Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Termasuk luka yang datang bukan dari orang asing, melainkan dari orang yang paling kita percaya. Rasanya seperti hati dipatahkan berkali-kali, tapi tetap harus terlihat kuat di depan banyak mata.
Setiap kali mendengar kabar tentang orang lain yang mengalami retaknya rumah tangga, entah kenapa hatiku ikut sesak. Mungkin karena aku tahu rasanya, mungkin karena lukanya masih nyata. Orang bilang memaafkan itu mulia, tapi siapa yang tahu betapa sulitnya melupakan? Bekasnya tetap ada, meninggalkan jejak yang tidak mudah hilang.
Yang paling sering kulakukan adalah menyalahkan diri sendiri. "Kurang apa aku? Apa aku tidak cukup baik?" Tapi di sisi lain, ada rasa marah yang kadang muncul saat melihat wajah orang yang begitu tenang, seolah tak ada kesalahan yang pernah terjadi.
Sampai detik ini aku masih bertahan. Alasannya sederhana: anak-anak. Mereka tidak pernah salah. Mereka adalah alasan kenapa aku menahan semua air mata, kenapa aku memilih diam ketika hatiku ingin berteriak. Tapi kejujuran dalam hatiku berkata: aku lelah, aku ingin menyerah.
Mungkin ada yang bilang aku bodoh karena masih memilih memaafkan berkali-kali. Aku pun sering merasa begitu. Tapi bukankah setiap orang punya caranya masing-masing untuk berjuang?
Aku menulis ini bukan untuk mengeluh. Aku menulis ini agar suatu saat aku bisa membaca kembali dan berkata: “Ternyata aku pernah sekuat itu. Aku pernah bertahan di tengah luka yang ingin meruntuhkan segalanya.”
Dan jika suatu hari aku sudah sembuh, aku ingin melihat tulisan ini sebagai bukti bahwa doa tidak pernah sia-sia. Bahwa air mata seorang ibu selalu punya jalan untuk dibalas dengan kebahagiaan, entah dengan cara apa.
Untuk saat ini, aku hanya ingin terus berdoa. Semoga Allah kuatkan hatiku, luruskan jalanku, dan bahagiakan anak-anakku.
0 komentar:
Post a Comment