Ada satu hal yang kadang masih mengganjal di hati.
Beberapa waktu terakhir, suami sering mengeluh sakit. Dan entah kenapa, setiap kali mendengar keluhannya, pikiranku justru terlempar ke masa lalu.
Aku teringat ketika dulu, saat si sulung masih kecil — kami sedang dalam perjalanan ke mall. Kepalaku terasa sakit sekali, dan aku hanya ingin didengar, ingin mendengar kalimat sederhana yang menenangkan. Tapi yang kudapat justru bentakan. Katanya, “Kalau sakit, ya di rumah aja, nggak usah jalan-jalan.”
Sejak saat itu, ada bagian kecil di hatiku yang terasa seperti retak… kecil, tapi nyata.
Padahal aku tahu, dalam banyak hal, dia tetap ada. Saat aku sakit saat hamil, saat opname, saat melahirkan — dia selalu di sisiku. Tapi entah mengapa, kehadirannya kadang terasa jauh. Seperti ada dinding tak kasat mata antara kami.
Aku sering bertanya pada diri sendiri, apakah ini cinta yang sesungguhnya?
Atau hanya kebersamaan yang tumbuh karena waktu dan kebiasaan?
Hatiku sering berubah-ubah — kadang penuh rasa, kadang kosong tanpa sebab.
Namun, di tengah semua pertanyaan itu, aku tetap memilih untuk berdoa.
Tentang bertahan meski tak selalu dipahami.
💌 Tulisan untuk Diriku di Masa Depan Tentang Luka yang Pernah Tertahan
Hai, diriku…
Masihkah kamu ingat hari itu?
Ketika di dalam mobil, dengan kepala berdenyut dan hati yang lelah, kamu hanya ingin didengar. Ingin mendengar kalimat sederhana yang menenangkan — sesuatu seperti “nggak apa-apa, istirahat dulu ya…”
Tapi yang kamu dapat justru bentakan. Kata-kata yang menusuk tanpa ia sadari.
Dan sejak saat itu, ada bagian kecil di dalam hatimu yang diam-diam retak.
Kini, bertahun-tahun berlalu, peran itu berbalik.
Kamu mendengar dia yang kini sering mengeluh sakit. Dan tanpa sadar, kamu kembali teringat masa itu.
Bukan untuk membandingkan, tapi karena luka lama kadang masih tahu caranya mengetuk pintu ingatan.
Namun lihatlah kamu sekarang…
Kamu tidak lagi marah seperti dulu.
Kamu memilih diam, memilih mengerti, meski hatimu belum sepenuhnya pulih.
Kamu belajar bahwa mencintai seseorang tak selalu berarti dipahami setiap saat. Kadang cinta hanya sebatas kesediaan untuk tetap ada, walau tak selalu terasa hangat.
Mungkin kamu masih sering bertanya,
“Apakah aku benar-benar mencintainya, atau hanya terbiasa bersamanya?”
Tapi tak apa, pertanyaan itu manusiawi.
Karena cinta bukan selalu tentang kepastian, tapi tentang proses memahami yang tak selalu mudah.
Kelak, ketika kamu membaca tulisan ini lagi… Semoga kamu sudah menemukan ketenangan.
Bukan karena orang lain akhirnya berubah, tapi karena kamu sudah belajar berdamai dengan luka, dengan kenangan, dan dengan dirimu sendiri. 🌿
0 komentar:
Post a Comment