Laman

Ingin Dicintai, tak ingin Mencintai


Terakhir kali dikhianati, pernah suatu waktu aku meyakinkan diriku sendiri: aku bisa hidup tanpa cinta.


Aku fikir sudah cukup dengan cinta untuk anak-anakku. Mereka adalah alasan aku tetap berdiri, tetap kuat, tetap tersenyum. Setelah luka yang dulu kuterima, aku mantap berkata pada diriku: tak perlu lagi cinta dari orang lain.

Tapi nyatanya, waktu berjalan. Dua tahun sudah. Dan aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Ada ruang kosong di dalam hati yang diam-diam meminta diisi. Aku ingin dicintai. Aku ingin dimanja. Aku ingin diperhatikan. Aku ingin bisa ngobrol apa saja tanpa takut dihakimi, tanpa rasa malu, tanpa pikiran negatif yang mengganggu.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah ini hanya karena aku lelah? Atau memang hati kecilku sebenarnya masih rindu pada cinta?
Lucunya, seringkali sosok itu datang di mimpiku. Seperti imam yang selama ini kudambakan. Sosok yang membuatku merasa aman, yang mengerti betapa rapuhnya hati seorang wanita. Hari-hariku terasa tenang setiap kali aku membiarkan diriku berkhayal tentangnya.

Apakah aku salah jika ingin dicintai? Apakah ini terlalu lebay?
Entahlah… mungkin memang aku hanya sedang lelah. Tapi satu hal yang kutahu, keinginan untuk dimengerti itu nyata. Dan malam ini aku menulis semua ini, sebagai pengingat bahwa di balik kekuatan yang selalu kutampilkan, ada hati yang masih berhak untuk merasa.


Catatan untuk diriku:
Tidak apa-apa ingin dicintai. Itu bukan kelemahan, itu adalah manusiawi.

0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...