๐ Diary
Hari ini bukan tentang berpisah.
Bukan tentang pergi.
Bukan tentang keputusan besar yang harus diumumkan.
Hari ini hanya tentang… melepaskan yang selama ini kupaksa untuk tetap digenggam.
Bertahun-tahun aku berharap semuanya berubah.
Bahwa hubungan ini suatu hari akan terasa ringan.
Bahwa kami bisa saling memahami.
Bahwa luka-luka akan sembuh hanya dengan waktu.
Tapi semakin aku menunggu…
semakin aku kehilangan diriku sendiri.
Aku terbiasa memaklumi.
Aku terbiasa diam.
Aku terbiasa bilang “nggak apa-apa” meskipun sebenarnya sakit.
Dan hari ini…
aku memberanikan diri untuk berkata dalam hati:
“Aku tidak harus terus menunggu seseorang berubah untuk merasa layak dicintai.”
Melepaskan bukan berarti aku membenci.
Aku tidak marah.
Aku tidak dendam.
Aku hanya sadar:
Ada hal-hal yang tidak bisa aku perbaiki sendirian.
Ada cinta yang tidak bisa aku paksa hidup ketika rasanya sudah mati.
Ada hubungan yang lebih banyak menyisakan luka daripada pertumbuhan.
Dan hari ini… perlahan-lahan…
aku mulai menerima kenyataan itu.
Aku mulai membiarkan hatiku berhenti berharap.
Berhenti memegang sesuatu yang tidak lagi menguatkan.
Aku mulai membangun ruang untuk diriku sendiri:
๐ฟ ruang untuk tenang
๐ฟ ruang untuk kembali merasa hidup
๐ฟ ruang untuk tumbuh tanpa rasa takut
Aku tahu perjalanan ini tidak mudah.
Kadang aku akan ragu.
Kadang aku akan sedih.
Kadang aku akan bertanya apakah ini keputusan yang benar.
Tapi aku percaya satu hal:
Melepaskan adalah bentuk mencintai diri sendiri ketika bertahan hanya membuatku hilang.
Hari ini aku tidak menangis.
Hari ini aku tidak lari.
Hari ini aku tidak lagi memaksa diri untuk tetap kuat demi sesuatu yang tidak lagi bisa diperbaiki.
Aku hanya… melepaskan, pelan-pelan.
Bukan untuk mengakhiri hidupku.
Tapi untuk memulai hidup yang selama ini aku tunda.
Dan di akhir hari ini…
aku berbisik pada diriku sendiri:
“Terima kasih sudah berani.
Kamu pantas bahagia.
Kamu pantas dicintai dengan lembut.”
Aku tidak tahu apa yang menunggu di depan.
Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
✨ aku tidak takut.
0 komentar:
Post a Comment