Laman

Tentang Komunikasi yang Hilang



Hari ini aku menulis bukan untuk menyalahkan siapa-siapa, tapi untuk menenangkan hatiku sendiri.

Aku sadar, kunci langgeng dalam rumah tangga adalah komunikasi. Bisa bercerita apapun tanpa merasa terbebani. Tapi bagaimana kalau komunikasi itu tidak lagi ada?

Aku pernah berusaha berbicara. Menyampaikan isi hati dengan kata-kata yang kuharap bisa didengar. Tapi nyatanya… suaraku sering tak dianggap. Kata-kataku seolah hanya angin lalu. Dan yang lebih menyakitkan, ketika salah satu keputusan suami ternyata membawa masalah, aku juga ikut menanggung akibatnya.

Rasanya seperti berjalan sendirian, padahal aku tidak sendiri.
Aku merasa tidak dihargai.
Tidak dianggap.
Dan perlahan, aku memilih untuk menjauh.

Apalagi, beberapa kali aku dikhianati. Perselingkuhan yang seolah menjadi bukti bahwa aku tidak cukup berarti di matanya. Luka itu terlalu dalam. Bagaimana aku bisa percaya lagi, jika setiap kali mencoba membuka hati, justru luka lama kembali menganga?

Apakah aku salah kalau aku menjauh?
Apakah aku salah kalau aku tidak percaya lagi?

Aku mencoba jujur pada diriku sendiri: tidak.
Aku tidak salah.
Menjauh bukan karena benci, tapi karena aku sedang melindungi hatiku yang terlalu sering terluka. Tidak percaya lagi bukan karena aku tidak ingin, tapi karena kepercayaan itu sudah berkali-kali dipecahkan.

Yang salah adalah jika aku terus memaksa diriku kuat tanpa mengakui bahwa aku rapuh. Yang salah adalah jika aku menutup mataku pada luka, hanya demi terlihat baik-baik saja.

Aku tahu, untuk membangun kembali rumah tangga, harus ada usaha dari dua pihak. Aku tidak bisa berjuang sendirian. Aku butuh didengar, dihargai, dan diyakinkan. Kalau itu tidak ada, bagaimana mungkin aku bisa kembali percaya?

Hari ini, aku menulis untuk mengingatkan diriku:
Aku berharga.
Perasaanku penting.
Dan aku tidak salah jika ingin menjaga hati sendiri.



0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...