Laman

Menjadi Istri: Antara Lelah, Harapan, dan Ketakutan Akan Kecewa

“Kadang aku bertanya, apakah diamku ini tanda kekuatan… atau hanya cara lain untuk menutupi luka yang tak kunjung sembuh?”

Hari ini aku merasa pusing sekali. Badan rasanya berat, pikiran penuh, tapi cucian di rumah tetap menumpuk menunggu disentuh. Seperti biasa, aku bergerak di antara kewajiban yang tidak pernah selesai.

Tapi hari ini berbeda. Aku dan suami sedang sama-sama diam. Bukan karena damai, tapi karena aku sudah tidak mau bicara lagi. Rasanya percuma. Setiap kata yang keluar justru sering berujung sakit hati. Jadi aku memilih diam.

Aku hanya ingin melihat… apakah tanpa aku berkata-kata, dia bisa mengerti sendiri apa yang harus dilakukan untuk anak-anaknya. Namun, aku juga tidak berani berharap terlalu jauh. Karena setiap kali punya ekspektasi, aku takut sekali justru makin kecewa.

Hari ini aku berdoa,
"Ya Allah, aku lelah. Capek hati, capek pikiran. Aku tidak tahu dari semua yang aku lalui, apakah aku ini kuat, atau sebenarnya hanya bodoh? Apakah aku sedang berjuang, atau hanya mengulang luka yang sama?"

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri: apakah aku hanya seorang istri yang suka mengeluh, atau aku memang hanya ingin disayang, dipeluk, dan dimengerti?

Yang aku tahu, hari ini aku benar-benar lelah.


Catatan untuk diriku sendiri 🌸

Tidak apa-apa merasa lelah. Tidak apa-apa merasa hancur. Itu tidak membuatmu lemah, apalagi bodoh. Itu justru tanda bahwa kamu masih manusia—punya hati yang butuh dimengerti.

Kalau dunia terasa sepi dan orang terdekat tak lagi peka, ingatlah ada Allah yang selalu mendengar tanpa sekalipun bosan. Dia tahu isi hatimu bahkan sebelum kamu sempat mengucapkannya.

Besok mungkin akan sama beratnya, tapi besok juga selalu ada harapan baru. Satu hal yang harus kamu pegang: kamu sudah sejauh ini bertahan, dan itu artinya kamu lebih kuat daripada yang kamu kira. 🌷



0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...