Hari ini aku kembali teringat pada masa ketika hatiku pernah retak—saat diselingkuhi. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang tercerabut, dan meski waktu sudah berjalan, rasa sakit itu kadang muncul lagi begitu saja. Seperti luka lama yang tiba-tiba terasa perih saat tersentuh.
Sering kali aku mendapati diriku berangan-angan tentang kehidupan yang berbeda. Tentang sosok suami idaman yang penuh kasih, setia, dan selalu ada untukku. Dalam pikiranku, dunia itu terasa nyaman, hangat, dan membuatku merasa dihargai. Tapi begitu aku kembali membuka mata, aku sadar itu hanya ada dalam imajinasi.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku gila karena terlalu sering melarikan diri ke dalam khayalan? Tapi kemudian aku belajar menerima bahwa itu hanyalah caraku bertahan. Bahwa imajinasi bukan berarti aku lemah, melainkan tempat di mana hatiku mencari ruang aman.
Namun aku juga tahu, aku ingin sepenuhnya hidup di dunia nyata ini. Aku ingin belajar menciptakan kenyamanan di hidup yang sekarang—bukan hanya dalam angan-angan. Perlahan aku belajar menulis, menuangkan perasaan, menerima luka, dan merangkul diriku sendiri. Karena meskipun luka itu ada, aku percaya aku masih bisa tumbuh, bangkit, dan menemukan kebahagiaan dengan caraku sendiri.
Hari ini, aku menulis catatan ini sebagai pengingat:
Aku tidak gila. Aku hanya sedang berproses. Dan itu sudah cukup. 🌸
0 komentar:
Post a Comment