Laman

Aku merantau Bukan Karena Ingin, Tapi Karena Takut Kehilangan Anak-Anakku



Ada satu fase hidup yang sampai hari ini masih jelas teringat di benakku. Beberapa tahun lalu, aku harus mengambil keputusan besar: merantau ke kampung orang, jauh dari tanah tempatku lahir dan dibesarkan. Bukan sekadar beda kota, tapi benar-benar berbeda provinsi.

Saat itu, anakku masih sangat kecil. Yang pertama baru berusia 5 tahun, yang kedua 3 tahun, dan yang bungsu bahkan masih 7 bulan. Bayi mungil yang masih begitu lekat dengan pelukan ibunya.

Keputusan itu begitu berat. Aku harus meninggalkan keluargaku sendiri, orang-orang yang biasanya menjadi tempatku bersandar. Padahal di saat itu, jiwaku sedang remuk karena ujian rumah tangga yang tidak ringan. Luka yang belum sembuh harus kupendam dalam-dalam sambil menatap wajah tiga anakku yang tak tahu apa-apa.

Aku ikut merantau, bukan karena alasan yang indah. Bukan untuk membangun harapan baru, melainkan karena saat itu itulah satu-satunya jalan yang bisa kupilih. Aku sadar, aku belum bisa berdiri sendiri. Aku hanya seorang ibu rumah tangga yang sepenuhnya bergantung secara finansial pada pasangan. Jalan satu-satunya adalah mengalah. Aku ikut, meski hatiku berat.

Namun tinggal di kampung orang, di tanah yang asing, ternyata jauh lebih sulit dari bayanganku. Tidak ada keluarga untuk sekadar diajak bercerita. Tidak ada teman yang benar-benar dekat. Hanya ada aku dan tiga anak kecil, yang semua kebutuhannya bertumpu padaku.

Hari-hari terasa begitu panjang. Pagi dimulai dengan tangisan, rengekan, dan rutinitas yang tak pernah berhenti. Kadang tubuhku lelah luar biasa, tapi hatiku lebih lelah lagi. Malam datang, bukan berarti istirahat. Bayi masih bangun berkali-kali, anak-anak masih butuh perhatian, sementara aku hanya bisa menatap langit-langit kamar sambil menahan air mata.

Dalam hati, aku sering bertanya: sampai kapan aku bisa bertahan? Bagaimana aku harus melewati semua ini sendirian, dengan tiga anak kecil yang menempel padaku tanpa henti?

Tapi setiap kali aku melihat wajah mereka, senyum mereka, pelukan mereka yang polos, hatiku luluh kembali. Aku sadar, inilah tugasku. Mungkin jalanku memang harus melewati semua luka ini. Mungkin kekuatanku lahir justru dari kepedihan yang terus menekan.

Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana aku bisa melewati hari-hari itu. Yang aku tahu, aku terus berjalan. Meski sering kali tertatih, aku tetap melangkah. Aku belajar untuk kuat, meski di dalam hati sebenarnya rapuh. Aku belajar tersenyum, meski air mata sering jatuh diam-diam.

Dan aku terus mengingat satu hal: aku tidak sendiri. Aku punya tiga alasan besar untuk tetap bertahan. Tiga anakku. Tiga malaikat kecil yang membuatku memilih tetap hidup, meski hidup sering kali begitu menyakitkan. 🌸



0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...