Waktu pertama kali menikah, aku sudah memutuskan untuk jadi IRT saja. Rasanya ingin benar-benar mengikuti pertumbuhan anak dari bayi, melihat setiap momen kecilnya tanpa harus terbagi dengan pekerjaan kantor. Itulah alasanku memilih resign, meninggalkan dunia kerja, dan fokus menjadi ibu rumah tangga.
Awalnya terasa menyenangkan. Bangun pagi tanpa buru-buru, bisa menemani anak setiap saat, melihat senyum dan tumbuh kembangnya dari dekat. Tapi ternyata, tidak semua selalu indah. Ada sisi lain yang kadang bikin aku merasa campur aduk.
Kadang aku worry sendiri, bingung bagaimana mengajarkan sesuatu pada anak dengan cara yang benar. Kadang aku juga bisa kesel melihat ulah anak yang nggak ada diamnya. Ada rasa lelah, ada rasa kewalahan, ada saat di mana aku bertanya dalam hati: “Apakah aku cukup baik jadi ibu?”
Tapi di balik semua rasa itu, selalu ada momen yang bikin hati ini luluh kembali. Melihat tingkah lucunya, mendengar tawa kecilnya, atau ketika ia memeluk tanpa alasan. Semua itu jadi pengingat kenapa aku dulu memilih jalan ini.
Jadi IRT bukan berarti jalan hidupku lebih mudah. Ada senang, ada susah, ada tangis, ada tawa. Tapi dari semua fase ini, aku belajar: menjadi ibu bukan tentang sempurna, melainkan tentang hadir—memberikan cinta, meski kadang dengan hati yang lelah.
Dan aku percaya, suatu hari nanti, semua perjuangan ini akan jadi kenangan manis yang paling aku syukuri.
0 komentar:
Post a Comment