda mampu membiayai kalian dengan tanganku sendiri. Untuk saat ini, bunda tetap di sini… bertahan, meski penuh luka.”

Aku sadar, aku keras kepala. Aku butuh waktu untuk meredakan marah. Tapi malam ini aku belajar sesuatu: aku tidak hanya diam. Aku sedang melatih keberanian, meski sedikit demi sedikit, untuk melawan ketidakadilan yang kurasakan.

Entah sampai kapan aku bisa sekuat ini. Tapi satu hal yang pasti, aku ingin tulisan ini menjadi pengingat bahwa aku pernah melalui malam-malam penuh luka, namun tetap memilih bertahan demi anak-anakku. 🌸

Malaikat kecilku, Awal mula belajar jadi IBU


Setelah menikah, Allah memberikan hadiah terindah hanya dalam waktu 3 bulan. Alhamdulillah, aku langsung dipercaya untuk mengandung. Rasanya campur aduk—antara bahagia, kaget, dan takut. Tapi lebih dari itu, aku merasa... dipercaya. Allah percaya aku mampu menjadi ibu.

Anak pertamaku datang seperti kilat dalam hidupku, dan sejak itu segalanya berubah. Belajar jadi ibu bukan hal mudah, apalagi saat anakku ternyata super aktif. Aku harus banyak menyesuaikan diri: dari perempuan biasa menjadi ibu yang harus sigap, sabar, dan kuat setiap hari.

Tapi di balik lelah yang tak terlihat itu, aku menemukan banyak cinta yang tak pernah kupikir bisa kurasakan. Anak ini mengajarkanku sabar, mengajarkanku kuat, bahkan saat aku merasa tak punya sisa tenaga untuk melangkah.

Aku masih belajar. Masih sering merasa kurang. Tapi setiap kali kutatap matanya, aku tahu... aku sedang berada di jalan yang tepat. Jalan menjadi ibu.

Lingkungan tak mendukung

Entah ada apa dengan hidupku? Tidak... Aku tak ingin menyalahkan siapapun. Aku tak ingin menjadikan lingkungan sebagai alasan. Tapi setelah dipikir-pikir memang bentrok sekali. Kenapa selalu bentrok dengan keinginanku? Seolah tak ada orang yang mensupport aku? Toh aku hanya ingin belajar! Belajar menjadi lebih baik! Karna aku tau diriku ini bodoh! Karna aku tau aku tak bisa apa-apa. 

Tapi kenapa selalu saja tak ada dukungan yang ril? Seolah aku susah bernafas. Aku tak ingin hanya diam saja. Aku ingin bergerak! Dan akhirnya aku yang memfasilitasi diriku sendiri. Dari semenjak sekolah, aku punya cita-cita tinggi. Tapi aku bingung bagaimana mewujudkannya? Tak ada yang mau memfasilitasi diriku. Apapun aku harus cari sendiri. Tapi apalah diriku? Tanpa dukungan aku tak bisa. 

Saat ini aku nyesal dengan diriku sendiri aku iri dengan teman-teman yang bisa mewujudkan mimpi mereka karna bantuan dan dukungan orang tua dan lingkungan. Sedangkan aku? Orang tua saja tak punya, siapa yang ingin mendengarkan aku? Tak ada. Aku harus cari sendiri!

Aku tak ingin hal ini terjadi pada anakku kelak. Aku ingin dia lebih baik dariku. Siapa sih yang tak ingin anaknya lebih baik dari pada orang tuanya? Pasti semua orang tua menginginkannya kan? Dan saat ini masalah itu pun datang lagi kepadaku. Dulu, tak ada orang tua, keluarga yang tak mendukung, dan saat ini suami yang tak sependapat denganku. Lengkap sudah rasanya...

Aku mengenal cita-cita dari buku. Aku mempunyai mimpi dari buku. Aku bisa berimajinasi dari buku. Dulu aku suka sekali baca buku semenjak SMP buku-buku motivasi yang menghantarkan aku pada cita-cita. Mulai saat itu aku suka membaca buku-buku motivasi dan buku biografi orang2 hebat yang aku kagumi. Memang setelah kuliah aku malas membaca buku. Aku lebih suka bermain gadget dan medsos. Hanya sesekali aku membaca buku2 yang sudah kubeli saat aku gila buku. *saat gila buku hampir seminggu sekali aku beli 1 buku. Dizaman SMA berbagai buku aku koleksi terutama buku motivasi.

Dan saat ini aku ingin melakukan hal yang sama pada anakku. Katanya jika anak dari kecil diperkenalkan dengan buku, maka sampai besar dia akan suka buku. Itu yang akan aku ajarkan pada anakku sembari akupun belajar. Aku hanya ingin anakku lebih baik dari diriku. Tapi ha ini bentrok dengan suamiku. Entahlah metode apa yang akan ia lakukan untuk anaknya. Semoga itu lebih baik...!! Aminn

GOD Bless me... Semoga ada keajaiban!



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...